Raden Michael Tjipto Martojo
Minum kopi kini menjadi gaya hidup. Kedai kopi tradisional hingga bergaya modern berkelas internasional bertebaran hampir disetiap tempat. Disitu ditawarkan berbagai jenis kopi khas.
Salah satunya kopi legendaris asal Bedono Ambarawa ini. Namanya Eva coffe atau lebih beken disebut kopi Eva. Nama kopi ini memang tidak bisa lepas dari Eva Coffee house, sebuah restoran yang berada di tepi jalur utama Semarang-Yogyakarta, tepatnya di jalan raya Bedono-Ambarawa. Restoran ini dijadikan penyangga sebagai pusat penjualan dan produksi kopi tradisional ini. Hanya disinilah kopi murni asal kebun sendiri dari kebun Tjipto Martojo bisa dicari.
Michael Tjipto Martojo adalah sosok dibalik kenikmatan seduhan kopi Eva. Pria asal Yogyakarta kelahiran 2 september 1923 inilah pemilik Eva Coffee house. Lelaki 88 tahun yang selalu berpakaian rapi dan terlihat bugar hingga kini masih menangani sendiri bisnisnya. Ia tiap hari masih berkutat dengan buku catatan stok dan keuangan di belakang meja kasir.
”Tiap hari di sini dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam. Membuat audit laporan keuangan," tutur laki-laki yang masih memiliki ingatan tajam ini.
Tjipto merintis pusat penjualan dan produksi kopinya sejak 1954. Tepatnya sejak ia mengubah haluan hidupnya dari seorang anggota Tentara Rakyat Mataram (TRM) yang setiap hari memanggul senjata menjadi petani kopi.
”Tidak ada jaminan menjadi tentara, apalagi kalau sudah cacat. Dari situ saya harus berpikir untuk mencari kehidupan lain,” ujar lelaki yang juga anggota Brigade 17 itu.
Dengan berbekal ijazah sekolah ekonomi pendidikan Belanda, Iapun menggarap kebun kopi seluas 20 ha milik istrinya, anak lurah Bedono waktu itu. Ia menanam sendiri kopi robusta di areal perkebunan pribadi dan menjalankan roda bisnisnya.
”Waktu sekolah, guru-guru sering mengajarkan cara berdagang untuk menaikkan harga jual. Misalnya kopi yang biasa dijual dengan harga 10 rupiah kalau dibikin bubuk bisa naik harganya menjadi 15 rupiah.”
Bersama istrinya, Tjipto mendirikan warung kopi sederhana berukuran 9x5 meter di jalur utama Semarang-Yogyakarta. Waktu itu pelanggannya hanya orang yang melintas di jalur itu. Seiring berjalannya waktu, bisnisnya mulai berkembang menjadi restoran ”Eva Coffe House” dan homestay yang menempati areal seluas 3 ha. Tidak hanya wisatawan lokal yang mampir mencicipi kopinya, tapi juga wisatawan asing yang selalu memborong kopi yang sengaja tidak dijual ditempat lain untuk menjaga kualitasnya.
”Menjadi tempat transit turis yang ke Borobudur. Banyak bule bilang bau kopi seperti kacang mete. Dulu, kalau belum mampir ke sini sepertinya belum mampir ke Jawatengah. Menyenangkan hidup di desa tapi dapat dolar,” kata ayah yang memiliki lima anak perempuan dan lima anak laki-laki.
Meski puluhan tahun menggeluti bisnis kopi, Tjipto Martojo bukanlah orang yang tahu dan mengenal cita rasa kopi. Pejuang kemerdekaan dengan 12 bintang jasa itu mendapat resep kopi istimewa justru dari teman baiknya bernama Hassel Rius, seorang dosen Universitas Gajah Mada (UGM) asal Denmark yang memberikan resep rahasia kopi yang dikemas dengan aluminium foil ini. ”Ia melakukan penelitian cara mengolah biji kopi dan memberikan ramuan khusus agar aroma kopi lebih kuat dan awet.”
Kopinya harum, bahkan aroma khas kopi sudah tercium dari kemasannya. Tidak hanya citarasa tapi juga kemasan yang khas. Menurut Tjipto, kopi miliknya berbeda dari kopi bubuk lainnya. Rahasia kopi bubuk murni ini ada pada proses pengolahan biji kopi hingga menghasilkan kopi hitam murni siap seduh. Untuk menjamin kualitas, biji kopi dicuci dan direndam ramuan atau obat khusus yang didatangkan dari negeri Belanda.
”Ramuan khususlah yang membuat biji kopi tahan hingga 15 tahun,” ungkap suami Christina Sunarti.
Tjipto menambahkan, kopi buatannya juga berkhasiat untuk obat.” Luka penderita gula jika dibubuhi kopi ini bisa cepat mengering. Bahkan digunakan untuk taburan di peti orang mati agar wangi dan tidak bau.”
Pada masa jaya tahun 1980-an kopi buatan Tjipto begitu dikenal. Kopinya tidak hanya merambah Jawa, Sumatera, Bali dan Lombok, tapi juga di suplai di pabrik-pabrik besar dan diekspor ke luar negeri. Ia juga membuat varian produk selain kopi bubuk, yakni biji kopi kemasan siap giling dan sirop kopi murni tanpa campuran dan bahan pengawet. ”Sirop tahan paling lama hanya satu bulan dan harus disimpan di lemari pendingin.”
Belakangan, luas kebun kopi Tjipto menyusut hanya 5 ha karena dijual untuk modal usaha anak-anaknya. Karena itu, untuk mensuplai pabrik-pabrik besar, selain kopi dari dari kebun kopi pribadinya, ia juga membeli kopi dari ratusan petani kecil di sekitarnya. Hasil panen ratusan petani kopi ditampung. Kapasitas produksi mencapai setengah ton perhari. ”Semua hasil panen kami tampung, jadi tidak khawatir kopi hasil panennya tidak laku.”
Untuk memberdayakan petani kecil, kakek 21 cucu ini juga memberikan pinjaman modal bagi petani sekitarnya. Upaya itu dilakukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih mapan secara ekonomi. ”Biasanya dibayar pada saat panen. Hidup di desa harus dekat dengan penduduk, bisa saling memberi dan menerima.”
Tapi Tjipto mengakui, kurun tahun 2000-an masa kejayaan kopinya telah menurun, menyusul banyaknya broker kopi yang mematikan pasarannya dan banyak yang memalsu kopinya. ”Misalnya dengan memesan kopi dalam jumlah besar tapi dijual dengan harga murah dibawah harga pasar. Malaysia juga membuat kopi. Mereka beli mentah disini, diolah disana dan dijual dengan kemasan lain.”
Selain itu, kopi robusta yang mulai ditinggalkan masyarakatpun menjadi sebab kemunduran bisnisnya. Karena itu, untuk memenuhi permintaan kopi arabica, ia mengambil kopi arabica mentah dari Timur Leste dan diolah seperti kopi robusta miliknya sebelum dilempar ke pabrik. ” Tren beralih ke kopi arabica,sedangkan kami hanya menanam kopi robusta.”
Tapi menghadapi persaingan kopi sekarang ini, Tjipto tetap optimis. Kuncinya, mempertahankan kualitas aroma dan rasa kopi. Ia hanya memproduksi kopi murni tanpa campuran.
Merintis bisnis kopi hingga bertahan setengah abad lebih tentunya bukan hal yang mudah. Perlu perjuangan keras seperti filosofi hidup dari orang tuanya, R Martowiharjo dan RA Sumartinah ini.
Dan kini, keseriusan dan semangatnya menghidupkan bisnis kopi dan restorannya hingga usia senja ia tularkan pada ke lima anak perempuannya yang membantu menjalankan bisnisnya. ”Orang hidup itu harus teliti, titi dan titis. Harus berjuang dan bekerja keras agar berhasil. Keuangan dan keluarga harus dipikirkan betul-betul.”
NONI ARNEE
Bebrayan_190910
Tidak ada komentar:
Posting Komentar