9.13.2010

Eksis Dengan "Kue" Kecil

Sri Hartanti Yulianingsih

Bisnis Event Organiser (EO) di Semarang beberapa tahun terakhir ini seperti jamur di musim hujan. Keuntungan dari bisnis ini terbilang sangat menggiurkan meskipun persaingan "kejam" melingkupinya.

Tapi justru bisnis jasa inilah yang dipilih Sri Hartanti Yulianingsih (33) empat tahun terakhir ini. Dia muda, enerjetik dan bisa dibilang orangnya tidak bisa tinggal diam.

Perempuan yang akrab di sapa Tantie ini adalah Direktur CVAqsha Multi Talenta atau lebih dikenal dengan Aqsha Organizer. EO itu memfokuskan pada bidang jasa penyelenggaraan kegiatan pameran atau ekshibisi di mal, outdoor, atau kegiatan yang diselenggarakan instansi pemerintahan di beberapa daerah di Jateng.

Fokus pada kegiatan pameran memang tidak dibanyak dibidik EO-EO besar di Semarang. EO yang secara berkala menyelenggarakan event reguler dianggap lebih merepotkan dan keuntungannya yang kecil dengan ritme kerja lebih berat.

Tapi tidak demikian bagi Tantie. Ia justru menangkap peluang ini karena dia anggap lebih menguntungkan. Dalam satu bulan dia bisa menyelenggarakan di beberapa tempat. Tantie pun merasa “feeling“-nya lebih bagus jika fokus pada kegiatan pameran dibanding menyelenggarakan acara dengan skala besar. Kemantapan ini sebenarnya tidak ia dapatkan begitu saja.

Ilmu yang diperolehnya selama bekerja sebagai koordinator marketing di PRPPdia aplikasikan. Aqsha lebih memilih event reguler atau bulanan dibandingkan menggelar yang besar seperti yang dilakukan EO-EO besar lain. Menurut Tantie, dari sisi bisnis lebih menguntungkan dengan spekulasi yang relatif lebih kecil.

Persaingan ketat bisnis EO inipun mengharuskan Tantie jeli mencari peluang. Tanti menggarap pangsa pasar yang tidak banyak dilakukan para pebisnis EO. “Jumlah EO di Semarang mencapai ratusan, tapi kalau kita lihat lagi sebenarnya tidak banyak yang mampu eksis.“

Menggarap event reguler ini menjadi salah satu trik Tantie agar tetap bertahan dari ketatnya persaingan bisnis. Menurutnya jalur itu ditempuh karena selama ini modalnya masih kecil. Ibaratnya, dia hanya bermain-main dengan “kue“ yang kecil saja. “Biar kecil tapi terus, jangan sampai untung kegedean habis itu drop.“

***
TANTIE mengatakan, persaingan EO pada Foto: Noni Arnee umumnya “kejam“. Maksudnya, sebagian besar orang yang berkecimpung di bidang ini cenderung individualistis dan lebih mementingkan nama sebagai bentuk branding. Dan kondisi inilah yang sebenarnya sangat dihindari Tantie. “Biasanya tak mau bekerja sama, tak mau nge-sub. Banyak yang gengsi. Padahal, sebenarnya tidak perlu idealis begitu.“

Kondisi seperti itu kemudian dibaliknya. Tantie justru sering menawarkan kerja sama sesama EO biar lebih kuat. “Tapi mereka sering khawatir namanya akan tenggelam dibalik nama OE yang mengajaknya bergabung. Padahal kalau tak dapat eventsendiri, ya kan bisa ikut eventorang.“

EO juga sering “banting harga“ atau justru block di suatu tempat misalnya di mal. Mereka menjual stan ke EO lain dengan memasang tarif harga yang membumbung sehingga EO yang bermodal kecil tidak bisa masuk. “Stan di mal besar yang strategis biasanya sudah diambil EO besar, baru kemudian mereka jual lagi kalau ada event. Itu yang merepotkan,“ Tapi menurutnya, hal itu bukan masalah besar.

“Bisnis EO itu bisnis kepercayaan. Jadi komitmen harus dijunjung tinggi. Itu yang bikin kerja sama dengan klien jadi langgeng dan bertahan.“

Kepercayaan klien sebagai salah satu modal utama mengharuskan ia terus menjaga hubungan baik dengan relasi yang pernah bekerja sama. “Ini sangat penting. Makanya klien dan relasinya kita anggap seperti sahabat sendiri.“

Aqsha Organizer pun banyak dipercaya untuk menyelenggarakan berbagai event. Di antaranya, Pameran Lawangsewu, Festival Pandanaran, dan beberapa event hari jadi sejumlah kota.

***
PEREMPUAN kelahiran Purwokerto, 24 Juli 1977 itu mengenal dunia per EO-an dimulai ketika lulus kuliah pada 2000. Tantie bekerja sebagai marketing di Indofilm yang aktif menggelar pameran di PRPP. Hingga akhirnya ia keluar dan memilih menjadi pegawai di BUMD milik Pemprov Jateng ini sebagai marketing.

Tapi seiring berjalannya waktu, Tantie merasa ritme pekerjaan yang dia lakoni tidak dinamis. Ini karena PRPPhanya menyelenggarakan event tahunan. Walhasil, banyak waktu efektif yang terbuang sia-sia.

Dengan dukungan para pengusaha besar di Semarang dan Muhammad Nopran (40), laki-laki yang dinikahinya tahun 2002 silam. Ia memutuskan berhenti dari tempat yang membesarkan namanya dan memberinya ilmu itu. “Justru mereka yang ngompori untuk bisa maju, akhirnya saya putuskan untuk keluar dari pekerjaan dan mulai merintis usaha ini.“

Tentu saja usaha yang dirintis ini juga tidak jauh dari apa yang sudah dilakukan keseharian.Bisnis EO dipilihnya. Aqsha Organizer diawali sekitar tahun 2006, selepas ia “keluar“ dari tempat yang mengenalkannya pada banyak relasi. “Meski berat tapi harus mengambil sikap. Saya ingin maju dan salah satunya dengan keluar dari pekerjaan.“

Merintis dari nol dengan modal yang dibilang kecil untuk ukuran membuat sebuah bisnis EO tak membuatnya berkecil hati. Meski tidak dimungkiri bahwa kedekatannya dengan pebisnis di Semarang sedikit banyak menguntungkan dirinya dalam merintis bisnis EO-nya. “Saya paling tidak bisa utang budi sama orang. Modal kecil, jadi pintarpintarnya mengatur strategi. Biasanya kalau tidak mampu bayar di muka, ya di dikasih persekot dulu,“ ujar perempuan berkacamata ini.

Kedekatan emosial dengan PRPPmembuatnya hingga kini masih sering diminta PRPPuntuk membantu jika ada event besar seperti pameran pembangunan yang digelar setahun sekali.

Aqsha Organizer terus eksis karena kepiawaian Tantie mengatur stategi dalam setiap konsep pameran yang digelarnya. Membangun intuisi harus memperhatikan beberapa hal, di antaranya waktu dan tempat penyelenggaraan event.

“Tempat strategis, tanggal muda itu pasti akan laris. Tapi kalau konsep event jelek, ya peserta pasti sambat,“ Klien banyak puas ikut pameran yang digawangi Aqsha Organizer. Bahkan juga merasa hoki dan mendapat keuntungan luar biasa.
“Katanya aku bawa keberuntungan buat mereka karena kalau ikut pameranku mereka selalu untung,“ ujarnya terkekeh.

Tapi Tantie membantah. Menurutnya, semua event yang dijalankan akan berhasil jka mempunyai persiapan matang dan selektif agar peserta bisa menikmati keuntungan.
Di luar itu, tentu saja Tantie adalh perempuan yang sibuk. Tapi Kesibukan seabreknya tak membuat dirinya melupakan suami dan kedua buah hatinya, Keisha Dewi Aqshana (8) dan Muhammad Fadli Arfah (4). “Kami lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas.

Sesibuk apa pun, malam hari juga tetap sama anak,“ ujar perempuan yang membiayai kuliahnya dari menyanyi lagu country di kafe-kafe ini.
Karena kesibukan, ia juga tidak mengkhususkan hari libur sebagai hari bersama keluarga. Pasalnya event-event-nya justru sebagian besar justru diselenggarakan pada hari libur.

“Jadi bekerja sambil bermain dengan mengajak anak-anak ke pameran.“
Tapi karena anak-anak sering ditinggal, mereka jadi lebih mandiri. “Kebetulan sekeluarga suka jalan. Jadi kalau ada waktu luang, kami pasti ke luar kota.“ (62) NONI ARNEE

Bebrayan-25.07.2010

Tidak ada komentar: