10.07.2010

Semarang Dalam Selembar Kain Batik

Joko Sunarto

Ingin tahu lebih banyak tentang kota Semarang? Anda bisa mencarinya hanya dalam selembar kain batik ”Jagat Semawis”. Di kain itu tertoreh hampir semua ikon kota Semarang.

Ada delapan ikon yaitu buah asam, blekok, naga simbol pecinan, Lawangsewu, warak, Gereja Blendoek, pagoda, dan perahu nelayan. Semua itu menyatu dalam desain indah.
Desain itu memenangkan anugerah ”Canting Mas Award” dalam Lomba Desain Batik Semarang 2010 yang diselenggarakan dalam rangka Reuni Akbar SMA1 Semarang, belum lama ini. Siapa orang di balik desain jawara itu?

Sosok itu bernama Joko Sunarto (46). Dari tangan dinginnyalah desain kain batik itu tercipta. Ia bukan seorang pengrajin batik mumpuni yang sudah puluhan tahun menekuni batik. Dia adalah karyawan pada Desk Artistik Harian Suara Merdeka. Sudah 20 tahun dia bekerja di koran terbesar di Jawa Tengah ini.

”Tidak menyangka kalau menang karena saya menganggap diri saya belum pantas meraih penghargaan tertinggi untuk pengrajin batik,” ujar Joko merendah.
Ide dan kreativitasnya itulah yang membuat sebagian pengrajin batik ”iri” pada keberhasilan lelaki jebolan Jurusan Seni Rupa IKIP Semarang (sekarang Unnes). Padahal bisa dibilang, ilmu membatiknya hanya dia pelajari dalam kurun waktu satu bulan. Itu pun merupakan tenggat waktu yang diberikan panitia lomba untuk mengirimkan karya.

Kemenangan itu tak diraih dengan mudah. Ada perjuangan dahsyat di balik tropi Canting Emas dan uang yang ia dapatkan sebagai hasil kerja kerasnya. Sedari awal, dia memang sangat antusias untuk mengikuti lomba tersebut. Dia adalah orang pertama yang mengambil formulir lomba.

Saat itu, dia agak terkejut karena yang dilombakan adalah desain batik yang harus diaplikasikan ke selembar kain. Sebagai pendesain, tak sekali pun Joko membatik. Tentu saja, menuangkan desain dalam kain bukan perkara gampang. ”Saya menelepon panitia untuk tanya apakah desain boleh ‘didandakke’ke pengrajin. Ternyata boleh,” ungkap suami Wiwik Widiarsih (41) ini.

Joko sedikit lega. Ia punya waktu satu bulan untuk menyelesaikannya dua desain batik yang akan diikutkan lomba, yaitu ”Jagat Semawis” dan ”Parang Warak”. Joko lantas menghubungi pengrajin batik untuk membantunya. ”Tapi pengrajin butuh waktu 1,5 bulan untuk satu desain.
Itu artinya dalam kondiri normal butuh waktu tiga bulan. Jelas tak cukup untuk memenuhi tenggat waktu lomba.” *** TAK kurang akal, Joko tak mau membuang waktu. Ia pergi ke sentra pengrajin batik di Kampung Laweyan, Solo. Ia sengaja datang dengan tekad untuk belajar membatik pada ahlinya. Ia bertekad mengerjakannya sendiri. Dia sana, dia belajar dengan seseorang yang bernama Hadi, salah seorang pengrajin yang sudah berpengalaman.

Dia belajar ”gerak cepat”. Jika kursus batik umumnya butuh waktu 3-4 minggu untuk mendalami proses membatik, Joko hanya butuh waktu satu hari saja. Kemampuan menggambar desain selama ini ternyata memberi keuntungan. Ia lebih cepat menguasai proses membuat pola. ”Kursus kilat cuma satu hari. Harus bisa dan satu hari itu juga selesai.” Di Laweyan, Joko sadar, membatik tidak semudah yang ia bayangkan. Apalagi saat mempelajari proses pewarnaan, dengan jujur dia mengalami kesulitan. Tapi tantangan itulah yang justru memacunya untuk menyelesaikan karya dengan tangannya sendiri.

”Saya menggabungkan warna alam dan warna yang pakai bahan kimia. Sampai puluhan kali mencoba baru berhasil”.
Hingga akhirnya rumah sederhana di kompleks perumahan Pondok Raden Patah Sayung, Demak yang dia tinggali bersama keluarganya itu pun menjadi saksi kegigihannya. Ia menyulap ruang tamunya menjadi workshop dadakan. Segala macam alat untuk membatik pun dipindah ke ruang tamunya.

Semua itu ia kerjakan sendiri di sela-sela rutinitas pekerjaannya. ”Mestinya dalam satu bulan saya mengerjakan satu desain, tapi saya bikin empat, dua gagal dua berhasil Yang dibikin dulu yang sulit, baru yang lebih mudah.” Desain ”Jagat Semawis” dituangkan ke atas kain berwarna hijau. Warna yang dianggapnya teduh bagi si pemakai batik karyanya ini dia hasilkan setelah melakukan uji coba warna. ”Yang sulit melakukan pewarnaan di kain. Mencoba-coba semua warna hasilnya kurang bagus. Hingga ketemu warna hijau, hasilnya lebih oke,” ujar ayah dari Noel Lanang (13) dan Alberta Putri (10) itu.
***
INSPIRASI ”Jagat Semawis” tidak datang begitu saja. Sudah sekian lama diamdiam Lelaki kelahiran Boyolali 17 Februari 1964 ini sering memperhatikan berbagai motif kain batik termasuk batik semarangan.
Ia mengakui, desain-desain dari batik semarangan sangat bagus. Tapi ada hal yang disoroti Joko. Dia melihat hanya ikon asam, atau tugu muda saja yang sering muncul. Maka, kata Joko, memasukkan hampir semua ikon akan lebih bisa menggambarkan kota Semarang secara utuh.

Pemberian nama desain batiknya juga punya cerita tersendiri. Ide kreatifnya ini ia temukan dalam batik ”Sekar jagat” , salah satu jenis kain batik yang desain motifnya menggabungkan beberapa motif menjadi satu. Dari situlah kemudian ia memberi nama desainnya dengan nama ”Jagat Semawis”, yang artinya ”jagat Semarang”.
Selain itu, ia juga membuat desain ”Parang Warak”, desain kepala warak ngendok dengan hiasan tumpal Tugumuda di bawahnya. Dua desain miliknya masuk nominasi, dan ”Jagat Semawis” menyabet juara satu.

Ya, dalam keseharian, Joko memang dikenal kreatif. Saat punya waktu kosong, tangannya tak pernah berhenti membuat sesuatu.
”Dari dulu saya suka kerajinan. Karena siang hari saya santai dan banyak waktu luang, maka saya manfaatkan untuk berkreasi, khususnya kerajinan daur ulang.” Pantas saja jika di rumahnya banyak barang ”sampah” yang ia kumpulkan dari pemulung. Ia juga memberdayakan warga sekitar untuk membantunya.
Hasilnya, ia sempat mempunyai gerai kerajinan khusus produk daur ulang di sebuah supermarket. Berbagai produk dengan label ”Samben” dia buat, antara lain tas, sandal, tempat tisu, tempat pensil, dan undangan.

Ia juga menyuplai produk untuk mengikuti pameran kerajinan di berbagai tempat dan toko buku besar di Semarang .
Yang jelas, setelah kemenangan itu, tawaran berdatangan, mulai dari tawaran mendesain hingga mengajar batik. Tapi ada satu hal yang kini berada dalam benak Joko.

Menjadi pengrajin batik. Dan ia punya kemampuan untuk itu. ”Saya yakin, saya bisa,” ujarnya mantap. (62)

Suara Merdeka
Bebrayan_010810

Tidak ada komentar: