Tival (23) menggerutu begitu selesai menerima telepon dari mamanya yang berada di Jakarta. Perhatian ibundanya yang mengecek hampir setiap hari melalui telepon genggamnya justru membuatnya jengah.
Ditambah lagi berbagai larangan dengan alasan untuk kebaikan. Ia merasa orang tua sering memakai sejarah hidup mereka untuk “mengatur“ kehidupannya.
“Mama lagi, Mama lagi. Biasa ngecek aku lagi apa. Dia nyokap tipe protektif dan aku sering kurang klop sama keinginannya,“ ujar mahasiswa yang baru lulus dari sebuah perguruan tinggi di Semarang itu.
Maklum, sejak lama Tival selalu mengikuti pilihan orang tua. Begitu diterima kuliah di Semarang, tentu saja ia merasakan kebebasan. “Enak banget hidup jauh dari ortu bisa bebas menjalani kehidupan. Semua pilihan hidup kita tanggung sendiri.“
Konsekuensinya, semua permasalahan Tival harus diselesaikan sendiri agar ibundanya tidak khawatir. “Biasanya laporan yang baik saja. Misalnya, jadi asisten dosen, ikut seminar ini-itu. Kalau ada masalah tidak bilang, selesaikan masalahnya sendiri atau dengan kawan. Biar tidak kepikiran. Pokoknya jangan sampai tahulah,“ ungkap anak sulung dari tiga bersaudara tersebut.
Begitu juga dengan Ririn (26) yang sudah dua tahun terakhir ini bekerja di Semarang.
Bisa dibilang ia sangat jarang berkomunikasi dengan orang tuanya. Bahkan sejak diterima bekerja di sebuah agen properti, belum sekali pun menginjakkan kaki ke kampung halaman di Malang untuk bertemu keluarganya. “Tidak, ah. Mendingan di Semarang saja, lebih nyaman di sini,“ ujar Ririn. Dulu, tinggal bersama orang tua kadang dianggapnya sebagai sebuah “siksaan“ karena menurut perempuan ayu ini, keluarga terlalu banyak mengekang dirinya dengan berbagai macam aturan. Ia juga merasa kurang pergaulan alias kuper. “Dulu main dengan temanteman saja dilarang. Pulang harus tepat waktu. Alasannya nanti kamu beginilah, begitulah. Makanya ada kesempatan out dari rumah ya jelas senang banget. Bisa bebas,“ jelas Ririn.
Sedikit berbeda, Wulan (22) mengaku keputusan ngekos mendapat dukungan kedua orang tuanya.
Alasannya karena ingin menjadi pribadi yang lebih mandiri. Ia bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri.
Dan hidup jauh dari orang tua sedikit banyak telah menggemblengmentalnya.
“Belajar hidup sendiri. Dulunya aku anak mami banget dan tidak bisa hidup mandiri. Kalau dibandingkan lebih senang sekarang bisa hidup mandiri. Aku bisa masak, cuci piring sendiri, cuci baju, nyapu kamar sendiri.“
Tapi Wulan mengakui banyak hal yang tidak mengenakkan ketika jauh dari orang tua.
“Ada plus minusnya. Kalau kangen dengan Mama biasanya saling telepon dan selalu ditanyain sudah makan belum, aku juga sering kangen masakan Mama. Kadang repot juga kalau ada apa-apa karena jauh.“
***
TIVAL, Ririn maupun Wulan adalah sebagian kecil contoh dalam kehidupan seharihari mengenai anak muda sekarang yang lebih memilih dan memutuskan untuk tinggal dan hidup sendiri tanpa campur tangan orang tua.
Fenomena itu menurut psikolog Dra Hastaning Sakti MKes, lebih dikarenakan faktor pencarian jati diri. Seorang anak yang tumbuh dewasa mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan eksistensi dirinya bahwa mereka bisa dan mampu menjalani hidup sesuai keinginannya.
“Itu psikologi anak yang ingin mengaktualisasikan diri dan menunjukkan ke orang tua.
Sebagian dari mereka memang ingin mandiri karena melihat teman dan mencoba mengalokasikan waktu dengan bertangungjawab sendiri.“
Menurutnya, kondisi itu tidak hanya terjadi pada keluarga yang kurang harmonis, tapi juga anak dari keluarga baik-baik. Namun, Hastining mengungkapkan, anak yang lebih merasa nyaman jauh dari orang tua itu terjadi karena kemungkinan besar orang tua tidak memberi kesempatan penuh kepada anaknya untuk berkembang.
“Orang tua tidak memberi pemahaman kepada anak, padahal seharusnya bisa member opsi atau pilihan, tidak melarang, mengekang atau menutup akses mereka untuk berkembang. Cenderung meng-underestimate anak. Misalnya, nanti kalau ada apa-apa, bagaimana? Orang tua harus sadar akan hal itu.” Setiap anak butuh eksistensi diri tapi sering tidak didukung oleh orang tua sehingga sering tidak sepaham seperti yang dialami Tival. Atau, memilih keluar dan hidup jauh karena tidak dihargai seperti halnya Ririn yang sangat enggan untuk bersua dengan orang tuanya meski hanya melalui telepon. Biasanya orang tua tidak tahu cara berkomunikasi. Ini biasa terjadi.
”Orang tua seyogianya mendukung, tidak perlu menelepon terus untuk mengetahui segala hal yang sedang dilakukan si anak.” Kondisi idealnya menurut Hastining Sakti, kedua belah pihak harus saling membuka diri. ”Anak yang sudah menikah pun kadang masih diintervensi dan masih diperhatikan secara berlebihan.” Dia juga mengungkapkan tiga hal yang mendasar yang bisa dipraktikkan anak maupun
orang tua dalam berkomunikasi dan membina hubungan yang seimbang, yaitu menerima, menghargai, dan mengakui. Konsep ini berlaku untuk anak dan orang tua dan berbagai tingkatan. “Kadang anak merasa sudah besar dan suka gengsi.“
Kegagalan komunikasi yang mengakibatkan ketidaknyamanan, rasa khawatir yang berlebihan atau protektif ini karena orang tua tidak pernah berinteraksi dengan anak, pun sebaliknya.
Memang kadang diakui bahwa menerima, menghargai, dan mengakui apa pun kondisi masingmasing bukan hal yang mudah. Ia juga menegaskan bahwa sikap saling menghargai itu harus dimunculkan.
“Mengakui itu mudah tapi sulit.Sekadar mengakui saja. Bagaimana bisa menghargai dan mengakui kalau keduanya sering negative thinking melulu.“
Ada beberapa hal atau contoh kecil berdampak sangat positif untuk membina hubungan baik dan bentuk membina hubungan baik dan bentuk saling menghargai antara keduanya. Misalnya, saling mengetahui dan memahami kondisi masing-masing. Anak lebih baik memberitahukan keadaannya sehingga orang tua tidak merasa khawatir. Bisa melalui pesan singkat atau bicara dengan kata-kata manis dan halus.
Cara berkomunikasi pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi seperti telepon hingga jejaring sosial seperti Facebook.
Jadi, yang harus diketahui kedua belah pihak adalah bahwa kebersamaan dalam keluarga itu adalah hal paling indah. Keluarga adalah harta yang tak ternilai. Saling mengerti, memahami, dan menjaga menjadi kunci keharmonisan. Jagalah keluarga selagi mampu, dalam kondisi dekat maupun jauh. (62)
NONI ARNEE
Bebrayan_220810
Tidak ada komentar:
Posting Komentar