9.13.2010

Mendobrak Paradigma Keperawatan

Meidiana Dwidiyanti SKp Msc

Pengalaman selama tujuh tahun menjadi seorang perawat di rumah sakit mendorong perempuan kelahiran Purwokerto ini bertekad memperjuangkan nasib perawat. Keinginan itu memuncak ketika dia menjadi pengajar program studi Ilmu Keperawatan FK Undip Semarang.

Meidiana Dwidiyanti SKp Msc, begitulah nama perem puan kelahiran Purwokerto, 15 Mei 1960 ini. Dia terma suk salah seorang dari sedikit orang yang mau mendobrak paradigma lama fungsi perawat. “Kalau kita melihat kenyataan, banyak situasi menyakitkan dialami perawat,“ ujar dia mengawali perbincangan di ruang kerjanya.
Maksudnya adalah fungsi perawat sebagai tenaga pelayanan kesehatan yang cenderung tidak memiliki peran dan terabaikan. Selama ini pelayanan yang dilakukan perawat hanya pada tugas melayani pengobatan, dan belum berorientasi pada pasien.

Lebih dari seperempat abad berkecimpung dalam Ilmu Keperawatan membuat Bu Mei, sapaan akrab perempuan berkerudung ini, mengetahui dan memahami seluk-beluk perawat. Dan dia beranggapan ilmu itu masih sulit berkembang karena tidak mendapat dukungan banyak pihak.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena perawat masih belum memiliki ruang yang cukup untuk mengembangkan ilmunya di rumah sakit. Padahal kalau ditilik kembali fungsi perawat sebenarnya lebih kompleks.

“Perawat terlalu disibukkan oleh rutinitas pengobatan pasien. Padahal, pasien memerlukan dampingan agar mendapat kekuatan ketika harus memutuskan sesuatu,“ jelasnya. Situasi tidak mendukung itu memmbuat peran perawat lebih diposisikan sebagai ”kanca wingking” bagi dokter.

”Sebenarnya perawat adalah tenaga profesional yang bisa menjadi garda depan pelayanan kesehatan. Tidak hanya sebagai pembantu dokter, tapi juga kader kesehatan.” Fenomena perawat yang ”terperangkap” dalam sistem rumah sakit atau lembaga pelayanan kesehatan yang tidak baik dan ketimpangan antara pendidikan dan dunia kerja itu yang kini tengah diperjuangkan nenek dua cucu ini.
“Paradigma itu harus dirombak. Sebetulnya dalam pendidikan para perawat atau petugas kesehatan sudah dibekali hal itu, namun ketika bekerja ilmunya hilang karena sistem dan rutinitas,“ imbuh dosen yang juga menjadi anggota majelis Kode Etik Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jateng.

***
SEMANGAT untuk mendorong perawat sebagai seorang kader kesehatan inilah yang kemudian Bu Mei cetuskan dalam ide-ide segar.
Berbagai terobosan inovatif dilakukan untuk memperbarui fungsi perawat sebagai profesi yang nantinya diharapkan mempunyai standardisasi dan sertifikasi seperti dokter atau pun profesi lain.

Lantas bagaimana dia melakukannya? ”Caranya harus dengan melakukan aksi,” jawabnya tegas. Dia memulai dari kampus tempatnya mengabdi. Alumnus Master of Science in Health Care Practice, John Moores University, Liverpool, London tersebut ingin Undip Semarang memiliki pusat pengembangan holistic nursing.

”Di awali dengan mengevaluasi visi-misi di Ilmu Keperawatan FK Undip dan melakukan studi banding di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Thailand menjadi arah pengembangan di sini.” Dia melakukan berbagai proyek dengan melibatkan mahasiswa Ilmu keperawatan Undip.

Di antaranya, program Trauma Healing untuk Gempa Padang pada tahun 2009 lalu. Dia mengajak mahasiswa untuk membantu memulihkan kondisi psikis dan mengajak korban gempa bangkit kembali melalui metode terapi. ”Hasilnya sangat signifikan. Program itu dilanjutkan Unan Padang.” Dia juga menginisiasi program home care, sebuah terobosan program ”jemput bola” pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin perkotaan dengan mendatangi pasien sebagai bagian dari service learning. ”Kegiatan sosial sebagai metode pembelajaran mahasiswa sebelum terjun kedunia kerja. Dan ini sebenarnya bisa dimanfaatkan pemerintah, lho,” ujarnya.

Dan yang kini tengah diuji coba adalah program sistem penanggulangan gawat darurat terpadu, di mana program ini berfokus pada peran perawat sebagai kader kesehatan dan edukator dengan memberi pengetahuan dan ketrampilan pada first respondent saat ”pre-hospital”. Tujuannya agar masyarakat bisa mengatasi diri sendiri atau membantu orang lain jika butuh pertolongan sebelum dibawa ke rumah sakit. Di luar negeri metode itu sudah banyak diaplikasikan.” Dia juga mengawali bekerja sama pihak ketiga dan puluhan rumah sakit di Indonesia agar bisa diakses mahasiswa untuk menerapkan ilmu dan program pelayanan kesehatan mereka. Salah satunya, kerjasama dengan Rumah Sakit Moewardi Solo untuk penanganan penyakit kronis melalui emocional freedom theraphy.

”Ya, memang banyak kendala, tapi perlu terus diupayakan.” Sedangkan untuk program di luar kampus, Mediana telah mengembangkan Nurse Education untuk rumah sakit, dengan menyiapkan 26 nurse educator di Jawa Tengah.

”Kami juga mendidik 37 perawat puskesmas yang rata-rata masih berpendidikan D3 untuk menjadi perawat profesional. Baru kali pertama, tapi target kita tahun 2011 sudah ada networking.” Menurutnya, semua program yang dijalankan itu adalah bagian dari metode student centered learning, yakni metode pembelajaran yang berorientasi pada mahasiswa untuk mencapai kompetensi tertentu. Metode yang dia terapkan pada mahasiswanya ini kemudian akan diaplikasikan di seluruh fakultas di Undip.

”Semoga nantinya perawat tidak lagi menjadi perpanjangan tangan dokter tapi sudah bisa menjadi mitra kerja dalam pemberian pelayanan kesehatan. Itu mimpi kami,” tandasnya.

Boleh dibilang semua waktu yang dimiliki Meidiana di dedikasikan untuk kampus, terlebih lagi sepeninggal suami tercintanya delapan tahun lalu. ”Anak-anak juga sudah besar semua jadi tidak perlu perhatian khusus,” imbuh ibu dari Nova Hasani Furdiyanti, Kharisma Hilmi Rasyidi, dan Arief Rahadian itu.

Dan apa yang telah dia perjuangkan sekian lama perlahan-lahan membuahkan hasil. Tapi memang, pengembangan perawat memunculkan reaksi beragam. ”Sekarang ini kayaknya ada kondisi benci tapi rindu. Dibenci dokter karena perawat seperti mengambil peran dokter tapi dirindu pasien karena perawat sangat dibutuhkan pasien,” ucap anggota tim kesehatan PKPU dan Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatanan Indonesia (YPKKI) itu sambil tertawa.

Jadi, perawat tidak terpaku pada tugas-tugas pelayanan pengobatan di rumah sakit atau Puskesmas. Tapi mulai merambah tugas-tugas pendidikan kesehatan bagi masyarakat.

Apa yang dia lakukan sebenarnya bermuara satu: agar masyarakat mendapat pelayanan kesehatan yang baik. (62) ■ NONIARNEE

Bebrayan-11.07.2010

Tidak ada komentar: