Tampilkan postingan dengan label bebrayan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bebrayan. Tampilkan semua postingan

11.18.2012

Ada ‘’Pendatang Baru’’ di Rumah


Luke dan Anna  sering menghadiahkan sindiran sarkasme kepada Isabel  Kelly. Ini dilakukan sebagai bentuk penolakan dan resistensi agar ibu tirinya tak betah di rumah. Tak hanya itu, Isabel pun harus menghadapi konflik akibat tekanan dari  Jackie, mantan istri suaminya yang di vonis menderita kanker dan akan meninggal.

Awal mulanya kedua perempuan ini ‘’bertempur’’ hebat untuk mendapatkan perhatian dari sang anak. Meski pada akhirnya mereka bekerjasama dan saling mendukung. Bahkan kedua anak itu menerima Isabel tanpa menghapus keberadaan sang ibu kandung.

Ini hanya cerita dari film berjudul Step Mom yang dibintangi Julia Roberts dan Susan Sarandon. Meski hanya kisah fiktif, tapi cerita tentang hubungan seorang ibu, dua anak, dengan seorang wanita yang menjadi istri dari mantan suami ini bisa memberikan gambaran tentang konflik yang terjadi dan penyelesaiannya ketika seseorang memutuskan untuk menikah dengan pasangan yang telah mempunyai anak dari pernikahannya terdahulu.

Film itu memang berakhir happy ending. Tapi dalam realita tak semudah itu karena dalam beberapa kasus beberapa pihak yang terlibat sulit berkompromi. Terlebih lagi, ada mitos negatif yang menyertai predikat orang tua tiri. Seperti yang ada dalam benak Luke dan Anna.

”Saya sudah memberikan kasih sayang dan perhatian dan menerima anak tiri seperti layaknya anak sendiri. Tapi meski sudah tiga tahun, semuanya belum berjalan mulus,”ujar Maria, perempuan yang dinikahi duda beranak satu.

Usaha tak kenal lelah terus dilakukan Maria untuk meraih cinta sang anak tiri, hingga ia kemudian memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Alasannya, demi kebahagian keluarga barunya.

Ya, menikah dan bercerai adalah fenomena yang sering kita jumpai dalam masayarakat. Dan tak adil rasanya jika memposisikan ibu atau ayah  tiri menjadi sosok penganiaya seperti yang ada di banyak film Indonesia di era tahun 1960 sampai 1980-an yang bercerita tentang kejahatan orang tua pengganti. Sayangnya, stigma itu masih sering menempel dan sulit dihilangkan.

**
Dr. Patricia Papernow seorang pakar keluarga dari New York mengatakan, mengatasi masalah dalam keluarga tiri ini bisa diibaratkan dengan ”menjelajahi jalanan New York City menggunakan peta Boston”.
Maksudnya, fakta dalam keluarga menyebutkan bahwa tantangan dalam keluarga baru mempunyai  permasalahan yang kompleks yang terjadi selama proses beradaptasi. Baik bagi orang tua tiri dengan anak maupun hubungan dengan keluarga kandung. 

Menurutnya, meski pada awalnya tidak mudah, namun hubungan bisa kemudian terjalin dengan kuat dan baik.  Tentunya, itu butuh kerjasama dan kompromi untuk menjalin hubungan antara anak dan orang tua tiri.
Yang harus diingat, seseorang yang menjadi pendamping hidup baru harus menyesuaikan dengan keluarga baru terutama dengan anak-anak dari pasangan yang dinikahinya. Hubungan dengan anak tiri sangat memainkan peran penting dalam membangun ikatan keluarga baru. Seperti yang dilakukan Isabel atau Maria dalam memperlakukan ‘’anaknya’’.

Patricia menambahkan, konflik biasanya terjadi pada diri anak karena pada kasus pernikahan berikutnya muncul rasa takut  tidak dicintai jika ayah atau ibu menikahi orang lain hingga anak merasa berada pada zona yang tidak nyaman. Mereka menganggap orang tua tiri mereka sebagai penyusup dalam hidup mereka di rumahnya. “Imbasnya ada penolakan dari anak. Padahal mereka mempunyai niat dan hati tulus menyayangi dan mencintai anak-anak tirinya seperti anak-anak kandungnya sendiri.”
Faktor yang mempengaruhi hubungan tersebut antara lain usia, seberapa jauh mengenal anak, sebaik apa hubungan dengan sang mantan dan seberapa banyak anak tiri menghabiskan waktunya bersama dengan orangtunya. 

Tapi, menjadi orangtua dengan menggabungkan dua keluarga, atau menikahi seseorang yang sudah memiliki anak bisa juga menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dan dalam beberapa kasus, anggota keluarga baru dapat bergaul tanpa hambatan seperti selebritas Indonesia Ashanty, Ririn Dwi Ariyanti. Atau bahkan aktris seksi Hollywood Megan Fox yang sedang menikmati masa bahagia bersama anak tirinya bernama Kassius. Anak dari Brian Austin Green, suaminya bersama Vanessa Marcil.

Yang pasti, Tidak ada formula ajaib dalam menciptakan keluarga 'sempurna' tentunya karena setiap keluarga punya keistimewaan masing-masing. Perlu diingat, pada dasarnya, anak-anak memerlukan kasih sayang dan perhatian. Jadi, Kuncinya yang terpenting adalah komunikasi, kesabaran dan pengertian saat berinteraksi dengan situasi yang baru.

"Banyak hal yang membuat saya bahagia. Tapi saya merasa luar biasa senang ketika anak tiri saya yang berusia sembilan tahun mengatakan saya cantik. Kassius adalah salah satu hal yang paling indah dalam hidup saya dan saya senang menjadi ibu tiri," tandas Megan Fox.

 Noni Arnee

Tak Seperti Don Juan



Apa yang dilakukan Pasangan Angelina Jolie dan Brad Pitt di sebuah restoran mewah dengan pemandangan indah di kota Golfe Juan, Prancis, bisa jadi membuat iri para perempuan. Bagaimana tidak, di sela-sela jadwal padat promosi film terbaru, keduanya masih  bisa mencuri waktu untuk sebuah makan malam romantis di restoran favorit.

Penampilan bintang 'The Tourist' dengan gaun putih rancangan Michael Kors begitu memesona. Ia datang menggandeng mesra pasangan hidupnya melalui pintu belakang dan diantar menuju meja yang sudah dipesan. Sup, anggur dan kue malam itu seolah menjadi bumbu untuk memancarkan energi cinta ketika keduanya  saling memeluk dan beradu pandang dengan mesra.

Hal semacam itu yang diinginkan  perempuan? Pria romantis! Namun, sayang tidak semua perempuan seberuntung mendapatkan pria seperti Brat Pit. “Jangankan makan malam romantis, ketika kami berjalan berdua saja tidak pernah bergandengan tangan,”cerita Maudy  sambil bersungut.

Ya, Hadi, lelaki yang dikenalnya sejak  lima tahun lalu memang terkesan dingin. Tidak hanya tingkah laku, kata-kata yang bisa menghangatkan hati perempuannya pun tak pernah terucap dari bibirnya.  Kecuali sekali ketika mengajak Maudy berumah tangga. “Aku cinta kamu dan ingin menikahimu”, itu saja. Dan kalimat pendek kini seakan tergilas dengan rutinitas pekerjaan yang menyita.

“Terkadang iri dan sebal kalau melihat kemesraan teman dengan pasangannya. Reinald itu seperti tidak ada ekpresinya. Kalau bicara datar dan seperlunya saja. Sama sekali tidak romantis,” imbuh Denanda yang sudah empat tahun ini menjalin cinta dengan Reinald.

**

Tak hanya Hadi dan Reinald, Thomas pun tak serajin seorang Don Juan yang memberikan bunga, berbincang intim pada malam hari dan kecupan kecil untuk kenyamanan  pasangannya. 

Dua tahun diawal pernikahan, Mariana sangat menikmati waktu bersamanya. Kejutan kecil bunga mawar berwarna putih dan obrolan ringan setiap waktu mengiringi perjalanan bahtera rumahtangganya.  “Tetapi tiga tahun terakhir kami sepertinya kehilangan rasa romantis. Jadi biasa saja. Rasanya ingin mengulang kembali suasana awal menikah dulu,” kata Mariana.

Memang menjadi romantis adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa sayang kepada pasangan. Meski terkadang hanya diungkapkan pada momentum tertentu seperti perayaan ulang tahun atau pada saat Valentine saja. Padahal pengungkapan rasa cinta anda kepada pasangan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dibanding perempuan, karakter seorang pria memang lebih cenderung dingin dan kaku sehingga sulit  mengekspresikan perasaan atau kata cinta di hadapan pasangan. Namun, tak bisa bersikap penuh cinta dan menjadi sosok pasangan romantis bukan berarti pria tersebut  tidak menaruh perhatian yang besar terhadap pasangannya. Salah satu faktornya karena karakter masing-masing personalnya.

Victoria Lukats, psikiater dan ahli dalam relationship untuk Parship.com mengatakan, sikap romantis sangat penting dalam setiap hubungan karena dapat membuat pasangan lebih terhubung, dekat, dan saling memikirkan. "Anda perlu menemukan cara berkomunikasi. Pokoknya apa saja yang dapat membangkitkan perasaan cinta antara Anda dan pasangan. Jika Anda mengatakan mereka harus melakukan hal ini, ajarkan tanpa menggurui," kata Victoria.

Menurutnya, romantis tidak harus dengan memberikan bunga atau mengajak makan malam di tempat mewah. Tetapi, lebih pada sikap saling ditunjukkan ketika bersama. Cara mengajarkan hal romantis pada pasangan, bisa dimulai dari hal kecil.

Seperti, membuatkan teh hangat di pagi hari untuk teman berbincang santai sebelum berangkat ke kantor. Ini akan lebih memberi ide pada pria untuk bersikap romantis dibandingkan sikap cerewet merengek untuk melakukan apa yang Anda inginkan. Memberi contoh adalah cara terbaik untuk belajar, secara perlahan mereka akan mulai mengubah sikapnya menjadi lebih lembut.

Ronald Goldstein, Ph.D., psikolog dan konsultan perkawinan di Newtown, Pennsylvania juga menyebutkan bahwa pria pada umumnya tidak mampu mengekspresikan dirinya secara verbal, oleh karena itu perempuanlah yang perlu menyampaikannya untuk dia. "Menurut saya pria senang mendengar betapa sang istri mencintai dan merindukannya.”

Jadi, apakah perasaan romantis yang menggebu itu identik dengan makan malam berdua yang ditemani cahaya lilin? Sekuntum mawar? Sentuhan hangat setiap waktu? Sanjungan dan ekspresi manis? perayaan hari spesial? Anda bisa menjawabnya.

Karena itu bila ingin menularkan virus romantis pada pasangan, mulailah dari diri anda sendiri. Dari hal yang kecil tapi bermakna. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai segala sesuatunya demi menambah kemesraan berdua.

 Noni Arnee

Being a Single...



Sudah lima tahun terakhir ini Tika Raharja tinggal bersama anak semata wayangnya dari hasil pernikahan dengan Hasyim. Ia memilih berpisah dari suamin setelah pernikahannya menginjak tahun ketujuh. Ketidak cocokan menjadi alasan Tika.

Sebagai orang tua tunggal, ia pun mengatur segalanya seorang diri.  Mencari nafkah sekaligus membesarkan dan mendidik anaknya. “Saya harus mengatur waktu untuk pekerjaan, anak bahkan mengatasi persoalan di kantor.”

Sejak berpisah, wanita mandiri itu mantap untuk fokus pada anak dan pekerjaannya. Tak heran jika ia tak kunjung mencari pengganti. “Tidak masalah, apalagi keluarga besar juga mendukung,” ucap staf di sebuah perusahaan konsultan asing ini dengan santai.

Terlepas dari penyebabnya. Tak hanya Tika, banyak diantara  perempauan atau laki-laki kini justru memilih untuk tidak terikat kembali pada pernikahan atau pasangan dan berperan sebagai orang tua tunggal (single parent). 

Membesarkan anak sendirian tanpa bantuan pasangan pastilah bukan sesuatu hal yang mudah. Apalagi Kesibukan pekerjaan seringkali memperngaruhi kehidupan pribadi. Belum lagi pada umumnya persektif masyarakat terhadap orangtua tunggal hanya mengukur dari suatu status. Meski ini banyak terjadi di di kota besar. Namun hal ini bukan berarti orang tua tunggal tak mampu berkarir dan membesarkan anaknya dengan baik. “Bagi saya menjadi single parent terkadang suatu pilihan,” Lanjut Tika.

Menurut Anggia Chrisanti Wiranto, konselor dan terapis EFT (emotional freedom technique) di biro psikologi Westaria, menjadi orangtua tunggal sebenarnya bukanlah pilihan tapi bagian episode kehidupan yang harus dijalani dan dihadapi. Karena itu banyak yang kemudian bisa menikmati status itu sebagai anugerah.“Status orangtua tunggal adalah keistimewaan yang tidak diberikan kepada siapa saja. Mungkin, hanya orang-orang kuat dan istimewa yang bisa menerima dan menjalani.”

Tapi perlu diingat bahwa orangtua tunggal itu bukan berarti menjalani peran ganda. Karena tidak akan pernah mampu menggantikan sosok seseorang secara fisik. Misalnya, laki-laki (ayah) tidak akan pernah menjadi sosok ibu. Pun sebaliknya.

Anak tidak butuh sosok ayah atau ibu, melainkan figur ayah atau ibu. Sosok adalah fisik. Sedangkan figur adalah peran dan fungsi sosok itu. Maka, orangtua tunggal harus beradaptasi dengan peran dan fungsi sosok pasangan.“ Figur ibu itu pusat rasa nyaman, menyediakan kebutuhan, memenuhi afeksi  berupa perhatian, sentuhan, pelukan. Sedang figur ayah, pusat rasa aman, seperti peduli, percaya, disiplin, dan lain-lain,”imbuhnya.

Anggia menambahkan, upaya itu dilakukan agar tetap bisa berbahagia dan jauh dari depresi. Bisa  berperan maksimal sebagai orangtua bagi anaknya. Dan anak menerima kondisi itu dengan riang.
Karena itu, bersama pendamping hidup ataupun tidak (single parent) yang harus ada dalam diri adalah pola pikir dan pola sikap untuk menentukan kebahagiaan.  “Hidup adalah pilihan. Ketika tiba-tiba menjadi orangtua tunggal  dan menjadi sendiri lagi dengan anak, pilihan yang ada adalah depresi atau bahagia. Karena pilihan ada di tangan kita, ya, pilihlah bahagia.”

Dengan kata lain, tidak ada orang lain yang bisa membuat bahagia. Baik itu pasangan hidup, sahabat, uang, hobi, kecantikan atau sesukses apa hidup kita. Karena yang bisa membuat diri kita bahagia adalah diri sendiri. 

Noni Arnee

10.25.2010

"Kebebasan" Itu Memunculkan Konflik

Baru seumur jagung mimpi gadis keturunan Belgia Aurelie Moeremans (17) menjadi aktris, kini gadis itu sering menghiasi layar kaca karena pemberitaan miring. Ia ”tersandung” perselisihan dengan ibu kandungnya Sri Sunarti.

Bahkan ia nekad mengadu ke kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) karena merasa ”dikekang” dan dilarang pacaran dengan Robby Tremonti, pria yang berusia11 tahun lebih tua darinya.

”Aku terlalu sering diatur. Sebagai anak yang menginjak dewasa, aku tidak ingin di kekang,” tutur bintang film D’Love itu.

Kehidupan glamor dan pergaulan di dunia selebritis yang dia lakoni merasa ”diganggu” ibundanya. Namun, tidak hanya Aurelie yang ”berteriak”. Sang kekasih pun cawe-cawe memojokkan sang ibu.

Kebebasan yang diinginkan Aurelie pun harus dibayar mahal. Hubungan ibu-anak ini menjadi tidak harmonis. ”Dulu aku suka curhat dengan ibu. Tapi sekarang sudah enggak lagi. Sudah menjauh dan aku lebih suka tinggal di apartemen,” tutur dara yang merasa sudah cukup dewasa dan layak berpacaran ini.

Meski mengaku tertekan, hati kecil Aurelie menyadari bahwa tindakan orang tuanya dilakukan demi kebaikannya.

Setali tiga uang dengan Aurelie, aktris belia Arumi Bachsin (16) juga pernah melakukan hal yang sama. Dara keturunan Belanda-Palembang sempat ditampung di Komnas Perlindungan Anak dan bermalam di Polres Jakarta Selatan. Ia ”kabur” dari rumah lantaran Maria Lilian Pesch melarangnya berpacaran.

Sebagai ibu, Maria memang memberikan aturan yang telah disepakati Arumi. ”Saya kira setiap keluarga mempunyai aturan. Kalau kami minta Arumi untuk pacaran saat usianya lebih 17 tahun, saya pikir itu lumrah dan wajar. Arumi juga menyepakatinya,” ungkap
nya.

Menurut ibundanya, meskipun Arumi sudah dewasa dan mempunyai manajer sendiri, bukan berarti sang mama cuek saja. “Aku tidak melepas Arumi. Saya juga manajer Arumi selamanya karena aku mamanya, dia anak perempuanku,“ imbuhnya.
Mari kita longok Pasal 1 UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak: “bahwa anak adalah seseorang yang belum genap berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.“

Jadi, Aurelie Moremans dan Arumi Bachsin masih tergolong anak di bawah umur.
Rupanya Aurelie tak sabar menggapai “kebebasan“ yang diinginkan. Berbeda dengan Arumi yang kemudian mengaku mendapat pelajaran berharga selama berselisih paham dengan ibunya. “Sudah sadar, menurut aku semua itu ada saatnya,“ ujar Arumi.

***
KONFLIK anak dan orang tua seperti yang dialami Aurelie Moremans dan Arumi Bachsin hanyalah contoh kecil konflik yang terjadi dibanyak keluarga. Menurut psikolog, Lita Widyo Hastuti SPsi MSi, hal itu terjadi karena adanya pergeseran pola asuh orang tua terhadap anak. Pada beberapa dekade lalu, anak masih cenderung mengikuti dan patuh dengan pola asuh orang tua. Namun seiring dengan waktu dan pesatnya perkembangan teknologi infomasi, muncul fenomena bahwa anak zaman sekarang mempunyai keberanian untuk menunjukkan keinginannya. Anak mulai menganggap bahwa orang tua tidak selalu benar sehingga mempunyai keinginan untuk melawan. Kondisi ini juga didukung oleh pola asuh orang tua yang lebih modern dan membebaskan anak.

“Dulu budi pekerti masih cukup kental diajarkan anak-anak, tapi di era globalisasi pelan-pelan hilang. Apalagi bersosialisasi dan bergaul dengan dunia luar sehingga anak lebih bisa menyatakan ekspresinya atau keinginannya. Dulu tidak seperti itu.”

Dosen pengajar Pendidikan Seksualitas, Psikologi Perkembangan, Psikologi Keluarga, dan Diagnosa dan Terapi Remaja Unika Soegijapranata Semarang ini menilai bahwa konflik antara orang tua dengan anak khususnya anak yang menginjak remaja, sebenarnya merupakan hal yang lumrah terjadi di mana pun. Bahkan semua konflik yang terjadi antara kedua belah pihak ini tidak selamanya mengakibatkan atau mempunyai sisi negatif.

”Bisa positif karena anak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan pendapatnya kepada orang tua. Namun kadarnya sedapat mungkin dijaga supaya tidak berlebihan dan tidak merugikan kedua belah pihak. Konflik pasti muncul, sudah seperti hukum alam.
Karena itu konflik sebaiknya dikelola menjadi sesuatu yang lebih dinamis,” ungkap Lita.

Pada umumnya, anak ”berseberangan” dengan orang tua terjadi ketika anak memasuki masa puber. Pada masa itu emosi anak menjadi lebih rentan dan tidak terkontrol. “Anak sering melihat dari `kacamatanya' sendiri dan orang tua melihat `kau ini anakku'. Dari situlah muncul ketidaksepahaman yang mengakibatkan konflik.“

***
JADI, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orang tua untuk mempererat hubungan dengan anak. Yang pertama dengan melatih kepekaan anak untuk berempati terhadap orang lain. “Anak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.“
Kedua, melibatkan anak dalam aktivitas orang tua melalui pembiasaan-pembiasaan kecil agar muncul kebersamaan. “Misalnya, orang tua sedang repot maka si anak diajarkan untuk bersedia membantu.“

Cara lain yang bisa dilakukan orang tua adalah dengan “memasuki“ dunia anaknya, tanpa bertindak sebagai pengontrol. “Coba masuk ke dunianya, misalnya dengan menanyakan aktivitas anak tanpa bermaksud menyelidik atau mendikte dan membuat anak merasa tidak nyaman.“

Lita mengakui, bahwa sebagian besar kasus pertikaian yang terjadi antara anak dan orang tua sangat sulit diselesaikan karena kedua belah pihak lebih menonjolkan egonya dan tidak ada mediator yang membantu menyelesaikan konflik mereka.
“Mediator membantu berbicara secara personal dengan keduanya untuk memberikan pemahaman dan menurunkan ego.
Caranya bisa dengan mengingatkan hal-hal atau momen berharga di antara mereka.“
Selain itu, agar pola asuh lebih fleksibel, Lita juga menganjurkan agar orang tua menerapkan pola layang-layang. “Tarik-ulur".Dilepas tapi suatu saat ketika diperlukan harus ditarik. Jadi, ada batas untuk si anak mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.“

Pendidikan budi pekerti untuk membangun karakter (character building) anak juga mutlak diperlukan. Sejumlah sekolah internasional dan sekolah terpadu sudah menerapkan hal itu dalam kurikulum sekolah.

Namun lanjut Lita, pelajaran budi pekerti dalam kurikulum sekolah tidak terlalu penting, karena percuma kalau pelajaran budi pekerti diajarkan namun hanya menghasilkan angka-angka.

“Budi pekerti percuma kalau disampaikan hanya dalam wujud kognitif. Yang terpenting penerapannya. Orang tua dan guru satu sama lain secara tidak langsung harus menunjukkan pesan moral ke dalam pelajaran atau kehidupan sehari-hari karena mereka sudah dianggap sebagai role model atau contoh langsung yang bisa dilihat anak.“(62)

NONI ARNEE

Bebrayan 031010

10.11.2010

Di Balik Kelezatan Masakan Ibu

Di Restoran mana kamu bisa menemukan makanan paling lezat? Di mal mana kamu bisa menemukan food court dengan aneka makanan yang menggugah selera?
Jika pertanyaan itu dilontarkan kepada orang yang setia dengan masakan rumah, pasti mereka mempunyai satu tempat istimewa. Ya, di dapur rumah, dengan koki paling hebat, yaitu ibu. Salah satunya, Aryo Kuncoro (32), seorang karyawan swasta di perusahaan ternama di Semarang.

Tak bisa menikmati masakan ibunya dalam waktu yang lama membuat Aryo sering tak punya nafsu makan. Ia hanya makan untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Maklum sudah tiga bulan ia tak pulang ke rumah ibunya di Solo. Ia paling sering teringan mangut ayam racikan ibunya.

”Wah..kalau membayangkan mangut buatan ibu, rasanya jadi ingin pulang. Aku sudah coba kemana-mana, tapi tidak ada yang selezat masakan ibu,” kata Aryo memuji menu favorit yang selalu dihidangkan tiap kali Aryo mudik.

Bahkan saking sukanya dengan masakan sang ibunda, tak jarang Aryo membawa mangut ayamnya itu ketika kembali ke Semarang. ”Biasanya pesen ibu untuk masak lebih banyak, buat ”sangu” ke Semarang. Nanti kalau makan tinggal ”dipanasi” saja,” tambahnya sambil tersipu. Kadang, tanpa dimintapun, ibunya telah menyiapkan dalam rantang khusus itu untuk dia bawa.

Adakalanya ketika hidup dirantau seperti Aryo, perasaan rindu masakan dirumah sendiri selalu membayangi. Apalagi ketika membayangkan betapa lezatnya masakan ibu dirumah.

Tidak hanya Aryo yang begitu ”menggilai” masakan ibu. Robi Maulana (30) yang dua tahun terakhir ini bekerja di Semarang pun harus rela ulang alik dari tempat tinggalnya di Salatiga ke tempat kerja.
Robi mengaku sering ”bermasalah” dengan makanan warungan yang dia santap, sehingga ia lebih memilih tinggal bersama sang ibundanya daripada kos.
”Alasan perutlah, lidah saya tidak cocok makan di sembarang tempat. Mungkin terlalu cinta dengan masakan ibu,” ujar Robi sambil tertawa.

Kebiasaan selalu menyantap masakan ibundanya inilah yang membuatnya sensitif dengan makanan. ” Aku memilih tinggal dirumah. Selain lebih aman, masakan itu ibu the best- lah,” tambah Robi.
Robi menganggap, dari semua masakan di bumi ini, ia paling suka dengan masakan ibunya. Apalagi ketika membayangkan ibundanya meracik bumbunya dengan penuh kelembutan dan senyuman. ibu memasaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang kepadan anak tunggalnya. Mungkin ini yang membuat Robi selalu ketagihan masakan ibundanya.

***

Bagi sebagian orang, makanan masakan ibu memang tak ada duanya. Dengan rasa apapun, kenikmatan menyantap makanan itu selalu terasa berbeda. Apalagi ketika hidup dirantau orang, walau tersebar banyak makanan, tetep perasaan rindu masakan dirumah sendiri selalu membayangi. Tak cukup membayangkan betapa gurihnya masakan sang Bunda tercinta dirumah.

Psikolog, Dr. Endang Widyorini, Psi, menilai, ungkapan perasaan Aryo yang selalu kangen dengan mangut ayam ibunya, menjadi sesuatu hal yang wajar. Itu merupakan salah satu bentuk kehangatan masa lalu yang didapat hingga sekarang dari seorang ibu. ”Itu wajar dan banyak orang merasakan hal itu, apalagi ketika jauh dari orangtua.”

Hal ini terjadi karena menurutnya, selama perkembangan si anak, seorang ibu lebih banyak berperan dibandingkan ayah. Ibu lah yang memenuhi kebutuhan dari kebutuhan primer, sekunder, fisik, psiologis. Sehingga hubungan ini lah yang terjaga sejak anak kecil hingga tumbuh dewasa.
”Sejak kecil ibu mengurus anaknya, memberinya makanan dan mencukupi semua hampir kebutuhan emosional anak. Saat ibu memasak makanan anak-anaknya, ibu melakukannya dengan rasa cinta dan sepenuh hati. ibu memakai resep, bumbu yang tak dijual di toko manapun. Bumbu itu bernama bumbu cinta,” imbuh Ketua Program Magister Psikologi Unika Soegijapranata Semarang itu.

Lanjut Endang, bahwa rasa kangen Aryo dengan mangut ayam ibu, itu salah satu bentuk kehangatan yang didapatnya dari ibu. ”Pulang ke rumah makan mangut bikinan ibu itu beda, ada suasana menghangatkan yang didapat, rasa kasih sayang ke ibu.”

Terkadang tidak bisa dipungkiri, hubungan antara anak laki-laki dan ibu biasanya memang lebih erat dan sayang dibandingkan hubungan antara anak perempuan dengan sang bunda.
Bagi seorang anak, ibu berfungsi sebagai pemberi kasih sayang primer, sekunder, dan psikologis. ”Sementara figur ayah hanya menjadi model bagaimana anak berhubungan dengan dunia luar, tidak secara emosional.”

Endang menambahkan, jika kondisi atau perasaan ketergantungan mencari kehangatan kash sayang seorang ibu masih dalam batas normal, hal itu justru menunjukkan hal yang positif.
”Itu bagus kalau hubungannya sehat, artinya ketika pada saat tertentu masih bisa melihat hubungan antara ibu dan anak masih secara obyektif bahwa nantinya akan mempengaruhi sisi psikologis anak. Misalnya, jika nantinya menuju jenjang pernikahan, laki-laki bisa lebih menghargai istrinya.”

Ketulusan ibu untuk membuat hubungan yang akrab akan menjaga perilaku anak lakinya tetap lurus dan terkendali saat ia dewasa.Tapi ketika perilaku itu berlebihan, justru akan berdampak negatif. ”Banyak kasus penyimpangan kejiwaan karena perlakuan yang berlebihan. Misalnya tidak hanya mencintai masakan ibu, tapi juga memposisikan ibu sebagai sosok yang segala-galanya.Perilaku negatif akan muncul, seperti Oedipus Complex, anak laki-laki yang menjadikan ibunya sebagai ”kekasih”nya.”
****
Sejumlah penelitian bahkan juga menemukan,bahkwa anak laki-laki jarang terlibat masalah atau berperilaku negatif ketika dewasa jika si anak punya hubungan yang akrab dengan si ibu semasa kecilnya.

Dalam penelitiannya, Dr Pasco Fearon, seorang ilmuwan dari Sekolah Psikologi dan Ilmu Bahasa Klinis, dari Universitas Reading, Inggris, baru-baru ini menganalisis 69 penelitian yang melibatkan hampir 6 ribu anak-anak berusia di bawah 12 tahun.
Hasilnya ditemukan, anak laki yang tidak punya hubungan akrab dengan ibu cenderung menjadi lebih agresif dan menderita masalah kesehatan mental. Khususnya anak laki-laki, yang pada tahun-tahun pertama kehidupannya tidak mendapat ikatan yang aman dari ibu mereka, memiliki lebih banyak masalah perilaku di kemudian hari.
Sebaliknya, anak laki akan tumbuh menjadi pribadi yang tenang, percaya diri dan punya banyak empati jika memiliki kenyamanan dengan ibunya ketika masa anak-anak.
Anak-anak membutuhkan kekuatan kedua dari orang-orang terdekatnya untuk bisa mengatasi hidup dan tantangannya. Karena anak-anak tidak akan mampu mengatasi risiko yang besar dalam masalah perilaku.

Kualitas hubungan antara anak dan orangtua adalah faktor penting untuk perkembangan anak-anak. Menurut teori kelekatan atau teori ikatan (attachment theory)--yaitu teori dalam psikologi yang menaruh perhatian pada ikatan emosional antara dua atau lebih individu--anak-anak membutuhkan keterikatan dengan sedikitnya satu orang pengasuh untuk mengembangkan emosi dan sosial mereka. Menurut teori yang dicetuskan oleh psikoanalisis John Bowlby ini, tanpa mendapat kebutuhan ini, anak akan kerap menghadapi masalah kejiwaan dan sosial yang permanen.

Tak mengherankan, terdapat hasil penelitian di kalangan pengusaha sukses di kalangan China,bahwa salah satu ciri kehidupan mereka adalah senantiasa menghormati ibu sedemikian rupa karena yakin sosok ibu itulah pilar kesuksesan mereka.
Sama halnya ketika hubungan itu dianalogikan dengan ekstrem, namun sedikit banyak mengandung kebenaran. Bahwa hubungan ibu dan anak ibarat mata dan tangan. Dan tentunya buhungan itu bisa diwujudkan dengan berbagai cara, salah satunya melalui kelezatan masakan.

Noni Arnee

Bebrayan_260910

Setia Pada Kopi Tradisional

Raden Michael Tjipto Martojo

Minum kopi kini menjadi gaya hidup. Kedai kopi tradisional hingga bergaya modern berkelas internasional bertebaran hampir disetiap tempat. Disitu ditawarkan berbagai jenis kopi khas.

Salah satunya kopi legendaris asal Bedono Ambarawa ini. Namanya Eva coffe atau lebih beken disebut kopi Eva. Nama kopi ini memang tidak bisa lepas dari Eva Coffee house, sebuah restoran yang berada di tepi jalur utama Semarang-Yogyakarta, tepatnya di jalan raya Bedono-Ambarawa. Restoran ini dijadikan penyangga sebagai pusat penjualan dan produksi kopi tradisional ini. Hanya disinilah kopi murni asal kebun sendiri dari kebun Tjipto Martojo bisa dicari.

Michael Tjipto Martojo adalah sosok dibalik kenikmatan seduhan kopi Eva. Pria asal Yogyakarta kelahiran 2 september 1923 inilah pemilik Eva Coffee house. Lelaki 88 tahun yang selalu berpakaian rapi dan terlihat bugar hingga kini masih menangani sendiri bisnisnya. Ia tiap hari masih berkutat dengan buku catatan stok dan keuangan di belakang meja kasir.
”Tiap hari di sini dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam. Membuat audit laporan keuangan," tutur laki-laki yang masih memiliki ingatan tajam ini.

Tjipto merintis pusat penjualan dan produksi kopinya sejak 1954. Tepatnya sejak ia mengubah haluan hidupnya dari seorang anggota Tentara Rakyat Mataram (TRM) yang setiap hari memanggul senjata menjadi petani kopi.
”Tidak ada jaminan menjadi tentara, apalagi kalau sudah cacat. Dari situ saya harus berpikir untuk mencari kehidupan lain,” ujar lelaki yang juga anggota Brigade 17 itu.

Dengan berbekal ijazah sekolah ekonomi pendidikan Belanda, Iapun menggarap kebun kopi seluas 20 ha milik istrinya, anak lurah Bedono waktu itu. Ia menanam sendiri kopi robusta di areal perkebunan pribadi dan menjalankan roda bisnisnya.
”Waktu sekolah, guru-guru sering mengajarkan cara berdagang untuk menaikkan harga jual. Misalnya kopi yang biasa dijual dengan harga 10 rupiah kalau dibikin bubuk bisa naik harganya menjadi 15 rupiah.”

Bersama istrinya, Tjipto mendirikan warung kopi sederhana berukuran 9x5 meter di jalur utama Semarang-Yogyakarta. Waktu itu pelanggannya hanya orang yang melintas di jalur itu. Seiring berjalannya waktu, bisnisnya mulai berkembang menjadi restoran ”Eva Coffe House” dan homestay yang menempati areal seluas 3 ha. Tidak hanya wisatawan lokal yang mampir mencicipi kopinya, tapi juga wisatawan asing yang selalu memborong kopi yang sengaja tidak dijual ditempat lain untuk menjaga kualitasnya.

”Menjadi tempat transit turis yang ke Borobudur. Banyak bule bilang bau kopi seperti kacang mete. Dulu, kalau belum mampir ke sini sepertinya belum mampir ke Jawatengah. Menyenangkan hidup di desa tapi dapat dolar,” kata ayah yang memiliki lima anak perempuan dan lima anak laki-laki.

Meski puluhan tahun menggeluti bisnis kopi, Tjipto Martojo bukanlah orang yang tahu dan mengenal cita rasa kopi. Pejuang kemerdekaan dengan 12 bintang jasa itu mendapat resep kopi istimewa justru dari teman baiknya bernama Hassel Rius, seorang dosen Universitas Gajah Mada (UGM) asal Denmark yang memberikan resep rahasia kopi yang dikemas dengan aluminium foil ini. ”Ia melakukan penelitian cara mengolah biji kopi dan memberikan ramuan khusus agar aroma kopi lebih kuat dan awet.”

Kopinya harum, bahkan aroma khas kopi sudah tercium dari kemasannya. Tidak hanya citarasa tapi juga kemasan yang khas. Menurut Tjipto, kopi miliknya berbeda dari kopi bubuk lainnya. Rahasia kopi bubuk murni ini ada pada proses pengolahan biji kopi hingga menghasilkan kopi hitam murni siap seduh. Untuk menjamin kualitas, biji kopi dicuci dan direndam ramuan atau obat khusus yang didatangkan dari negeri Belanda.
”Ramuan khususlah yang membuat biji kopi tahan hingga 15 tahun,” ungkap suami Christina Sunarti.

Tjipto menambahkan, kopi buatannya juga berkhasiat untuk obat.” Luka penderita gula jika dibubuhi kopi ini bisa cepat mengering. Bahkan digunakan untuk taburan di peti orang mati agar wangi dan tidak bau.”

Pada masa jaya tahun 1980-an kopi buatan Tjipto begitu dikenal. Kopinya tidak hanya merambah Jawa, Sumatera, Bali dan Lombok, tapi juga di suplai di pabrik-pabrik besar dan diekspor ke luar negeri. Ia juga membuat varian produk selain kopi bubuk, yakni biji kopi kemasan siap giling dan sirop kopi murni tanpa campuran dan bahan pengawet. ”Sirop tahan paling lama hanya satu bulan dan harus disimpan di lemari pendingin.”

Belakangan, luas kebun kopi Tjipto menyusut hanya 5 ha karena dijual untuk modal usaha anak-anaknya. Karena itu, untuk mensuplai pabrik-pabrik besar, selain kopi dari dari kebun kopi pribadinya, ia juga membeli kopi dari ratusan petani kecil di sekitarnya. Hasil panen ratusan petani kopi ditampung. Kapasitas produksi mencapai setengah ton perhari. ”Semua hasil panen kami tampung, jadi tidak khawatir kopi hasil panennya tidak laku.”

Untuk memberdayakan petani kecil, kakek 21 cucu ini juga memberikan pinjaman modal bagi petani sekitarnya. Upaya itu dilakukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih mapan secara ekonomi. ”Biasanya dibayar pada saat panen. Hidup di desa harus dekat dengan penduduk, bisa saling memberi dan menerima.”

Tapi Tjipto mengakui, kurun tahun 2000-an masa kejayaan kopinya telah menurun, menyusul banyaknya broker kopi yang mematikan pasarannya dan banyak yang memalsu kopinya. ”Misalnya dengan memesan kopi dalam jumlah besar tapi dijual dengan harga murah dibawah harga pasar. Malaysia juga membuat kopi. Mereka beli mentah disini, diolah disana dan dijual dengan kemasan lain.”

Selain itu, kopi robusta yang mulai ditinggalkan masyarakatpun menjadi sebab kemunduran bisnisnya. Karena itu, untuk memenuhi permintaan kopi arabica, ia mengambil kopi arabica mentah dari Timur Leste dan diolah seperti kopi robusta miliknya sebelum dilempar ke pabrik. ” Tren beralih ke kopi arabica,sedangkan kami hanya menanam kopi robusta.”

Tapi menghadapi persaingan kopi sekarang ini, Tjipto tetap optimis. Kuncinya, mempertahankan kualitas aroma dan rasa kopi. Ia hanya memproduksi kopi murni tanpa campuran.

Merintis bisnis kopi hingga bertahan setengah abad lebih tentunya bukan hal yang mudah. Perlu perjuangan keras seperti filosofi hidup dari orang tuanya, R Martowiharjo dan RA Sumartinah ini.

Dan kini, keseriusan dan semangatnya menghidupkan bisnis kopi dan restorannya hingga usia senja ia tularkan pada ke lima anak perempuannya yang membantu menjalankan bisnisnya. ”Orang hidup itu harus teliti, titi dan titis. Harus berjuang dan bekerja keras agar berhasil. Keuangan dan keluarga harus dipikirkan betul-betul.”

NONI ARNEE

Bebrayan_190910

10.10.2010

Cinta lama (Tak Harus) Bersemi Kembali

Tradisi mudik Lebaran setiap setahun sulit untuk dihilangkan. Bersilaturahmi dengan keluarga besar di kampung halaman pun menjadi momen yang bakal dilewati selama di kota asal.

Dan sudah menjadi lazim, bahwa setiap hari raya seperti Idul Fitri seringkali ada acara tambahan berupa acara reuni atau temu kangen dengan teman-teman sekolah dahulu. Tak bisa dimungkiri, munculnya jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter ikut berperan menyatukan kembali jalinan pertemanan yang sudah lama putus.
Reuni diadakan untuk mengumpulkan lagi teman semasa sekolah, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Reuni yang sering disebut dengan “temu kangen“ selalu disambut dengan antusias karena banyak kisah-kisah manis semasa bersekolah yang sulit dilupakan.

Selain untuk silaturahmi dan memperluas jaringan, temu kangen pun menjadi medium untuk kembali mengenang masa-masa indah dulu ketika bersendau gurau, belajar dan bermain bersama. Sungguh mengasyikkan Tapi di balik temu kangen itu, ada kisah menarik yang patut kita simak. Yakni, sensasi yang dirasakan ketika berjumpa dengan orang yang pernah mempunyai tempat khusus di hati. Seperti beberapa pengakuan beberapa orang di bawah ini.

Doni (45) bertemu Lia, mantan pacarnya di bangku SMA saat reuni tahun lalu. Setelah itu, ketika dia hampir lupa dengan lia, teleponnya berdering. “Tidak mengira dia telepon, padahal setelah reuni kami tak berkomunikasi,“ cerita Doni, ayah dari tiga anak.

Dalam telepon itu, awalnya mereka hanya bercerita seputar kehidupan masing-masing.
Soal anak dan pekerjaan. Namun, tiga bulan kemudian, mereka bertemu ketika keduanya berdinas di Jakarta. Lia lalu secara intensif menghubungi Doni dan berlanjut dengan pertemuan mereka tiap ada kesempatan. “Pembicaraannya umum saja atau cerita nostalgia semata,“ ujar Doni yang merasa tak perlu menceritakan hal itu kepada istrinya.

Sampai suatu ketika, Lia mengabarkan kematian suaminya.
Doni pun menjadi empati dan tanpa disadari, dia jadi lebih memperhatikan dan kerap menghubungi pacar lamanya itu.

Tapi Doni mengaku tak ingin mengumbar rasa ibanya. Dia khawatir cinta lama akan bersemi kembali. Ia akhirnya memilih menjaga jarak dengan Lia, dengan alasan sibuk di kantor. “Ini hanya emosi sesaat, saya tak mau keterusan,“ kata Doni, yang kemudian menceritakan sosok Lia kepada sang istri untuk menghindari munculnya perasaan cemburu.

Itu berbeda dengan Sinta (30) di Semarang yang memang berusaha mencari tahu keberadaan Surya, mantan kekasihnya kala masih SMP.
Lewat Facebook, ibu dua anak itu mendapat nomor telepon Surya yang kini bekerja sebagai kontraktor. Ia bertemu lelaki itu melalui reuni sekolahnya tahun lalu. “Tidak tahu kenapa, tetapi mendengar suaranya jadi deg-degan.
Padahal hanya bicara hal-hal umum saja,“ ujarnya.

Hubungan Sinta dengan kekasih lamanya berlanjut. “Menyenangkan, kami banyak diskusi soal puisi, film, dan drama. Kebetulan hobi kami sama,“ kata Sinta yang mengaku klop dengan Surya.
Dia tak menceritakan hubungan itu kepada suaminya yang bekerja di luar kota. Alasannya, dia menganggap kekasih lamanya itu tak berbeda dengan teman-teman lain, meskipun ungkapan sayang dan mesra seringkali “mendarat“ di Blackberry miliknya.
Sinta jadi bak remaja yang tengah jatuh cinta. “Ingin ketemu untuk sekadar ngobrol dan curhat. Maklum suami jauh, apalagi dia sangat perhatian dan mengerti saya,“ ucap perempuan itu sambil tersenyum simpul.

Radit (37) juga mengaku bertemu dengan Ana, pacar semasa SMA saat reuni. “Tak ada perasaan cinta, hanya ingin tahu kabarnya.
Samalah seperti teman lainnya, meski yang satu ini ingin tahu lebih,“ kata ayah dua anak ini sembari tertawa.

Grogi menjadi kesan pertama Radit saat bertemu Ana. Tetapi setelah itu semua berjalan sewajarnya. Di mata dia, Ana tetap cantik seperti dulu. Tetapi itu tak berarti dia menyesal mereka tak berjodoh. “Jadikan perempuan idaman saja. Kalau jadi istri, mungkin dia malah tak bisa jadi istri idaman,“ ucapnya.

***
BAGI Dra Sri Mariati Deliana MSi, psikolog dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), pertemuan insidental dengan teman lama dalam sebuah reuni atau temu kangen atau pun kesempatan lainnya sebenarnya bukan hal yang luar biasa. Maksudnya, pertemuan nostalgia justru berdampak baik untuk menyegarkan kembali pikiran kita. “Memu nculkan emosi sesaat itu tidak ada salahnya, bisa jadi refreshing dari rutinitas sehari-hari,“ katanya.

Pertemuan seperti yang dialami Doni dengan Lia atau Radit dengan Ana biasanya lebih bisa dipertanggungjawabkan karena mereka dewasa dan matang seiring perjalanan waktu. “Tidak perlu ada ketakutan yang berlebihan. Semua itu bergantung atas masing-masing individu, terlebih lagi perjalanan hidup mereka masing-masing telah mematangkan emosi. Jadi, tidak masalah.“

Tapi menurutnya, meski berkesan seperti “iklan lewat“ atau selingan, sebuah hubungan yang tak sekadar teman biasa tetap punya kemungkinan untuk melibatkan emosi dan fisik keduanya secara lebih intensif. Seperti hubungan Sinta dan Surya. Pertemuan dengan teman yang sudah menumbuhkan perasaan lain di hati ini patut diwaspadai, meski mereka seringkali menyangkal dan menganggap hanya sekadar berbagi.
Orang yang seperti itu, lanjut Deliana, biasanya adalah orang yang cenderung “bermasalah“, yakni orang yang kehidupan rumah tangganya mengalami kegamangan karena situasi dan kondisi.

“Bermasalah dalam tanda kutip, ya, meski permasalahan tidak selalu terlihat dari luar, seperti misalnya jauh dari suami.“
Ketika bertemu tambatan hatinya, mereka seringkali merasa lebih baik, karena ada sisi yang tidak ditemukan pada pasangannya. “Lalu membandingkan, padahal perlu pemikiran panjang. Mereka sudah sekian lama tidak bertemu, bisa jadi keduanya berbeda dibanding dahulu,“ tambah Deliana.

Sebenarnya semua itu, menurut Deliana, bergantung atas cara berpikir seseorang dalam melihat situasi dan kondisi masing-masing individu. Misalnya, Radit yang berpikir lebih dewasa dan matang menyikapi kehidupannya sekarang. “Mensyukuri apa yang sudah dimiliki, sekecil atau sejelek apa pun justru lebih membahagiakan daripada memunculkan cinta lama yang belum tentu ujungnya.“ Memang, selain butuh kesadaran, juga diperlukan pengendalian diri yang kuat.

“Kalau berlangsung sesaat saja, itu masih wajar. Kalau keterusan bisa jadi masalah. Setiap individu kan punya kehidupan masa lalu, kini, dan masa depan. Kehidupan yang tak seluruhnya bisa dibagi dengan pasangannya.
Meski wajar, tetapi sebaiknya hati-hati biar tidak tergelincir.“

Ya, reuni bertemu sosok spesial di waktu lalu memang membawa sensasi menyenangkan. Tapi, jika berkepanjangan, mungkin mengundang masalah yang membahayakan.
Kembali ke masa lalu terkadang memang sangat menyenangkan, tapi terkadang juga bisa jadi bumerang. (62)

NONI ARNEE
Bebrayan_050910

Memilih Jauh dari Orang Tua

Tival (23) menggerutu begitu selesai menerima telepon dari mamanya yang berada di Jakarta. Perhatian ibundanya yang mengecek hampir setiap hari melalui telepon genggamnya justru membuatnya jengah.

Ditambah lagi berbagai larangan dengan alasan untuk kebaikan. Ia merasa orang tua sering memakai sejarah hidup mereka untuk “mengatur“ kehidupannya.
“Mama lagi, Mama lagi. Biasa ngecek aku lagi apa. Dia nyokap tipe protektif dan aku sering kurang klop sama keinginannya,“ ujar mahasiswa yang baru lulus dari sebuah perguruan tinggi di Semarang itu.

Maklum, sejak lama Tival selalu mengikuti pilihan orang tua. Begitu diterima kuliah di Semarang, tentu saja ia merasakan kebebasan. “Enak banget hidup jauh dari ortu bisa bebas menjalani kehidupan. Semua pilihan hidup kita tanggung sendiri.“
Konsekuensinya, semua permasalahan Tival harus diselesaikan sendiri agar ibundanya tidak khawatir. “Biasanya laporan yang baik saja. Misalnya, jadi asisten dosen, ikut seminar ini-itu. Kalau ada masalah tidak bilang, selesaikan masalahnya sendiri atau dengan kawan. Biar tidak kepikiran. Pokoknya jangan sampai tahulah,“ ungkap anak sulung dari tiga bersaudara tersebut.

Begitu juga dengan Ririn (26) yang sudah dua tahun terakhir ini bekerja di Semarang.
Bisa dibilang ia sangat jarang berkomunikasi dengan orang tuanya. Bahkan sejak diterima bekerja di sebuah agen properti, belum sekali pun menginjakkan kaki ke kampung halaman di Malang untuk bertemu keluarganya. “Tidak, ah. Mendingan di Semarang saja, lebih nyaman di sini,“ ujar Ririn. Dulu, tinggal bersama orang tua kadang dianggapnya sebagai sebuah “siksaan“ karena menurut perempuan ayu ini, keluarga terlalu banyak mengekang dirinya dengan berbagai macam aturan. Ia juga merasa kurang pergaulan alias kuper. “Dulu main dengan temanteman saja dilarang. Pulang harus tepat waktu. Alasannya nanti kamu beginilah, begitulah. Makanya ada kesempatan out dari rumah ya jelas senang banget. Bisa bebas,“ jelas Ririn.
Sedikit berbeda, Wulan (22) mengaku keputusan ngekos mendapat dukungan kedua orang tuanya.

Alasannya karena ingin menjadi pribadi yang lebih mandiri. Ia bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri.
Dan hidup jauh dari orang tua sedikit banyak telah menggemblengmentalnya.
“Belajar hidup sendiri. Dulunya aku anak mami banget dan tidak bisa hidup mandiri. Kalau dibandingkan lebih senang sekarang bisa hidup mandiri. Aku bisa masak, cuci piring sendiri, cuci baju, nyapu kamar sendiri.“

Tapi Wulan mengakui banyak hal yang tidak mengenakkan ketika jauh dari orang tua.
“Ada plus minusnya. Kalau kangen dengan Mama biasanya saling telepon dan selalu ditanyain sudah makan belum, aku juga sering kangen masakan Mama. Kadang repot juga kalau ada apa-apa karena jauh.“

***
TIVAL, Ririn maupun Wulan adalah sebagian kecil contoh dalam kehidupan seharihari mengenai anak muda sekarang yang lebih memilih dan memutuskan untuk tinggal dan hidup sendiri tanpa campur tangan orang tua.
Fenomena itu menurut psikolog Dra Hastaning Sakti MKes, lebih dikarenakan faktor pencarian jati diri. Seorang anak yang tumbuh dewasa mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan eksistensi dirinya bahwa mereka bisa dan mampu menjalani hidup sesuai keinginannya.

“Itu psikologi anak yang ingin mengaktualisasikan diri dan menunjukkan ke orang tua.
Sebagian dari mereka memang ingin mandiri karena melihat teman dan mencoba mengalokasikan waktu dengan bertangungjawab sendiri.“

Menurutnya, kondisi itu tidak hanya terjadi pada keluarga yang kurang harmonis, tapi juga anak dari keluarga baik-baik. Namun, Hastining mengungkapkan, anak yang lebih merasa nyaman jauh dari orang tua itu terjadi karena kemungkinan besar orang tua tidak memberi kesempatan penuh kepada anaknya untuk berkembang.
“Orang tua tidak memberi pemahaman kepada anak, padahal seharusnya bisa member opsi atau pilihan, tidak melarang, mengekang atau menutup akses mereka untuk berkembang. Cenderung meng-underestimate anak. Misalnya, nanti kalau ada apa-apa, bagaimana? Orang tua harus sadar akan hal itu.” Setiap anak butuh eksistensi diri tapi sering tidak didukung oleh orang tua sehingga sering tidak sepaham seperti yang dialami Tival. Atau, memilih keluar dan hidup jauh karena tidak dihargai seperti halnya Ririn yang sangat enggan untuk bersua dengan orang tuanya meski hanya melalui telepon. Biasanya orang tua tidak tahu cara berkomunikasi. Ini biasa terjadi.

”Orang tua seyogianya mendukung, tidak perlu menelepon terus untuk mengetahui segala hal yang sedang dilakukan si anak.” Kondisi idealnya menurut Hastining Sakti, kedua belah pihak harus saling membuka diri. ”Anak yang sudah menikah pun kadang masih diintervensi dan masih diperhatikan secara berlebihan.” Dia juga mengungkapkan tiga hal yang mendasar yang bisa dipraktikkan anak maupun
orang tua dalam berkomunikasi dan membina hubungan yang seimbang, yaitu menerima, menghargai, dan mengakui. Konsep ini berlaku untuk anak dan orang tua dan berbagai tingkatan. “Kadang anak merasa sudah besar dan suka gengsi.“
Kegagalan komunikasi yang mengakibatkan ketidaknyamanan, rasa khawatir yang berlebihan atau protektif ini karena orang tua tidak pernah berinteraksi dengan anak, pun sebaliknya.

Memang kadang diakui bahwa menerima, menghargai, dan mengakui apa pun kondisi masingmasing bukan hal yang mudah. Ia juga menegaskan bahwa sikap saling menghargai itu harus dimunculkan.
“Mengakui itu mudah tapi sulit.Sekadar mengakui saja. Bagaimana bisa menghargai dan mengakui kalau keduanya sering negative thinking melulu.“

Ada beberapa hal atau contoh kecil berdampak sangat positif untuk membina hubungan baik dan bentuk membina hubungan baik dan bentuk saling menghargai antara keduanya. Misalnya, saling mengetahui dan memahami kondisi masing-masing. Anak lebih baik memberitahukan keadaannya sehingga orang tua tidak merasa khawatir. Bisa melalui pesan singkat atau bicara dengan kata-kata manis dan halus.

Cara berkomunikasi pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi seperti telepon hingga jejaring sosial seperti Facebook.
Jadi, yang harus diketahui kedua belah pihak adalah bahwa kebersamaan dalam keluarga itu adalah hal paling indah. Keluarga adalah harta yang tak ternilai. Saling mengerti, memahami, dan menjaga menjadi kunci keharmonisan. Jagalah keluarga selagi mampu, dalam kondisi dekat maupun jauh. (62)

NONI ARNEE
Bebrayan_220810

10.07.2010

Kyai Tombo Ati sang Penakluk Preman

Muhammad Kuswanto (Gus Tanto)

Sepintas dia berkesan gahar dengan rambut tertutup kopiah hitam yang tergerai lurus hingga sepinggul, pakaian serbahitam den gan pin bendera Merah Putih menempel di kerah baju. Tapi sosok kiai nahdliyin yang satu ini memiliki suara yang lembut.

“Orang sering hanya melihat penampilan fisik semata,padahal semua sama. Yang diutamakan perilakunya,“ ujar Muhamad Kuswanto, atau lebih akrab disapa Gus Tanto mengomentari penampilannya.

Gus Tanto adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Istighfar di kawasan Perbalan Semarang. Pesantren yang dikenal masyarakat umum sebagai Pesantren Preman itu berada di sebuah perkampungan yang sejak zaman penjajahan Jepang dikenal sebagai “sarang penyamun“, atau diidentikkan dengan “perbal“, sebagai komunitas gali.

Pondok Pesantren Istighfar awalnya memang khusus mengasuh preman yang berniat insyaf. Lantas bagaimana Gus Tanto menaklukkan para preman yang waktu itu dianggap sangat meresahkan masyarakat?

Semua berawal dari anggapan masyarakat yang mencap negatif pada pemuda Perbalan.
Kondisi itu membuatnya tersentak. Gus Tanto tak tahan menyaksikan kekerasan di sekitarnya sehingga ia bertekad merubah citra kampung tempat tinggalnya dengan membangun pondok pesantren. “Saya lahir, besar, dan tinggal sampai sekarang di sini. Sejak kecil saya terbiasa berkelahi. Namun, saya terpaksa berkelahi untuk membela teman atau membela diri. Ini yang membedakan saya dengan remaja kebanyakan.
Dari situ saya terbiasa dengan kehidupan preman, yang identik dengan kekerasan,“ ujar Gus Tanto saat ditemui.

Selepas SMApada 1986, Gus Tanto tergugah untuk berdakwah di jagad gelap, di tengah para preman. Lelaki berambut gondrong ini pun mengembara. Dia berguru kepada kiai-kiai utama yang tersebar di Pulau Jawa, mulai dari Banten sampai Banyuwangi untuk mencari strategi jitu agar bisa menebar dakwah di kalangan preman.
Dua tahun kemudian dia mulai melakukan pembinaan terhadap preman. Untuk menyelami lebih dekat kehidupan para preman, dia menyambangi tempat perjudian, diskotek, dan lokasi pelacuran. Dia juga aktif di ring tinju.

“Perjuangannya sampai ke mana-mana.Saya terjun di terminal langsung tempat mereka biasa mangkal. Dari bandit kelas bawah sampai kelas atas hingga tetek bengek, ada di sana. Saya mendalami psikologi mereka hingga menyadar kan mereka bahwa yang mereka lakukan itu negatif,“ cerita ayah dari Husein Tito Nurkholis (17), Amalia Zulva Nilasari (11), dan Najwa Ayu Khusnul Khotimah (2) itu.

***
GUS Tanto mangkal di teminal sebagai mandor. Para preman disapa dan dibina secara perlahan melalui pengajian dan konsultasi rohani, hingga kembali menemukan jalan Tuhan. Dalam mujahadah itu, dia berusaha menawarkan rasa sejuk di hati para preman. Di mata Gus Tanto, preman tidak membutuhkan bahasa ucapan, tapi butuh bahasa praktik. Dengan pendekatan itu, satu per satu preman di Terminal Semarang merasa tersentuh dan ikut mujahadah yang sudah digelar sejak tahun 1988 di Perbalan.

“Dulu saya hanya mengoordinasi dan membina preman dari pangkalan satu ke pangkalan yang lain. Dekati secara personal, mereka saya ajak kumpul-kumpul. Lalu saya ajak Yasinan dan tahlilan bersama. Setelah itu, baru ngobrol yang lain. Awalnya 10-15 orang. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah bergiliran.
Lama-lama banyak yang tertarik.“

Meski bangunan pondok pesantrennya baru berdiri pada 2005, namun aktivitas jamaah pesantren yang dipimpin putra bungsu dari empat bersaudara pasangan Siti Kustinah dan Muhammad Nasiran ini sudah berlangsung sejak 20 tahun lebih. Itu bersamaan dengan kiprah Gus Tanto di dunia jalanan dan preman.

Kuncinya, menurut Gus Tanto, adalah tidak menggurui dan mendikte para preman. Selain itu juga dia menanamkan rasa saling menghargai dan menghormati kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka pun merasa lebih nyaman belajar di Ponpes Istigfar karena lebih menekankan pembentukan akhlakul karimah.

“Saya juga tidak pernah melarang para santri tak berbuat maksiat. Tidak pernah bilang mabuk itu haram, menodong itu dosa. Mereka sudah tahu. Mereka saya ingatkan secara tidak langsung, perlahan-lahan. Yang sudah bisa sedikit berubah, mereka saya suruh puasa Senin dan Kamis. Dengan puasa, nafsu terkendali. Kami juga melakukan shalat malam berjemaah,“ jelas laki-laki tamatan SMA5 Semarang tersebut.
***

APA yang dilakukan Gus Tanto begitu disukai karena caranya mendekatkan diri dengan t santri yang disebutnya jemaah. Bentuk pencerahan rohani yang biasa dilakukan Gus Tanto adalah metode ngaji Tombo Ati, yakni membu i ka hati para jemaahnya untuk berbuat baik. t “Saya hanya tekankan, jika kita mau mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita. Jika kita l berbuat baik kepada makhluk yang hidup di bumi, yang ada di langit akan menyayangi kita.“

Filosofi itulah yang ia terapkan pada dirinya sendiri, istri tercinta dan ketiga anaknya dalam kehidupan sehari-hari. “Awalnya justru dari diri sendiri dan keluarga. Itu yang terpenting, baru kemudian ditularkan kepada mereka.“
Kini, suasana religius ini dapat kita jumpai tiap malam usai pengajian dan shalat berjamaah ( di Pondok Pesantren Istigfar. Nama “istighfar“ itu diambil karena tempat itu menjadi sarana untuk bertobat.

Di pesantren yang sekaligus tempat tinggal Gus Tanto ini, sekitar 200-an mantan preman belajar mendekatkan diri kepada Tuhan. Semuanya adalah santri kalong. Santri yang datang ke pondok jika ada acara atau membutuhkan konsultasi. “Tapi kalau yang keluar masuk sudah tak terhitung lagi,“ tambah suami dari Daryanti (43) itu.

Gus Tanto beranggapan bahwa setiap manusia memiliki sisi positif dan negatif. Apalagi pada dasarnya mereka tidak ingin menjadi preman. Namun, situasi menjerumuskan mereka ke jalur preman. “Kebetulan saja, orang yang kita sebut sebagai preman sisi positifnya belum tersentuh. Dalam menilai seseorang, kadang kita tidak fair, hanya melihat sisi negatif seseorang tanpa melihat sisi positifnya. Kalau kita tahu perilaku preman itu salah, mengapa tidak kita ingatkan? Untuk mengingatkan, kita harus dekat dengan mereka.“

Kini pondok pesantren ini terus berkembang. Pendirian pesantren tidak hanya sebagai bentuk ikhtiar Gus Tanto membantu pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Pesantren ini tidak hanya untuk tempat ngaji para preman, tapi juga tempat anak-anak belajar membaca Alquran dan pengajian ibu-ibu rumah tangga. Bahkan juga mengentaskan pengangguran melalui usaha jasa travel yang dikelola para santri.

Dan seiring dengan waktu, jemaah Gus Tanto yang juga akrab disapa Kiai Tombo Ati ini merebak. Tidak lagi hanya dipenuhi preman, tapi masyarakat dari berbagai stratum sosial seperti pejabat, artis, pegawai, polisi, dan lainlain. “Sekarang preman maknanya luas. Preman menurut saya ada tiga macam, yakni preman berdasi, preman rumah tangga, dan preman berlari. Mereka itu orang-orang yang dusta pada diri sendiri,“ ujarnya tersenyum.

Kini teriakan para pemabuk tiap malam di kampung preman pun tak berbekas. Yang ada hanya lantunan merdu ayat-ayat Alquran yang berasal dari sebuah gang di kampung tersebut.(62)
NONI ARNEE

Suara Merdeka
Bebrayan_150810

Semarang Dalam Selembar Kain Batik

Joko Sunarto

Ingin tahu lebih banyak tentang kota Semarang? Anda bisa mencarinya hanya dalam selembar kain batik ”Jagat Semawis”. Di kain itu tertoreh hampir semua ikon kota Semarang.

Ada delapan ikon yaitu buah asam, blekok, naga simbol pecinan, Lawangsewu, warak, Gereja Blendoek, pagoda, dan perahu nelayan. Semua itu menyatu dalam desain indah.
Desain itu memenangkan anugerah ”Canting Mas Award” dalam Lomba Desain Batik Semarang 2010 yang diselenggarakan dalam rangka Reuni Akbar SMA1 Semarang, belum lama ini. Siapa orang di balik desain jawara itu?

Sosok itu bernama Joko Sunarto (46). Dari tangan dinginnyalah desain kain batik itu tercipta. Ia bukan seorang pengrajin batik mumpuni yang sudah puluhan tahun menekuni batik. Dia adalah karyawan pada Desk Artistik Harian Suara Merdeka. Sudah 20 tahun dia bekerja di koran terbesar di Jawa Tengah ini.

”Tidak menyangka kalau menang karena saya menganggap diri saya belum pantas meraih penghargaan tertinggi untuk pengrajin batik,” ujar Joko merendah.
Ide dan kreativitasnya itulah yang membuat sebagian pengrajin batik ”iri” pada keberhasilan lelaki jebolan Jurusan Seni Rupa IKIP Semarang (sekarang Unnes). Padahal bisa dibilang, ilmu membatiknya hanya dia pelajari dalam kurun waktu satu bulan. Itu pun merupakan tenggat waktu yang diberikan panitia lomba untuk mengirimkan karya.

Kemenangan itu tak diraih dengan mudah. Ada perjuangan dahsyat di balik tropi Canting Emas dan uang yang ia dapatkan sebagai hasil kerja kerasnya. Sedari awal, dia memang sangat antusias untuk mengikuti lomba tersebut. Dia adalah orang pertama yang mengambil formulir lomba.

Saat itu, dia agak terkejut karena yang dilombakan adalah desain batik yang harus diaplikasikan ke selembar kain. Sebagai pendesain, tak sekali pun Joko membatik. Tentu saja, menuangkan desain dalam kain bukan perkara gampang. ”Saya menelepon panitia untuk tanya apakah desain boleh ‘didandakke’ke pengrajin. Ternyata boleh,” ungkap suami Wiwik Widiarsih (41) ini.

Joko sedikit lega. Ia punya waktu satu bulan untuk menyelesaikannya dua desain batik yang akan diikutkan lomba, yaitu ”Jagat Semawis” dan ”Parang Warak”. Joko lantas menghubungi pengrajin batik untuk membantunya. ”Tapi pengrajin butuh waktu 1,5 bulan untuk satu desain.
Itu artinya dalam kondiri normal butuh waktu tiga bulan. Jelas tak cukup untuk memenuhi tenggat waktu lomba.” *** TAK kurang akal, Joko tak mau membuang waktu. Ia pergi ke sentra pengrajin batik di Kampung Laweyan, Solo. Ia sengaja datang dengan tekad untuk belajar membatik pada ahlinya. Ia bertekad mengerjakannya sendiri. Dia sana, dia belajar dengan seseorang yang bernama Hadi, salah seorang pengrajin yang sudah berpengalaman.

Dia belajar ”gerak cepat”. Jika kursus batik umumnya butuh waktu 3-4 minggu untuk mendalami proses membatik, Joko hanya butuh waktu satu hari saja. Kemampuan menggambar desain selama ini ternyata memberi keuntungan. Ia lebih cepat menguasai proses membuat pola. ”Kursus kilat cuma satu hari. Harus bisa dan satu hari itu juga selesai.” Di Laweyan, Joko sadar, membatik tidak semudah yang ia bayangkan. Apalagi saat mempelajari proses pewarnaan, dengan jujur dia mengalami kesulitan. Tapi tantangan itulah yang justru memacunya untuk menyelesaikan karya dengan tangannya sendiri.

”Saya menggabungkan warna alam dan warna yang pakai bahan kimia. Sampai puluhan kali mencoba baru berhasil”.
Hingga akhirnya rumah sederhana di kompleks perumahan Pondok Raden Patah Sayung, Demak yang dia tinggali bersama keluarganya itu pun menjadi saksi kegigihannya. Ia menyulap ruang tamunya menjadi workshop dadakan. Segala macam alat untuk membatik pun dipindah ke ruang tamunya.

Semua itu ia kerjakan sendiri di sela-sela rutinitas pekerjaannya. ”Mestinya dalam satu bulan saya mengerjakan satu desain, tapi saya bikin empat, dua gagal dua berhasil Yang dibikin dulu yang sulit, baru yang lebih mudah.” Desain ”Jagat Semawis” dituangkan ke atas kain berwarna hijau. Warna yang dianggapnya teduh bagi si pemakai batik karyanya ini dia hasilkan setelah melakukan uji coba warna. ”Yang sulit melakukan pewarnaan di kain. Mencoba-coba semua warna hasilnya kurang bagus. Hingga ketemu warna hijau, hasilnya lebih oke,” ujar ayah dari Noel Lanang (13) dan Alberta Putri (10) itu.
***
INSPIRASI ”Jagat Semawis” tidak datang begitu saja. Sudah sekian lama diamdiam Lelaki kelahiran Boyolali 17 Februari 1964 ini sering memperhatikan berbagai motif kain batik termasuk batik semarangan.
Ia mengakui, desain-desain dari batik semarangan sangat bagus. Tapi ada hal yang disoroti Joko. Dia melihat hanya ikon asam, atau tugu muda saja yang sering muncul. Maka, kata Joko, memasukkan hampir semua ikon akan lebih bisa menggambarkan kota Semarang secara utuh.

Pemberian nama desain batiknya juga punya cerita tersendiri. Ide kreatifnya ini ia temukan dalam batik ”Sekar jagat” , salah satu jenis kain batik yang desain motifnya menggabungkan beberapa motif menjadi satu. Dari situlah kemudian ia memberi nama desainnya dengan nama ”Jagat Semawis”, yang artinya ”jagat Semarang”.
Selain itu, ia juga membuat desain ”Parang Warak”, desain kepala warak ngendok dengan hiasan tumpal Tugumuda di bawahnya. Dua desain miliknya masuk nominasi, dan ”Jagat Semawis” menyabet juara satu.

Ya, dalam keseharian, Joko memang dikenal kreatif. Saat punya waktu kosong, tangannya tak pernah berhenti membuat sesuatu.
”Dari dulu saya suka kerajinan. Karena siang hari saya santai dan banyak waktu luang, maka saya manfaatkan untuk berkreasi, khususnya kerajinan daur ulang.” Pantas saja jika di rumahnya banyak barang ”sampah” yang ia kumpulkan dari pemulung. Ia juga memberdayakan warga sekitar untuk membantunya.
Hasilnya, ia sempat mempunyai gerai kerajinan khusus produk daur ulang di sebuah supermarket. Berbagai produk dengan label ”Samben” dia buat, antara lain tas, sandal, tempat tisu, tempat pensil, dan undangan.

Ia juga menyuplai produk untuk mengikuti pameran kerajinan di berbagai tempat dan toko buku besar di Semarang .
Yang jelas, setelah kemenangan itu, tawaran berdatangan, mulai dari tawaran mendesain hingga mengajar batik. Tapi ada satu hal yang kini berada dalam benak Joko.

Menjadi pengrajin batik. Dan ia punya kemampuan untuk itu. ”Saya yakin, saya bisa,” ujarnya mantap. (62)

Suara Merdeka
Bebrayan_010810