9.13.2010

Liburan Tanpa Orang Tua

Sudah lima hari Lutfi (7) mengalami kebosanan. Pasalnya, bocah kelas 1 SD ini hanya menghabiskan liburan di rumah bersama pembantunya. Tidak banyak kegiatan yang dilakukan selain menon ton televisi dan sesekali bermain dengan Dimas (8), teman sebaya yang tinggal di sebelah rumah.

Ma, bosan di rumah. Main ke tempat Mas Alfin, ya? Please…,” rengek Lutfi pada ibunya sebelum wanita itu berangkat ke kantor.

Mas Alfin adalah sepupunya yang tinggal di Yogyakarta. Anna, sang ibu, menjawab, ”Tapi Mama harus bekerja dan tak bisa menemanimu liburan di tempat Mas Alfin.” Perempuan single parent itu tentu saja tak bisa melepas anaknya berlibur tanpa kehadirannya, meskipun itu di rumah kakak perempuannya sendiri. Tapi Lutfi tetap pada permintaannya meski tak ditemani mamanya. Meski awalnya kurang yakin, Anna akhirnya ”melepas” sang anak ke Yogyakarta. Itu memang liburan pertama Lutfi tanpa orang tua.

Hanya saja, ada hal positif yang bisa diambil Anna. Dia memberi kesempatan si anak belajar mandiri dan bertanggung jawab. Tentu saja, dia tak melepas begitu saja. Dia telah membekali sang anak semua kebutuhan yang mungkin diperlukan selama liburan. Dan selama berjauhan itu, Anna aktif menelepon untuk mengetahui keadaan sang anak.

Kalau liburan di rumah tanpa bisa ditemani orang tua membuat Lutfi bosan, tidak begitu halnya dengan Lucky (12) dan Happy (5).

Sedari kecil, mereka sudah terbiasa ditinggal bekerja orang tuanya. Bahkan sering beberapa hari mereka ditinggal di rumah bersama pembantu lantaran kedua orang tuanya ke luar kota untuk urusan pekerjaan.

”Yang penting di rumah ada makanan, PS, atau laptop. Itu sudah cukup buat mereka merasa asyik-asyik saja di rumah,” ujar Winda, ibu mereka.

Ya, tentu saja anak-anak butuh liburan setelah suntuk belajar di sekolah sekian lama.

Sayangnya, waktu liburan mereka sering tidak pada waktu yang sama dengan liburan orang tua mereka. Ini yang acap kali memunculkan persoalan tersendiri. Bagi orang tua yang bekerja, mengambil cuti juga bukan perkara mudah. Itu juga yang dialami Winda Sebenarnya perempuan itu ingin bisa berada di antara anak-anaknya ketika mereka libur sekolah. Dia tak ingin liburan kedua anaknya hanya dihabiskan di rumah saja.

”Saya sempat cari-cari cara untuk mengisi liburan mereka. Inginnya sih mereka punya aktivitas postif. Misalnya, summer camp. Maklum, kalau di rumah Lucky dan Happy kebanyakan main PS atau nonton televisi,” keluh Winda.

***

YA, secara umum, bagi anak-anak, liburan sekolah adalah saat yang bisa menyenangkan. Mereka membayangkan bisa menghabiskan liburan menyenangkan di tempat lain alias pergi dari rumah. Namun bagaimana jika kedua orang tua bekerja di luar rumah dan tak mendapatkan izin cuti? Lagi pula, tak semua anak bisa seperti Lutfi yang mampu mandiri liburan tanpa kehadiran orang tuanya. Begitu pula, tak semua orang tua seperti Anna yang bisa melepas anaknya begitu saja.

Benar, idealnya antara orang tua dan anak, ada perencanaan yang baik untuk menentukan waktu liburan bersama keluarga sehingga tidak perlu ada yang mengorbankan kepentingan atau tanggung jawab. Namun, sudah tentu waktu libur anak yang relatif panjang tidak akan bisa ”nyambung” dengan orang tua yang bekerja.

Pemerhati anak Nila kusumaningtyas, mencoba memberikan alternatif bagaimana mengelola kegiatan terutama pada waktu orang tua tidak mempunyai cukup waktu libur bersama. ”Orang tua harus banyak akal dan cerdas untuk mengantisipasi kejenuhan anak di rumah pada waktu musim liburan seperti sekarang ini.”

Itu agar anak-anak tetap dapat menikmati liburan walaupun orang tuanya sibuk. ”Yang penting, merencanakan jauh hari dan disesuaikan dengan keinginan anak,” imbuh perempuan yang menjadi Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Jateng tersebut.

Menurutnya, ada beberapa alternatif yang bisa diterapkan para orang tua yang bekerja.

Menikmati liburan dengan menginap atau bersama keluarga yang masih ada hubungan keluarga bisa menjadi alternatif pertama. Orang tua tidak perlu khawatir melepas anaknya untuk menikmati liburan. Akan lebih menyenangkan lagi, jika di antara sepupu ada teman yang sebaya seperti yang dilakukan Lutfi.

”Menginap di rumah paman, bibi, atau nenek/kakek dalam jangka waktu tertentu bisa menjadi sesuatu yang mengasyikkan karena berada di lingkungan lain yang berbeda dengan keseharian sang anak. Selain bisa mengusir kejenuhan, anak-anak juga belajar melihat kehidupan lain.” Craa lainnya adalah mengisi liburan dengan mengembangkan diri. Artinya, liburan anak diisi dengan kegiatan bermutu yang disesuaikan dengan bakat anak. Misalnya menghabiskan liburan dengan mengikuti kursus singkat yang kini marak diselenggarakan berbagai lembaga pendidikan. Sebeut saja pelatihan menggambar, menari, sulap, atau musik.

”Namun sebaiknya diupayakan agar anakanak menikmati kursus dengan situasi santai sehingga tidak merasa terbebani. Efek positifnya, jika si anak tertarik maka kursus itu bisa dilanjutkan setelah liburan.” ***

NILA menambahkan, bahwa rekreasi juga tidak harus dilakukan pada tempat yang jauh, tetapi bisa dilakukan di sekitar tempat tinggal. Anak-anak bisa cukup ditemani pembantu atau baby sitter yang sudah dipercaya, sehingga tidak khawatir melepas anak-anak berekreasi sendiri.

Soal bagaimana cara supaya anak tidak bosan bergantung yang mengemasnya. Dengan begitu, selain rekreasi, anak-anak pun secara otomatis akan menambah pengetahuan.

Pada kenyataannya, banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya cenderung tidak terlalu memperhatikan kebutuhan anak.

Secara psikis ini bisa mempengaruhi perkembangan anak. ”Secara psikologis anak bisa terganggu karena tidak ada tempat untuk berdiskusi dan berbagi,” ujar direktur Pusat Unggulan PAUD Pemprov Jateng ini.

Ini harus secepatnya disadari oleh para orang tua. Perlu adanya penyadaran ke orang tua mengenai kebutuhan anak mereka yang sedang tumbuh dan berkembang. Khususnya anak pada usia rentan, yakni usia prasekolah hingga sekolah menengah pertama.

Nila juga mengungkapkan, jika memang orang tua terlalu sibuk dan mengalami kesulitan untuk mengatur jadwal kegiatan anak, maka orang tua bisa meminta saran kepada guru atau pihak ketiga untuk membantu. ”Sebaiknya ada pihak ketiga yang ikut terlibat. Bisa guru atau keluarga.” Jadi untuk menghindari kekacauan dalam mengisi liburan ini, orang tua perlu bersikap lebih cerdik dalam mengatur strategi untuk kebutuhan anak-anak mereka. Kedua orang tua bisa berdiskusi dengan buah hati apa yang terbaik buat anak. Dan sangat disayangkan jika anak tidak memanfaatkan waktu liburan mereka dengan maksimal.

Bebrayan-04.07.2010

Tidak ada komentar: