Mata Lea memerah. Bulir air mata mendadak menetes dari pipi perempuan berparas cantik itu. Dengan sedikit terisak, ia bercerita kepada Dinda, teman baiknya.
“Aku sudah tiga hari ini ga omongan sama Dio. Kesel banget kalau diajak bicara selalu tidak nyambung. Kayaknya yang diurusin cuman dirinya sendiri dan mobilnya,” keluh Lea.
Sudah tak terhitung lagi Lea menumpahkan curahan hatinya kepada Dinda. ”Dio sepertinya juga tidak perduli dengan aku dan anaknya. Pisah mungkin jalan terbaik,” lanjut Lea. Rumah tangga Lea (36) memang tidak sesukses karir nya sebagai supervisor di sebuah perusahaan ternama. Ia seringkali bertengkar dengan suaminya. Kesibukan keduanya ternyata tak mampu menyatukan keharmonisan rumahtangga yang sudah dibinanya 12 tahun.
Lea mengaku ingin berpisah karena merasa tak mampu lagi memendam ”sakit hati” dan memaklumi perilaku Dio suaminya yang lebih sering berada di ”luar” daripada menghabiskan waktu bersama keluarga.
”Sabar.. kalian berdua kan sangat sibuk, mungkin kurang komunikasi. Sebaiknya dibicarakan bagaimana komitmen kalian dalam membina rumah tangga. Jangan sampai berlarut-larut.” saran Dinda mengingatkan sahabatnya yang seringkali ”meledak” itu.
Sementara, sudah tiga tahun terakhir ini, setiap pukul enam pagi, Murni (64) selalu menyusuri taman kota tak jauh dari rumahnya. Kedua tangan rentanya mendorong kursi roda Darto (67), laki-laki yang sudah menikahinya selama 44 tahun itu. ”Menemani bapak menghirup udara segar, biar pikiran fresh terus,” ujar Murni.
Kebiasaan itu ia lakukan sejak Darto menderita lumpuh akibat stroke. Dengan sabar ia setia menemani dan merawat suaminya yang terkenal flamboyan dan memiliki banyak pacar saat ia masih bugar.
”Siapa lagi yang akan merawat kalau bukan istrinya. Siapa tahu kondisi bapak akan membaik,” kata perempuan yang selalu ”mengalah” ini beralasan. Kesetiaan Murni sebagai seorang perempuan dalam kultur jawa rupanya telah meluruhkan perilaku ”Don Juan” Darto yang sering membuat setiap perempuan dimanapun sakit hati.
***
Perkawinan merupakan wujud menyatunya dua sejoli ke dalam satu tujuan yang sama bernama kebahagiaan. Namun, jalan menuju kebahagiaan tentu saja tak selamanya mulus. Banyak hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah-tangga.
Sebuah survei menyebutkan sebanyak 72 persen wanita pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan pasangan mereka pada titik tertentu. Walaupun demikian, seperti dilansir Reuters, sebanyak 71 persen berharap dapat bersama suami mereka sepanjang sisa hidup mereka.
Terlepas apapun alasannya, dua hal yang sangat bertentangan ini juga dialami Lea dan Murni dalam membina bahtera rumahtangga.
Dra. Sri Mariati Deliana M.si, psikolog dari Unnes membenarkan bahwa pasangan paling bahagia sekalipun bukan berarti tidak memiliki saat-saat menyebalkan dalam pernikahan.
Namun menurutnya, semua hal itu bisa teratasi jika masing-masing pasangan bersedia kembali pada jalur pengikatan janji untuk hidup bersama sesuai norma-norma yang berlaku dengan satu tujuan, yakni untuk mencapai kebahagiaan. ” Pernikahan langgeng tidak akan terjadi begitu saja tanpa usaha dari kedua belah pihak.”
Deliana mencoba memberikan gambaran bagi setiap pasangan bagaimana mengantisipasi supaya mahligai rumah-tangga tidak goyang dan menjaga keutuhan rumah tangga hingga ke garis finis.
”Komitmen adalah kunci utama,” kata dosen psikologi Unnes ini. Artinya setiap pasangan harus menghargai komitmen atau kesepakatan yang telah dibuat bersama. Bahkan sebenarnya jika dilihat kebelakang, komitmen untuk membina rumahtangga semua tertuang dalam semua agama.
” Misalnya, kalau kita perhatikan dibuku nikah saja itu ada ketentuan yang mengatur soal bagaimana pasangan menjalani rumahtangganya tanpa ada keduabelah pihak yang merasa dirugikan.”
Maksud Deliana adalah, salah satu pihak baik perempuan maupun laki-laki tidak ada yang memaksakan keinginan yang membuat pasangan merasa tidak nyaman. Dalam perkawinan harus ada kesamaan, meski keduanya mempunyai posisi dan tanggungjawab yang berbeda.
Kondisi itu hanya bisa tercapai jika keduanya mempunyai cinta. Karena Cinta merupakan energi yang dahsyat untuk mengembangkan dan menyempurnakan kepribadian pasangan. Cinta akan membantu membuang semua rintangan yang muncul di tengah perjalanan rumah tangga. ”Perkawinan yang dibangun tanpa landasan cinta sebetulnya adalah omong-kosong belaka. Meski bukan satu-satunya syarat, cinta sangat berperan dalam membangun perkawinan yang langgeng.” Maka, cinta dalam perkawinan adalah sesuatu yang mutlak dan harus.
Dengan begitu kata Deliana maka akan muncul tanggungjawab dari kedua belah pihak untuk tetap menyatukan mereka. ”Orang yang bertanggungjawab tidak akan mengingkari hal yang sudah disepakati dengan cara apapun. Dan itu hanya dimiliki oleh orang yang sudah ”matang” dari sisi pemikiran.”
***
Namun menurutnya apa yang terjadi dalam sebuah perkawinan adalah sesuatu yang sangat komplek dengan berbagai persoalan yang dialami masing-masing pasangan.
Seperti yang terjadi pada Lea dan Dio, mungkin saja keputusan untuk mengakhiri biduk rumahtangganya itu ia anggap sebagai keputusan terbaik. Tapi bisa juga keputusan itu diambil karena dia belum menunjukkan kedewasaannya dalam berpikir. Meski usia perkawinan menginjak 12 tahun.
Pasangan yang belum matang akan cenderung menuju ke egosentris dan semaunya sendiri. ” Tidak mau sharing dan tidak menerima kritik dari pasangan itu akan berakibat fatal.”
Deliana menjelaskan, pernikahan yang dibangun dalam budaya akan lebih bertahan. Seperti yang dialami Murni. Dimana sebagian besar laki-laki akan lebih dominan karena pengaruh budaya patriarki. Perempuan berada dipihak yang mengalah terus, meski sebetulnya tidak nyaman. ”Ya sudah diterima saja, perempuan selalu seperti itu.”
Itu keputusan yang diambil Murni. Ia masih tetap setia bertahun-tahun mendampingi Darto meskipun ia mungkin sakit hati mengetahui suaminya yang sering bergonta-ganti pacar.
Meski pernikahan semacam itu menurut Deliana adalah pernikahan tidak sehat. Tapi kesetiaan Murni hingga usia mereka menginjak senja. adalah bukti dari sebuah komitmen yang bertanggungjawab terhadap pilihannya.”Perempuan yang selalu mengalah tidak akan merasa nyaman, meskipun dari luar terlihat baik-baik saja.”
Karena itu, jangan terlalu banyak menuntut pasangan yang hanya akan berujung pada kepentingan pribadi, sehingga tidak akan mampu menambahkan kedewasaan hubungan. Tetap bersyukurlah dalam setiap menghadapi kekalutan hidup. Sikap untuk belajar memberi yang terbaik untuk pasangan, akan semakin memperbesar kesetiaan cinta kepada pasangan.
Kesetiaan bukan merupakan suatu pilihan, tapi merupakan suatu keputusan. Jadi ketika menyatakan untuk setia, berarti harus menjaga keputusan yang telah dinyatakan itu. Tentu saja selain cinta, butuh lebih dari sekedar komitmen untuk menjalani sebuah pernikahan di saat cinta kita mulai luntur terhadap pasangan kita, disaat godaan dan masalah datang, dibutuhkan kedewasaan dan kebijakan untuk berpikir dan bertindak.
Karena mencintai adalah memberi cinta dengan ketulusan, tidak ada terselip di dalamnya, imbalan ataupun pamrih demi keuntungan pribadi. Timbal balik dari pasangan akan datang dengan sendirinya bila Anda tulus mencintainya. Dari rasa ikhlas dan tanpa pamrih, akan mampu menjaga hati untuk tetap setia. (NONI ARNEE)
Bebrayan-18.07.2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar