Widjayanti
Senyumnya yang ramah terus mengembang dari bibir tipisnya. Sorot matanya juga berbinar meski usia hampir setengah abad. Dengan balutan gaun warna hitam, dia terlihat anggun petang itu.
Namanya Widjayanti, pengusaha batik dari Semarang ini justru mengepakkan sayap bisnisnya di Jakarta. Bahkan di sana, namanya mulai diperhitungkan.
”Ini baru pulang dari Pekalongan untuk persiapan pameran di Jakarta,” ungkap perempuan itu mengawali percakapan di sebuah kafe di kawasan Simpanglima. ”Sebagian batik saya memang diproduksi di Pekalongan.” Ya, akhir Mei ini, Widjayanti memang didulat Pemerintah Kota Jakarta Barat untuk mempersiapkan batik ”Betawi”.
Maksudnya, beberapa motif batik kreasinya yang menampilkan ragam hias berupa beberapa ikon khas budaya Betawi seperti ondel-ondel. Batiknya itu akan dipamerkan pada saat Pencanangan HUT ke-483 Kota Jakarta nanti.
Apa alasan Widjayanti menggarap Betawi sebagai tema batiknya? Dia bercerita, pada suatu pameran di Bunaken, dia bertemu orang-orang dari Pemkot Jakarta Barat yang ”menantang” dia untuk menciptakan motif batik yang secara langsung mencitrakan budaya Betawi. ”Saya terima saja. Bagi saya ini tantangan. Lagi pula, saya optimistis karena saya tahu dukungan mereka begitu besar,” ujarnya.
Ya, bukan perkara mudah untuk menembus pasar batik di Jakarta yang ketat dengan persaingan. Apalagi Widjayanti pemain baru dalam bisnis ini. Tapi ketika mendapat tantangan itu, dia datang ke ibukota untuk menawarkan dan memperkenalkan batik dengan motif baru. Batik yang motifnya sangat ”bukan Jawa”. Sebut saja, motif ondel-ondel, burung bondol atau tumpal khas betawi.
Hasilnya luar biasa, dukungan sepenuhnya muncul dari Pemerintah Kota Jakarta Barat .
Sejumlah pejabat teras di situ membantu mempromosikan dengan mengenakan batik kreasinya. Ini mendorong semangat Widjayanti untuk menggarap batik tulis yang eksklusif dengan menciptakan batik motif-motif khas betawi.
“Bukan hal mudah karena saya bukan orang Foto: Noni Arnee Betawi. Tapi saya yakin bisa melakukannya. Dan kalau orang Jakarta sudah memberi peluang besar seperti itu, kenapa saya tak menangkapnya?“ Sebagai pemain baru, Widjayanti mengenal batik secara otodidak. Tapi perempuan kelahiran Tegal, 20 Mei 1963 itu seorang pembelajar yang antusias. Ini buatnya memang bagian dari kon sekuensinya telah memilih menjadi pengrajin batik.
***
WIDJAYANTI tahu bahwa batik sudah diakui dunia sebagai satu warisan budaya bukan benda yang dimiliki Indonesia. Ini artinya, menurut dia, batik bukan bukan monopoli daerah tertentu. Benarlah bahwa selama ini ketika orang menyebut batik, orang melulu menyebut Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Lasem, dan belakangan Semarang. Tapi dia tak ingin terjebak pada batasbatas geografis seperti itu. ”Obsesi terbesar saya adalah mengembangkan batik Indonesia,” ujarnya lugas tanpa nada jumawa.
Nah, inovasi pertama kreasi batik Betawi-nya itu akan dijadikan titik tolak pengembangan kreasi batik Indonesia.
”Meski aku orang Semarang, aku kan juga orang Indonesia. Saya juga ingin membuat batik dengan motif-motif khas Semarang. Tapi saya juga ingin bikin batik gong-gong dari Batam, batik dari Lombok, atau batik sesirangan dari Kalimantan,” jelas istri Dekyanto Cokrosewoyo tersebut.
Barangkali, sikap seperti itu bak melawan arus. ”Saya siap. Dalam bisnis dan pengembangan sesuatu, pasti ada dinamikanya. Tak asyik kalau tak begitu. Tak ada tantangannya. Apalagi, banyak sekali orang yang mendukung upaya saya,” ujarnya sembari menyebutkan beberapa teman kuliahnya yang selalu mendukung dan menyemangati usaha perbatikannya antara lain Ellyza C Budi Asri, Evie Roosviati, dan Hj Fatimah.
Apakah menjadi pengrajin batik merupakan keinginan lama Widjayanti? Tidak. Semua berawal dari sebuah keisengan. Perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai sekretaris dan perias pengantin ini mengisahkan perjalanannya bagaimana ia melakoni bisnis yang baru lima tahunan ini dia geluti.
”Kalau sedang tak ada tugas merias, isengiseng saya bikin baju dari bahan batik. Awalnya sih ingin buat baju untuk diri sendiri. Kemudian saya tawarkan teman, ternyata kok payu (laku-Red).
Akhirnya, saya berpikir untuk serius membuat usaha konveksi baju dari bahan kain batik. Apalagi banyak teman yang mendorong saya melakukan itu,” Ketika tekadnya untuk serius membuat konveksi, Widjayanti memulainya dengan batik-batik jaman dulu atau zadul yang saat itu tengah booming di pasaran. Ia membuat baju-baju dari kain batik lawas. Untuk mencari kain batik lama ia rela keluar masuk loakan (penampungan pakaian bekas) di sejumlah pasar induk seperti Pasar Johar dan Bringharjo. ”Sampai blusukan, bahkan mendatangi rumah penjualnya untuk cari kain itu.” Dalam pikirannya, membuat baju dari kain batik lawas pasti akan menghasilkan sesuatu yang unik, eksotis, dan eksklusif. Baju-baju buatannya lalu dikirim untuk dipasarkan di Jakarta melalui temannya. Animo konsumen sangat bagus. Kain yang dibelinya dengan harga berkisar Rp 10 ribu itu laku dijual seharga Rp 300 ribu. ”Pokoknya waktu itu semakin zadul semakin laris,” katanya sambil tertawa.
Saat itulah dirinya mantap menekuni usaha batik dan perlahan meninggalkan profesinya sebagai perias.
Meski pasaran kain printing laris manis, Widjayanti terus mengembangkan produknya dengan menjajal kreasi dari batik tulis. Respons awal terlihat ketika ia diajak pameran oleh sebuah instansi pemerintah ke Batam. Kain batik motif ondelondel kreasinya ludes terjual. Hingga akhirnya ia mendapat tawaran untuk mengembangkan kreasinya itu. Bahkan batiknya dipercaya menjadi salah satu ikon kota Jakarta.
Untuk mengembangkan usahanya, kini ia berkolaborasi dengan anak perempuannya, Ayu Permatasari. ”Anak saya sekarang juga mulai mendesain model pakaiannya untuk batik kreasi saya. Kami saling mendukung,” ujar ibu dua anak ini.
Selain itu, dia juga ingin merealisasikan keinginannya memiliki gerai di Jakarta dan mempunyai pengrajin sendiri yang mengerjakan batik kreasinya. Apalagi investor sudah dia dapatkan untuk memajukan usahanya. ”Selama ini masih pakai pengrajin borongan,” Meski masih terkendala dengan permodalan, kini Widjayanti telah memiliki tiga unit usaha. Batik, konveksi DYKAbatik dan kelom Batik Widjayanti yang lebih menfokuskan pada batik etnik.
Semua hasil produksi batik milik Widjayanti, selain dipasarkan di Jakarta melalui beberapa kenalannya, juga dijajakan di gerai batiknya di Matahari Simpanglima, kantor-kantor pemerintah dan swasta, atau untuk memenuhi pesanan.
Namun, setelah mantap mengembangkan usahanya di Jakarta, Widjayanti justru belum berfokus untuk menggarap pasar Semarang.
”Yang penting sekarang berproses saja. Sebagai pengrajin, saya ini belum apa-apa, bahkan belum layak kalau disebut pengusaha batik. Tapi saya optimistis, bangunan usaha saya ini punya peluang bagus.” (73)
30.05.2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar