9.13.2010

Sekolah Seksualitas Untuk Remaja

Dian (16), mendatangi seorang psikolog ditemani Sylvia, ibunya. Siswi kelas 1 SMAitu mengetahui kalau dirinya hamil 4 bulan setelah beberapa hari lalu periksa ke dokter karena desakan sahabatnya ketika melihat perut Dian "membelendung".

“Ibu tidak tahu kalau anaknya hamil?“ Dengan jujur Sylvia mengaku bahwa dia terlalu sibuk bekerja dan kurang memperhatikan anak dan pergaulannya. “Saya pikir tubuh Dian berubah karena dia kan masih dalam masa pertumbuhan,“ jawab Sylvia.

Tak jauh beda dengan pengakuan mamanya, Dian tidak menyadari perubahan yang terjadi dengan dirinya, terutama di bagian perut yang semakin membesar. Dia bahkan juga tidak paham siklus menstruasinya.

“Nggak tahu, kirain sakit apa. Kemarin periksa dan dokter bilang kalau aku hamil,“ ujarnya dengan muka sedih.

Banyak ibu seperti Sylvia yang pusing memikirkan kelakuan anaknya. Mereka merasa kehamilan di luar nikah adalah aib sehingga berakhir dengan memaksa anaknya melakukan aborsi. Atau “menyembunyikan“ anaknya di suatu tempat untuk menutupi kondisi sebenarnya. “Pokoknya diaborsi, atau pergi dulu biar keluarga tidak malu,“ kata Sylvia geram.

Beda dengan Dian, Nurul siswi yang baru lulus SMAdi Yogyakarta ini justru tertarik untuk bergabung di Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi yang ada di kawasan Kota Gede, Yogyakarta. Dia ingin tahu hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas dan reproduksi.
“Kalau di rumah seks dianggap tabu dan nggak penting. Di sekolah pun materi organ reproduksi tidak dijelaskan detail,“ ungkap Nurul.

Pada awalnya ia risih dengan materi yang diberikan sekolah seksualitas tersebut. “Kaget dan terkejut. Apalagi ada alat peraganya, kok benar-benar nyata. Misalnya pengenalan organ reproduksi, praktik pemeriksaan payudara atau cara pemakaian alat kontrasepsi kondom dengan alat peraga. Banyak hal dipelajari di sini.“

Nurul tentu saja mendapatkan pengalaman baru yang tidak didapatkan di sekolah pada umumnya. Pengalaman mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana mengenali dan memperlakukan tubuhnya dalam kontruksi sosial maupun agama. Walhasil, dia mempunyai kontrol dan otoritas terhadap tubuhnya sendiri, dan lebih bijak mengambil keputusan yang berhubungan dengan seksualitas.

***
SEKOLAH itu digagas oleh Samsara, organisasi nonprofit di Yogyakarta yang berfokus pada isu aborsi. Menurut Inna Hudaya, sang Direktur, pendidikan seksualitas memang sudah waktunya diberikan secara terbuka. “Ini contoh sekolah khusus yang dirancang untuk meningkatkan akses terhadap informasi pengetahuan dan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi, seksualitas, gender dan hak-hak perempuan.“

Gagasan pendirian sekolah dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian ibu, aborsi, HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang semakin meresahkan karena paradigma tradisional masyarakat yang menganggap permasalahan kesehatan reproduksi dan seksualitas sebagai topik yang tabu dan terbatas bagi kalangan tertentu. Akibatnya, pengetahuan tentang itu sangat minim.

Di sekolah ini tidak hanya diajarkan kesehatan seksual dan reproduksi tapi juga hak, kontruksi sosial, agama, dan budaya. Yang menarik, siswanya diajak “telanjang“ dalam arti membuka pikiran untuk menerima pelajaran sebagai sesuatu yang positif. Saat diajarkan mengenali tubuh, misalnya, dengan penyebutan organ reproduksi dengan nama yang sebenarnya. Ada juga materi pemeriksaaan kesehatan payudara, vagina dan serviks, pengetahuan mengetahui pola-pola perubahan tubuh, siklus menstruasi, hingga metode-metode kontasepsi. Yang jelas tidak ada kata tabu.

Dengan semakin terbukanya akses ter hadap informasi dan pendidikan mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi, paling tidak paradigma tradisional di masyarakat dapat berangsur-angsur berubah. Dan yang penting kehamilan tidak diinginkan atau aborsi seperti yang terjadi pada Dian dapat ditekan.

***
KEHAMILAN tidak diinginkan kini menjadi fenomena di kalangan pelajar. Ini menimbulkan permasalahan yang kompleks.
Salah satunya tentu saja terkait erat dengan seksualitas dan kesehatan reproduksi yang belum dipahami remaja. Mengapa mereka begitu rentan jatuh dalam masalah yang pelik ini?

Salah satunya, faktor derasnya arus informasi yang tak terbendung lagi. Buku, internet, film, teman, dan yang berhubungan dengan seks, mudah sekali diakses meski belum tentu benar dan lengkap. Akibatnya remaja seringkali mengadaptasi kebiasaan tidak sehat termasuk perilaku seksual berisiko tinggi.

Fakta mencengangkan bisa ditilik dari survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia, menyebutkan 97 persen remaja pernah menonton atau mengakses pornografi. 62,7 persen pernah melakukan hubungan badan, 21 persen remaja telah melakukan oborsi. Serta 93 persen remaja pernah berciuman.

Sedangkan data WHO menunjukkan, jumlah kasus pengguguran kandungan atau aborsi di Indonesia mencapai 2,3 juta per-tahun. 30 persen dilakukan remaja.
Pencetus dari masalah ini kadangkala justru datang dari keluarga seperti ketidakharmonisan, sikap orang tua yang menabukan seks, serta lingkungan. Orang tua menjadi sulit berbicara mengenai seksualitas. Menyinggung masalah seks sedikit saja dianggap melanggar etika kesopanan, vulgar atau malah disambut dengan “bentakan“.
Bisa jadi orang tua menganggap tidak perlu diajarkan karena belum waktunya. Toh nanti akan mengetahui sendiri. Ini justru menjadikan mereka penasaran dan kemudian mencoba-coba. “Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali,“ ujar seksolog dr Boyke Dian Nugraha. Minimnya pengetahuan remaja tentang seks sudah jelas dapat kita lihat di atas, bagaimana Dian bahkan tidak mengetahui siklus menstruasinya dan tidak menyadari akibat melakukan hubungan seksual pranikah.

Seksualitas tentu bukan sekadar perkara hasrat dan hubungan seksual, namun berhubungan pula dengan tata nilai, keyakinan, pengetahuan, dan lingkungan. Jadi jelaskan dengan sederhana dan logis sesuai tingkat usia mereka dan dalam bahasa baik.(62) NONI ARNEE

Dimuat di rubrik Bebrayan harian Suara Merdeka,06.06.2010

Tidak ada komentar: