Muhammad Kuswanto (Gus Tanto)
Sepintas dia berkesan gahar dengan rambut tertutup kopiah hitam yang tergerai lurus hingga sepinggul, pakaian serbahitam den gan pin bendera Merah Putih menempel di kerah baju. Tapi sosok kiai nahdliyin yang satu ini memiliki suara yang lembut.
“Orang sering hanya melihat penampilan fisik semata,padahal semua sama. Yang diutamakan perilakunya,“ ujar Muhamad Kuswanto, atau lebih akrab disapa Gus Tanto mengomentari penampilannya.
Gus Tanto adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Istighfar di kawasan Perbalan Semarang. Pesantren yang dikenal masyarakat umum sebagai Pesantren Preman itu berada di sebuah perkampungan yang sejak zaman penjajahan Jepang dikenal sebagai “sarang penyamun“, atau diidentikkan dengan “perbal“, sebagai komunitas gali.
Pondok Pesantren Istighfar awalnya memang khusus mengasuh preman yang berniat insyaf. Lantas bagaimana Gus Tanto menaklukkan para preman yang waktu itu dianggap sangat meresahkan masyarakat?
Semua berawal dari anggapan masyarakat yang mencap negatif pada pemuda Perbalan.
Kondisi itu membuatnya tersentak. Gus Tanto tak tahan menyaksikan kekerasan di sekitarnya sehingga ia bertekad merubah citra kampung tempat tinggalnya dengan membangun pondok pesantren. “Saya lahir, besar, dan tinggal sampai sekarang di sini. Sejak kecil saya terbiasa berkelahi. Namun, saya terpaksa berkelahi untuk membela teman atau membela diri. Ini yang membedakan saya dengan remaja kebanyakan.
Dari situ saya terbiasa dengan kehidupan preman, yang identik dengan kekerasan,“ ujar Gus Tanto saat ditemui.
Selepas SMApada 1986, Gus Tanto tergugah untuk berdakwah di jagad gelap, di tengah para preman. Lelaki berambut gondrong ini pun mengembara. Dia berguru kepada kiai-kiai utama yang tersebar di Pulau Jawa, mulai dari Banten sampai Banyuwangi untuk mencari strategi jitu agar bisa menebar dakwah di kalangan preman.
Dua tahun kemudian dia mulai melakukan pembinaan terhadap preman. Untuk menyelami lebih dekat kehidupan para preman, dia menyambangi tempat perjudian, diskotek, dan lokasi pelacuran. Dia juga aktif di ring tinju.
“Perjuangannya sampai ke mana-mana.Saya terjun di terminal langsung tempat mereka biasa mangkal. Dari bandit kelas bawah sampai kelas atas hingga tetek bengek, ada di sana. Saya mendalami psikologi mereka hingga menyadar kan mereka bahwa yang mereka lakukan itu negatif,“ cerita ayah dari Husein Tito Nurkholis (17), Amalia Zulva Nilasari (11), dan Najwa Ayu Khusnul Khotimah (2) itu.
***
GUS Tanto mangkal di teminal sebagai mandor. Para preman disapa dan dibina secara perlahan melalui pengajian dan konsultasi rohani, hingga kembali menemukan jalan Tuhan. Dalam mujahadah itu, dia berusaha menawarkan rasa sejuk di hati para preman. Di mata Gus Tanto, preman tidak membutuhkan bahasa ucapan, tapi butuh bahasa praktik. Dengan pendekatan itu, satu per satu preman di Terminal Semarang merasa tersentuh dan ikut mujahadah yang sudah digelar sejak tahun 1988 di Perbalan.
“Dulu saya hanya mengoordinasi dan membina preman dari pangkalan satu ke pangkalan yang lain. Dekati secara personal, mereka saya ajak kumpul-kumpul. Lalu saya ajak Yasinan dan tahlilan bersama. Setelah itu, baru ngobrol yang lain. Awalnya 10-15 orang. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah bergiliran.
Lama-lama banyak yang tertarik.“
Meski bangunan pondok pesantrennya baru berdiri pada 2005, namun aktivitas jamaah pesantren yang dipimpin putra bungsu dari empat bersaudara pasangan Siti Kustinah dan Muhammad Nasiran ini sudah berlangsung sejak 20 tahun lebih. Itu bersamaan dengan kiprah Gus Tanto di dunia jalanan dan preman.
Kuncinya, menurut Gus Tanto, adalah tidak menggurui dan mendikte para preman. Selain itu juga dia menanamkan rasa saling menghargai dan menghormati kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka pun merasa lebih nyaman belajar di Ponpes Istigfar karena lebih menekankan pembentukan akhlakul karimah.
“Saya juga tidak pernah melarang para santri tak berbuat maksiat. Tidak pernah bilang mabuk itu haram, menodong itu dosa. Mereka sudah tahu. Mereka saya ingatkan secara tidak langsung, perlahan-lahan. Yang sudah bisa sedikit berubah, mereka saya suruh puasa Senin dan Kamis. Dengan puasa, nafsu terkendali. Kami juga melakukan shalat malam berjemaah,“ jelas laki-laki tamatan SMA5 Semarang tersebut.
***
APA yang dilakukan Gus Tanto begitu disukai karena caranya mendekatkan diri dengan t santri yang disebutnya jemaah. Bentuk pencerahan rohani yang biasa dilakukan Gus Tanto adalah metode ngaji Tombo Ati, yakni membu i ka hati para jemaahnya untuk berbuat baik. t “Saya hanya tekankan, jika kita mau mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita. Jika kita l berbuat baik kepada makhluk yang hidup di bumi, yang ada di langit akan menyayangi kita.“
Filosofi itulah yang ia terapkan pada dirinya sendiri, istri tercinta dan ketiga anaknya dalam kehidupan sehari-hari. “Awalnya justru dari diri sendiri dan keluarga. Itu yang terpenting, baru kemudian ditularkan kepada mereka.“
Kini, suasana religius ini dapat kita jumpai tiap malam usai pengajian dan shalat berjamaah ( di Pondok Pesantren Istigfar. Nama “istighfar“ itu diambil karena tempat itu menjadi sarana untuk bertobat.
Di pesantren yang sekaligus tempat tinggal Gus Tanto ini, sekitar 200-an mantan preman belajar mendekatkan diri kepada Tuhan. Semuanya adalah santri kalong. Santri yang datang ke pondok jika ada acara atau membutuhkan konsultasi. “Tapi kalau yang keluar masuk sudah tak terhitung lagi,“ tambah suami dari Daryanti (43) itu.
Gus Tanto beranggapan bahwa setiap manusia memiliki sisi positif dan negatif. Apalagi pada dasarnya mereka tidak ingin menjadi preman. Namun, situasi menjerumuskan mereka ke jalur preman. “Kebetulan saja, orang yang kita sebut sebagai preman sisi positifnya belum tersentuh. Dalam menilai seseorang, kadang kita tidak fair, hanya melihat sisi negatif seseorang tanpa melihat sisi positifnya. Kalau kita tahu perilaku preman itu salah, mengapa tidak kita ingatkan? Untuk mengingatkan, kita harus dekat dengan mereka.“
Kini pondok pesantren ini terus berkembang. Pendirian pesantren tidak hanya sebagai bentuk ikhtiar Gus Tanto membantu pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Pesantren ini tidak hanya untuk tempat ngaji para preman, tapi juga tempat anak-anak belajar membaca Alquran dan pengajian ibu-ibu rumah tangga. Bahkan juga mengentaskan pengangguran melalui usaha jasa travel yang dikelola para santri.
Dan seiring dengan waktu, jemaah Gus Tanto yang juga akrab disapa Kiai Tombo Ati ini merebak. Tidak lagi hanya dipenuhi preman, tapi masyarakat dari berbagai stratum sosial seperti pejabat, artis, pegawai, polisi, dan lainlain. “Sekarang preman maknanya luas. Preman menurut saya ada tiga macam, yakni preman berdasi, preman rumah tangga, dan preman berlari. Mereka itu orang-orang yang dusta pada diri sendiri,“ ujarnya tersenyum.
Kini teriakan para pemabuk tiap malam di kampung preman pun tak berbekas. Yang ada hanya lantunan merdu ayat-ayat Alquran yang berasal dari sebuah gang di kampung tersebut.(62)
NONI ARNEE
Suara Merdeka
Bebrayan_150810
Tidak ada komentar:
Posting Komentar