Tradisi mudik Lebaran setiap setahun sulit untuk dihilangkan. Bersilaturahmi dengan keluarga besar di kampung halaman pun menjadi momen yang bakal dilewati selama di kota asal.
Dan sudah menjadi lazim, bahwa setiap hari raya seperti Idul Fitri seringkali ada acara tambahan berupa acara reuni atau temu kangen dengan teman-teman sekolah dahulu. Tak bisa dimungkiri, munculnya jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter ikut berperan menyatukan kembali jalinan pertemanan yang sudah lama putus.
Reuni diadakan untuk mengumpulkan lagi teman semasa sekolah, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Reuni yang sering disebut dengan “temu kangen“ selalu disambut dengan antusias karena banyak kisah-kisah manis semasa bersekolah yang sulit dilupakan.
Selain untuk silaturahmi dan memperluas jaringan, temu kangen pun menjadi medium untuk kembali mengenang masa-masa indah dulu ketika bersendau gurau, belajar dan bermain bersama. Sungguh mengasyikkan Tapi di balik temu kangen itu, ada kisah menarik yang patut kita simak. Yakni, sensasi yang dirasakan ketika berjumpa dengan orang yang pernah mempunyai tempat khusus di hati. Seperti beberapa pengakuan beberapa orang di bawah ini.
Doni (45) bertemu Lia, mantan pacarnya di bangku SMA saat reuni tahun lalu. Setelah itu, ketika dia hampir lupa dengan lia, teleponnya berdering. “Tidak mengira dia telepon, padahal setelah reuni kami tak berkomunikasi,“ cerita Doni, ayah dari tiga anak.
Dalam telepon itu, awalnya mereka hanya bercerita seputar kehidupan masing-masing.
Soal anak dan pekerjaan. Namun, tiga bulan kemudian, mereka bertemu ketika keduanya berdinas di Jakarta. Lia lalu secara intensif menghubungi Doni dan berlanjut dengan pertemuan mereka tiap ada kesempatan. “Pembicaraannya umum saja atau cerita nostalgia semata,“ ujar Doni yang merasa tak perlu menceritakan hal itu kepada istrinya.
Sampai suatu ketika, Lia mengabarkan kematian suaminya.
Doni pun menjadi empati dan tanpa disadari, dia jadi lebih memperhatikan dan kerap menghubungi pacar lamanya itu.
Tapi Doni mengaku tak ingin mengumbar rasa ibanya. Dia khawatir cinta lama akan bersemi kembali. Ia akhirnya memilih menjaga jarak dengan Lia, dengan alasan sibuk di kantor. “Ini hanya emosi sesaat, saya tak mau keterusan,“ kata Doni, yang kemudian menceritakan sosok Lia kepada sang istri untuk menghindari munculnya perasaan cemburu.
Itu berbeda dengan Sinta (30) di Semarang yang memang berusaha mencari tahu keberadaan Surya, mantan kekasihnya kala masih SMP.
Lewat Facebook, ibu dua anak itu mendapat nomor telepon Surya yang kini bekerja sebagai kontraktor. Ia bertemu lelaki itu melalui reuni sekolahnya tahun lalu. “Tidak tahu kenapa, tetapi mendengar suaranya jadi deg-degan.
Padahal hanya bicara hal-hal umum saja,“ ujarnya.
Hubungan Sinta dengan kekasih lamanya berlanjut. “Menyenangkan, kami banyak diskusi soal puisi, film, dan drama. Kebetulan hobi kami sama,“ kata Sinta yang mengaku klop dengan Surya.
Dia tak menceritakan hubungan itu kepada suaminya yang bekerja di luar kota. Alasannya, dia menganggap kekasih lamanya itu tak berbeda dengan teman-teman lain, meskipun ungkapan sayang dan mesra seringkali “mendarat“ di Blackberry miliknya.
Sinta jadi bak remaja yang tengah jatuh cinta. “Ingin ketemu untuk sekadar ngobrol dan curhat. Maklum suami jauh, apalagi dia sangat perhatian dan mengerti saya,“ ucap perempuan itu sambil tersenyum simpul.
Radit (37) juga mengaku bertemu dengan Ana, pacar semasa SMA saat reuni. “Tak ada perasaan cinta, hanya ingin tahu kabarnya.
Samalah seperti teman lainnya, meski yang satu ini ingin tahu lebih,“ kata ayah dua anak ini sembari tertawa.
Grogi menjadi kesan pertama Radit saat bertemu Ana. Tetapi setelah itu semua berjalan sewajarnya. Di mata dia, Ana tetap cantik seperti dulu. Tetapi itu tak berarti dia menyesal mereka tak berjodoh. “Jadikan perempuan idaman saja. Kalau jadi istri, mungkin dia malah tak bisa jadi istri idaman,“ ucapnya.
***
BAGI Dra Sri Mariati Deliana MSi, psikolog dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), pertemuan insidental dengan teman lama dalam sebuah reuni atau temu kangen atau pun kesempatan lainnya sebenarnya bukan hal yang luar biasa. Maksudnya, pertemuan nostalgia justru berdampak baik untuk menyegarkan kembali pikiran kita. “Memu nculkan emosi sesaat itu tidak ada salahnya, bisa jadi refreshing dari rutinitas sehari-hari,“ katanya.
Pertemuan seperti yang dialami Doni dengan Lia atau Radit dengan Ana biasanya lebih bisa dipertanggungjawabkan karena mereka dewasa dan matang seiring perjalanan waktu. “Tidak perlu ada ketakutan yang berlebihan. Semua itu bergantung atas masing-masing individu, terlebih lagi perjalanan hidup mereka masing-masing telah mematangkan emosi. Jadi, tidak masalah.“
Tapi menurutnya, meski berkesan seperti “iklan lewat“ atau selingan, sebuah hubungan yang tak sekadar teman biasa tetap punya kemungkinan untuk melibatkan emosi dan fisik keduanya secara lebih intensif. Seperti hubungan Sinta dan Surya. Pertemuan dengan teman yang sudah menumbuhkan perasaan lain di hati ini patut diwaspadai, meski mereka seringkali menyangkal dan menganggap hanya sekadar berbagi.
Orang yang seperti itu, lanjut Deliana, biasanya adalah orang yang cenderung “bermasalah“, yakni orang yang kehidupan rumah tangganya mengalami kegamangan karena situasi dan kondisi.
“Bermasalah dalam tanda kutip, ya, meski permasalahan tidak selalu terlihat dari luar, seperti misalnya jauh dari suami.“
Ketika bertemu tambatan hatinya, mereka seringkali merasa lebih baik, karena ada sisi yang tidak ditemukan pada pasangannya. “Lalu membandingkan, padahal perlu pemikiran panjang. Mereka sudah sekian lama tidak bertemu, bisa jadi keduanya berbeda dibanding dahulu,“ tambah Deliana.
Sebenarnya semua itu, menurut Deliana, bergantung atas cara berpikir seseorang dalam melihat situasi dan kondisi masing-masing individu. Misalnya, Radit yang berpikir lebih dewasa dan matang menyikapi kehidupannya sekarang. “Mensyukuri apa yang sudah dimiliki, sekecil atau sejelek apa pun justru lebih membahagiakan daripada memunculkan cinta lama yang belum tentu ujungnya.“ Memang, selain butuh kesadaran, juga diperlukan pengendalian diri yang kuat.
“Kalau berlangsung sesaat saja, itu masih wajar. Kalau keterusan bisa jadi masalah. Setiap individu kan punya kehidupan masa lalu, kini, dan masa depan. Kehidupan yang tak seluruhnya bisa dibagi dengan pasangannya.
Meski wajar, tetapi sebaiknya hati-hati biar tidak tergelincir.“
Ya, reuni bertemu sosok spesial di waktu lalu memang membawa sensasi menyenangkan. Tapi, jika berkepanjangan, mungkin mengundang masalah yang membahayakan.
Kembali ke masa lalu terkadang memang sangat menyenangkan, tapi terkadang juga bisa jadi bumerang. (62)
NONI ARNEE
Bebrayan_050910
10.10.2010
Memilih Jauh dari Orang Tua
Tival (23) menggerutu begitu selesai menerima telepon dari mamanya yang berada di Jakarta. Perhatian ibundanya yang mengecek hampir setiap hari melalui telepon genggamnya justru membuatnya jengah.
Ditambah lagi berbagai larangan dengan alasan untuk kebaikan. Ia merasa orang tua sering memakai sejarah hidup mereka untuk “mengatur“ kehidupannya.
“Mama lagi, Mama lagi. Biasa ngecek aku lagi apa. Dia nyokap tipe protektif dan aku sering kurang klop sama keinginannya,“ ujar mahasiswa yang baru lulus dari sebuah perguruan tinggi di Semarang itu.
Maklum, sejak lama Tival selalu mengikuti pilihan orang tua. Begitu diterima kuliah di Semarang, tentu saja ia merasakan kebebasan. “Enak banget hidup jauh dari ortu bisa bebas menjalani kehidupan. Semua pilihan hidup kita tanggung sendiri.“
Konsekuensinya, semua permasalahan Tival harus diselesaikan sendiri agar ibundanya tidak khawatir. “Biasanya laporan yang baik saja. Misalnya, jadi asisten dosen, ikut seminar ini-itu. Kalau ada masalah tidak bilang, selesaikan masalahnya sendiri atau dengan kawan. Biar tidak kepikiran. Pokoknya jangan sampai tahulah,“ ungkap anak sulung dari tiga bersaudara tersebut.
Begitu juga dengan Ririn (26) yang sudah dua tahun terakhir ini bekerja di Semarang.
Bisa dibilang ia sangat jarang berkomunikasi dengan orang tuanya. Bahkan sejak diterima bekerja di sebuah agen properti, belum sekali pun menginjakkan kaki ke kampung halaman di Malang untuk bertemu keluarganya. “Tidak, ah. Mendingan di Semarang saja, lebih nyaman di sini,“ ujar Ririn. Dulu, tinggal bersama orang tua kadang dianggapnya sebagai sebuah “siksaan“ karena menurut perempuan ayu ini, keluarga terlalu banyak mengekang dirinya dengan berbagai macam aturan. Ia juga merasa kurang pergaulan alias kuper. “Dulu main dengan temanteman saja dilarang. Pulang harus tepat waktu. Alasannya nanti kamu beginilah, begitulah. Makanya ada kesempatan out dari rumah ya jelas senang banget. Bisa bebas,“ jelas Ririn.
Sedikit berbeda, Wulan (22) mengaku keputusan ngekos mendapat dukungan kedua orang tuanya.
Alasannya karena ingin menjadi pribadi yang lebih mandiri. Ia bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri.
Dan hidup jauh dari orang tua sedikit banyak telah menggemblengmentalnya.
“Belajar hidup sendiri. Dulunya aku anak mami banget dan tidak bisa hidup mandiri. Kalau dibandingkan lebih senang sekarang bisa hidup mandiri. Aku bisa masak, cuci piring sendiri, cuci baju, nyapu kamar sendiri.“
Tapi Wulan mengakui banyak hal yang tidak mengenakkan ketika jauh dari orang tua.
“Ada plus minusnya. Kalau kangen dengan Mama biasanya saling telepon dan selalu ditanyain sudah makan belum, aku juga sering kangen masakan Mama. Kadang repot juga kalau ada apa-apa karena jauh.“
***
TIVAL, Ririn maupun Wulan adalah sebagian kecil contoh dalam kehidupan seharihari mengenai anak muda sekarang yang lebih memilih dan memutuskan untuk tinggal dan hidup sendiri tanpa campur tangan orang tua.
Fenomena itu menurut psikolog Dra Hastaning Sakti MKes, lebih dikarenakan faktor pencarian jati diri. Seorang anak yang tumbuh dewasa mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan eksistensi dirinya bahwa mereka bisa dan mampu menjalani hidup sesuai keinginannya.
“Itu psikologi anak yang ingin mengaktualisasikan diri dan menunjukkan ke orang tua.
Sebagian dari mereka memang ingin mandiri karena melihat teman dan mencoba mengalokasikan waktu dengan bertangungjawab sendiri.“
Menurutnya, kondisi itu tidak hanya terjadi pada keluarga yang kurang harmonis, tapi juga anak dari keluarga baik-baik. Namun, Hastining mengungkapkan, anak yang lebih merasa nyaman jauh dari orang tua itu terjadi karena kemungkinan besar orang tua tidak memberi kesempatan penuh kepada anaknya untuk berkembang.
“Orang tua tidak memberi pemahaman kepada anak, padahal seharusnya bisa member opsi atau pilihan, tidak melarang, mengekang atau menutup akses mereka untuk berkembang. Cenderung meng-underestimate anak. Misalnya, nanti kalau ada apa-apa, bagaimana? Orang tua harus sadar akan hal itu.” Setiap anak butuh eksistensi diri tapi sering tidak didukung oleh orang tua sehingga sering tidak sepaham seperti yang dialami Tival. Atau, memilih keluar dan hidup jauh karena tidak dihargai seperti halnya Ririn yang sangat enggan untuk bersua dengan orang tuanya meski hanya melalui telepon. Biasanya orang tua tidak tahu cara berkomunikasi. Ini biasa terjadi.
”Orang tua seyogianya mendukung, tidak perlu menelepon terus untuk mengetahui segala hal yang sedang dilakukan si anak.” Kondisi idealnya menurut Hastining Sakti, kedua belah pihak harus saling membuka diri. ”Anak yang sudah menikah pun kadang masih diintervensi dan masih diperhatikan secara berlebihan.” Dia juga mengungkapkan tiga hal yang mendasar yang bisa dipraktikkan anak maupun
orang tua dalam berkomunikasi dan membina hubungan yang seimbang, yaitu menerima, menghargai, dan mengakui. Konsep ini berlaku untuk anak dan orang tua dan berbagai tingkatan. “Kadang anak merasa sudah besar dan suka gengsi.“
Kegagalan komunikasi yang mengakibatkan ketidaknyamanan, rasa khawatir yang berlebihan atau protektif ini karena orang tua tidak pernah berinteraksi dengan anak, pun sebaliknya.
Memang kadang diakui bahwa menerima, menghargai, dan mengakui apa pun kondisi masingmasing bukan hal yang mudah. Ia juga menegaskan bahwa sikap saling menghargai itu harus dimunculkan.
“Mengakui itu mudah tapi sulit.Sekadar mengakui saja. Bagaimana bisa menghargai dan mengakui kalau keduanya sering negative thinking melulu.“
Ada beberapa hal atau contoh kecil berdampak sangat positif untuk membina hubungan baik dan bentuk membina hubungan baik dan bentuk saling menghargai antara keduanya. Misalnya, saling mengetahui dan memahami kondisi masing-masing. Anak lebih baik memberitahukan keadaannya sehingga orang tua tidak merasa khawatir. Bisa melalui pesan singkat atau bicara dengan kata-kata manis dan halus.
Cara berkomunikasi pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi seperti telepon hingga jejaring sosial seperti Facebook.
Jadi, yang harus diketahui kedua belah pihak adalah bahwa kebersamaan dalam keluarga itu adalah hal paling indah. Keluarga adalah harta yang tak ternilai. Saling mengerti, memahami, dan menjaga menjadi kunci keharmonisan. Jagalah keluarga selagi mampu, dalam kondisi dekat maupun jauh. (62)
NONI ARNEE
Bebrayan_220810
Ditambah lagi berbagai larangan dengan alasan untuk kebaikan. Ia merasa orang tua sering memakai sejarah hidup mereka untuk “mengatur“ kehidupannya.
“Mama lagi, Mama lagi. Biasa ngecek aku lagi apa. Dia nyokap tipe protektif dan aku sering kurang klop sama keinginannya,“ ujar mahasiswa yang baru lulus dari sebuah perguruan tinggi di Semarang itu.
Maklum, sejak lama Tival selalu mengikuti pilihan orang tua. Begitu diterima kuliah di Semarang, tentu saja ia merasakan kebebasan. “Enak banget hidup jauh dari ortu bisa bebas menjalani kehidupan. Semua pilihan hidup kita tanggung sendiri.“
Konsekuensinya, semua permasalahan Tival harus diselesaikan sendiri agar ibundanya tidak khawatir. “Biasanya laporan yang baik saja. Misalnya, jadi asisten dosen, ikut seminar ini-itu. Kalau ada masalah tidak bilang, selesaikan masalahnya sendiri atau dengan kawan. Biar tidak kepikiran. Pokoknya jangan sampai tahulah,“ ungkap anak sulung dari tiga bersaudara tersebut.
Begitu juga dengan Ririn (26) yang sudah dua tahun terakhir ini bekerja di Semarang.
Bisa dibilang ia sangat jarang berkomunikasi dengan orang tuanya. Bahkan sejak diterima bekerja di sebuah agen properti, belum sekali pun menginjakkan kaki ke kampung halaman di Malang untuk bertemu keluarganya. “Tidak, ah. Mendingan di Semarang saja, lebih nyaman di sini,“ ujar Ririn. Dulu, tinggal bersama orang tua kadang dianggapnya sebagai sebuah “siksaan“ karena menurut perempuan ayu ini, keluarga terlalu banyak mengekang dirinya dengan berbagai macam aturan. Ia juga merasa kurang pergaulan alias kuper. “Dulu main dengan temanteman saja dilarang. Pulang harus tepat waktu. Alasannya nanti kamu beginilah, begitulah. Makanya ada kesempatan out dari rumah ya jelas senang banget. Bisa bebas,“ jelas Ririn.
Sedikit berbeda, Wulan (22) mengaku keputusan ngekos mendapat dukungan kedua orang tuanya.
Alasannya karena ingin menjadi pribadi yang lebih mandiri. Ia bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri.
Dan hidup jauh dari orang tua sedikit banyak telah menggemblengmentalnya.
“Belajar hidup sendiri. Dulunya aku anak mami banget dan tidak bisa hidup mandiri. Kalau dibandingkan lebih senang sekarang bisa hidup mandiri. Aku bisa masak, cuci piring sendiri, cuci baju, nyapu kamar sendiri.“
Tapi Wulan mengakui banyak hal yang tidak mengenakkan ketika jauh dari orang tua.
“Ada plus minusnya. Kalau kangen dengan Mama biasanya saling telepon dan selalu ditanyain sudah makan belum, aku juga sering kangen masakan Mama. Kadang repot juga kalau ada apa-apa karena jauh.“
***
TIVAL, Ririn maupun Wulan adalah sebagian kecil contoh dalam kehidupan seharihari mengenai anak muda sekarang yang lebih memilih dan memutuskan untuk tinggal dan hidup sendiri tanpa campur tangan orang tua.
Fenomena itu menurut psikolog Dra Hastaning Sakti MKes, lebih dikarenakan faktor pencarian jati diri. Seorang anak yang tumbuh dewasa mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan eksistensi dirinya bahwa mereka bisa dan mampu menjalani hidup sesuai keinginannya.
“Itu psikologi anak yang ingin mengaktualisasikan diri dan menunjukkan ke orang tua.
Sebagian dari mereka memang ingin mandiri karena melihat teman dan mencoba mengalokasikan waktu dengan bertangungjawab sendiri.“
Menurutnya, kondisi itu tidak hanya terjadi pada keluarga yang kurang harmonis, tapi juga anak dari keluarga baik-baik. Namun, Hastining mengungkapkan, anak yang lebih merasa nyaman jauh dari orang tua itu terjadi karena kemungkinan besar orang tua tidak memberi kesempatan penuh kepada anaknya untuk berkembang.
“Orang tua tidak memberi pemahaman kepada anak, padahal seharusnya bisa member opsi atau pilihan, tidak melarang, mengekang atau menutup akses mereka untuk berkembang. Cenderung meng-underestimate anak. Misalnya, nanti kalau ada apa-apa, bagaimana? Orang tua harus sadar akan hal itu.” Setiap anak butuh eksistensi diri tapi sering tidak didukung oleh orang tua sehingga sering tidak sepaham seperti yang dialami Tival. Atau, memilih keluar dan hidup jauh karena tidak dihargai seperti halnya Ririn yang sangat enggan untuk bersua dengan orang tuanya meski hanya melalui telepon. Biasanya orang tua tidak tahu cara berkomunikasi. Ini biasa terjadi.
”Orang tua seyogianya mendukung, tidak perlu menelepon terus untuk mengetahui segala hal yang sedang dilakukan si anak.” Kondisi idealnya menurut Hastining Sakti, kedua belah pihak harus saling membuka diri. ”Anak yang sudah menikah pun kadang masih diintervensi dan masih diperhatikan secara berlebihan.” Dia juga mengungkapkan tiga hal yang mendasar yang bisa dipraktikkan anak maupun
orang tua dalam berkomunikasi dan membina hubungan yang seimbang, yaitu menerima, menghargai, dan mengakui. Konsep ini berlaku untuk anak dan orang tua dan berbagai tingkatan. “Kadang anak merasa sudah besar dan suka gengsi.“
Kegagalan komunikasi yang mengakibatkan ketidaknyamanan, rasa khawatir yang berlebihan atau protektif ini karena orang tua tidak pernah berinteraksi dengan anak, pun sebaliknya.
Memang kadang diakui bahwa menerima, menghargai, dan mengakui apa pun kondisi masingmasing bukan hal yang mudah. Ia juga menegaskan bahwa sikap saling menghargai itu harus dimunculkan.
“Mengakui itu mudah tapi sulit.Sekadar mengakui saja. Bagaimana bisa menghargai dan mengakui kalau keduanya sering negative thinking melulu.“
Ada beberapa hal atau contoh kecil berdampak sangat positif untuk membina hubungan baik dan bentuk membina hubungan baik dan bentuk saling menghargai antara keduanya. Misalnya, saling mengetahui dan memahami kondisi masing-masing. Anak lebih baik memberitahukan keadaannya sehingga orang tua tidak merasa khawatir. Bisa melalui pesan singkat atau bicara dengan kata-kata manis dan halus.
Cara berkomunikasi pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi seperti telepon hingga jejaring sosial seperti Facebook.
Jadi, yang harus diketahui kedua belah pihak adalah bahwa kebersamaan dalam keluarga itu adalah hal paling indah. Keluarga adalah harta yang tak ternilai. Saling mengerti, memahami, dan menjaga menjadi kunci keharmonisan. Jagalah keluarga selagi mampu, dalam kondisi dekat maupun jauh. (62)
NONI ARNEE
Bebrayan_220810
10.07.2010
Kyai Tombo Ati sang Penakluk Preman
Muhammad Kuswanto (Gus Tanto)
Sepintas dia berkesan gahar dengan rambut tertutup kopiah hitam yang tergerai lurus hingga sepinggul, pakaian serbahitam den gan pin bendera Merah Putih menempel di kerah baju. Tapi sosok kiai nahdliyin yang satu ini memiliki suara yang lembut.
“Orang sering hanya melihat penampilan fisik semata,padahal semua sama. Yang diutamakan perilakunya,“ ujar Muhamad Kuswanto, atau lebih akrab disapa Gus Tanto mengomentari penampilannya.
Gus Tanto adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Istighfar di kawasan Perbalan Semarang. Pesantren yang dikenal masyarakat umum sebagai Pesantren Preman itu berada di sebuah perkampungan yang sejak zaman penjajahan Jepang dikenal sebagai “sarang penyamun“, atau diidentikkan dengan “perbal“, sebagai komunitas gali.
Pondok Pesantren Istighfar awalnya memang khusus mengasuh preman yang berniat insyaf. Lantas bagaimana Gus Tanto menaklukkan para preman yang waktu itu dianggap sangat meresahkan masyarakat?
Semua berawal dari anggapan masyarakat yang mencap negatif pada pemuda Perbalan.
Kondisi itu membuatnya tersentak. Gus Tanto tak tahan menyaksikan kekerasan di sekitarnya sehingga ia bertekad merubah citra kampung tempat tinggalnya dengan membangun pondok pesantren. “Saya lahir, besar, dan tinggal sampai sekarang di sini. Sejak kecil saya terbiasa berkelahi. Namun, saya terpaksa berkelahi untuk membela teman atau membela diri. Ini yang membedakan saya dengan remaja kebanyakan.
Dari situ saya terbiasa dengan kehidupan preman, yang identik dengan kekerasan,“ ujar Gus Tanto saat ditemui.
Selepas SMApada 1986, Gus Tanto tergugah untuk berdakwah di jagad gelap, di tengah para preman. Lelaki berambut gondrong ini pun mengembara. Dia berguru kepada kiai-kiai utama yang tersebar di Pulau Jawa, mulai dari Banten sampai Banyuwangi untuk mencari strategi jitu agar bisa menebar dakwah di kalangan preman.
Dua tahun kemudian dia mulai melakukan pembinaan terhadap preman. Untuk menyelami lebih dekat kehidupan para preman, dia menyambangi tempat perjudian, diskotek, dan lokasi pelacuran. Dia juga aktif di ring tinju.
“Perjuangannya sampai ke mana-mana.Saya terjun di terminal langsung tempat mereka biasa mangkal. Dari bandit kelas bawah sampai kelas atas hingga tetek bengek, ada di sana. Saya mendalami psikologi mereka hingga menyadar kan mereka bahwa yang mereka lakukan itu negatif,“ cerita ayah dari Husein Tito Nurkholis (17), Amalia Zulva Nilasari (11), dan Najwa Ayu Khusnul Khotimah (2) itu.
***
GUS Tanto mangkal di teminal sebagai mandor. Para preman disapa dan dibina secara perlahan melalui pengajian dan konsultasi rohani, hingga kembali menemukan jalan Tuhan. Dalam mujahadah itu, dia berusaha menawarkan rasa sejuk di hati para preman. Di mata Gus Tanto, preman tidak membutuhkan bahasa ucapan, tapi butuh bahasa praktik. Dengan pendekatan itu, satu per satu preman di Terminal Semarang merasa tersentuh dan ikut mujahadah yang sudah digelar sejak tahun 1988 di Perbalan.
“Dulu saya hanya mengoordinasi dan membina preman dari pangkalan satu ke pangkalan yang lain. Dekati secara personal, mereka saya ajak kumpul-kumpul. Lalu saya ajak Yasinan dan tahlilan bersama. Setelah itu, baru ngobrol yang lain. Awalnya 10-15 orang. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah bergiliran.
Lama-lama banyak yang tertarik.“
Meski bangunan pondok pesantrennya baru berdiri pada 2005, namun aktivitas jamaah pesantren yang dipimpin putra bungsu dari empat bersaudara pasangan Siti Kustinah dan Muhammad Nasiran ini sudah berlangsung sejak 20 tahun lebih. Itu bersamaan dengan kiprah Gus Tanto di dunia jalanan dan preman.
Kuncinya, menurut Gus Tanto, adalah tidak menggurui dan mendikte para preman. Selain itu juga dia menanamkan rasa saling menghargai dan menghormati kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka pun merasa lebih nyaman belajar di Ponpes Istigfar karena lebih menekankan pembentukan akhlakul karimah.
“Saya juga tidak pernah melarang para santri tak berbuat maksiat. Tidak pernah bilang mabuk itu haram, menodong itu dosa. Mereka sudah tahu. Mereka saya ingatkan secara tidak langsung, perlahan-lahan. Yang sudah bisa sedikit berubah, mereka saya suruh puasa Senin dan Kamis. Dengan puasa, nafsu terkendali. Kami juga melakukan shalat malam berjemaah,“ jelas laki-laki tamatan SMA5 Semarang tersebut.
***
APA yang dilakukan Gus Tanto begitu disukai karena caranya mendekatkan diri dengan t santri yang disebutnya jemaah. Bentuk pencerahan rohani yang biasa dilakukan Gus Tanto adalah metode ngaji Tombo Ati, yakni membu i ka hati para jemaahnya untuk berbuat baik. t “Saya hanya tekankan, jika kita mau mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita. Jika kita l berbuat baik kepada makhluk yang hidup di bumi, yang ada di langit akan menyayangi kita.“
Filosofi itulah yang ia terapkan pada dirinya sendiri, istri tercinta dan ketiga anaknya dalam kehidupan sehari-hari. “Awalnya justru dari diri sendiri dan keluarga. Itu yang terpenting, baru kemudian ditularkan kepada mereka.“
Kini, suasana religius ini dapat kita jumpai tiap malam usai pengajian dan shalat berjamaah ( di Pondok Pesantren Istigfar. Nama “istighfar“ itu diambil karena tempat itu menjadi sarana untuk bertobat.
Di pesantren yang sekaligus tempat tinggal Gus Tanto ini, sekitar 200-an mantan preman belajar mendekatkan diri kepada Tuhan. Semuanya adalah santri kalong. Santri yang datang ke pondok jika ada acara atau membutuhkan konsultasi. “Tapi kalau yang keluar masuk sudah tak terhitung lagi,“ tambah suami dari Daryanti (43) itu.
Gus Tanto beranggapan bahwa setiap manusia memiliki sisi positif dan negatif. Apalagi pada dasarnya mereka tidak ingin menjadi preman. Namun, situasi menjerumuskan mereka ke jalur preman. “Kebetulan saja, orang yang kita sebut sebagai preman sisi positifnya belum tersentuh. Dalam menilai seseorang, kadang kita tidak fair, hanya melihat sisi negatif seseorang tanpa melihat sisi positifnya. Kalau kita tahu perilaku preman itu salah, mengapa tidak kita ingatkan? Untuk mengingatkan, kita harus dekat dengan mereka.“
Kini pondok pesantren ini terus berkembang. Pendirian pesantren tidak hanya sebagai bentuk ikhtiar Gus Tanto membantu pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Pesantren ini tidak hanya untuk tempat ngaji para preman, tapi juga tempat anak-anak belajar membaca Alquran dan pengajian ibu-ibu rumah tangga. Bahkan juga mengentaskan pengangguran melalui usaha jasa travel yang dikelola para santri.
Dan seiring dengan waktu, jemaah Gus Tanto yang juga akrab disapa Kiai Tombo Ati ini merebak. Tidak lagi hanya dipenuhi preman, tapi masyarakat dari berbagai stratum sosial seperti pejabat, artis, pegawai, polisi, dan lainlain. “Sekarang preman maknanya luas. Preman menurut saya ada tiga macam, yakni preman berdasi, preman rumah tangga, dan preman berlari. Mereka itu orang-orang yang dusta pada diri sendiri,“ ujarnya tersenyum.
Kini teriakan para pemabuk tiap malam di kampung preman pun tak berbekas. Yang ada hanya lantunan merdu ayat-ayat Alquran yang berasal dari sebuah gang di kampung tersebut.(62)
NONI ARNEE
Suara Merdeka
Bebrayan_150810
Sepintas dia berkesan gahar dengan rambut tertutup kopiah hitam yang tergerai lurus hingga sepinggul, pakaian serbahitam den gan pin bendera Merah Putih menempel di kerah baju. Tapi sosok kiai nahdliyin yang satu ini memiliki suara yang lembut.
“Orang sering hanya melihat penampilan fisik semata,padahal semua sama. Yang diutamakan perilakunya,“ ujar Muhamad Kuswanto, atau lebih akrab disapa Gus Tanto mengomentari penampilannya.
Gus Tanto adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Istighfar di kawasan Perbalan Semarang. Pesantren yang dikenal masyarakat umum sebagai Pesantren Preman itu berada di sebuah perkampungan yang sejak zaman penjajahan Jepang dikenal sebagai “sarang penyamun“, atau diidentikkan dengan “perbal“, sebagai komunitas gali.
Pondok Pesantren Istighfar awalnya memang khusus mengasuh preman yang berniat insyaf. Lantas bagaimana Gus Tanto menaklukkan para preman yang waktu itu dianggap sangat meresahkan masyarakat?
Semua berawal dari anggapan masyarakat yang mencap negatif pada pemuda Perbalan.
Kondisi itu membuatnya tersentak. Gus Tanto tak tahan menyaksikan kekerasan di sekitarnya sehingga ia bertekad merubah citra kampung tempat tinggalnya dengan membangun pondok pesantren. “Saya lahir, besar, dan tinggal sampai sekarang di sini. Sejak kecil saya terbiasa berkelahi. Namun, saya terpaksa berkelahi untuk membela teman atau membela diri. Ini yang membedakan saya dengan remaja kebanyakan.
Dari situ saya terbiasa dengan kehidupan preman, yang identik dengan kekerasan,“ ujar Gus Tanto saat ditemui.
Selepas SMApada 1986, Gus Tanto tergugah untuk berdakwah di jagad gelap, di tengah para preman. Lelaki berambut gondrong ini pun mengembara. Dia berguru kepada kiai-kiai utama yang tersebar di Pulau Jawa, mulai dari Banten sampai Banyuwangi untuk mencari strategi jitu agar bisa menebar dakwah di kalangan preman.
Dua tahun kemudian dia mulai melakukan pembinaan terhadap preman. Untuk menyelami lebih dekat kehidupan para preman, dia menyambangi tempat perjudian, diskotek, dan lokasi pelacuran. Dia juga aktif di ring tinju.
“Perjuangannya sampai ke mana-mana.Saya terjun di terminal langsung tempat mereka biasa mangkal. Dari bandit kelas bawah sampai kelas atas hingga tetek bengek, ada di sana. Saya mendalami psikologi mereka hingga menyadar kan mereka bahwa yang mereka lakukan itu negatif,“ cerita ayah dari Husein Tito Nurkholis (17), Amalia Zulva Nilasari (11), dan Najwa Ayu Khusnul Khotimah (2) itu.
***
GUS Tanto mangkal di teminal sebagai mandor. Para preman disapa dan dibina secara perlahan melalui pengajian dan konsultasi rohani, hingga kembali menemukan jalan Tuhan. Dalam mujahadah itu, dia berusaha menawarkan rasa sejuk di hati para preman. Di mata Gus Tanto, preman tidak membutuhkan bahasa ucapan, tapi butuh bahasa praktik. Dengan pendekatan itu, satu per satu preman di Terminal Semarang merasa tersentuh dan ikut mujahadah yang sudah digelar sejak tahun 1988 di Perbalan.
“Dulu saya hanya mengoordinasi dan membina preman dari pangkalan satu ke pangkalan yang lain. Dekati secara personal, mereka saya ajak kumpul-kumpul. Lalu saya ajak Yasinan dan tahlilan bersama. Setelah itu, baru ngobrol yang lain. Awalnya 10-15 orang. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah bergiliran.
Lama-lama banyak yang tertarik.“
Meski bangunan pondok pesantrennya baru berdiri pada 2005, namun aktivitas jamaah pesantren yang dipimpin putra bungsu dari empat bersaudara pasangan Siti Kustinah dan Muhammad Nasiran ini sudah berlangsung sejak 20 tahun lebih. Itu bersamaan dengan kiprah Gus Tanto di dunia jalanan dan preman.
Kuncinya, menurut Gus Tanto, adalah tidak menggurui dan mendikte para preman. Selain itu juga dia menanamkan rasa saling menghargai dan menghormati kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka pun merasa lebih nyaman belajar di Ponpes Istigfar karena lebih menekankan pembentukan akhlakul karimah.
“Saya juga tidak pernah melarang para santri tak berbuat maksiat. Tidak pernah bilang mabuk itu haram, menodong itu dosa. Mereka sudah tahu. Mereka saya ingatkan secara tidak langsung, perlahan-lahan. Yang sudah bisa sedikit berubah, mereka saya suruh puasa Senin dan Kamis. Dengan puasa, nafsu terkendali. Kami juga melakukan shalat malam berjemaah,“ jelas laki-laki tamatan SMA5 Semarang tersebut.
***
APA yang dilakukan Gus Tanto begitu disukai karena caranya mendekatkan diri dengan t santri yang disebutnya jemaah. Bentuk pencerahan rohani yang biasa dilakukan Gus Tanto adalah metode ngaji Tombo Ati, yakni membu i ka hati para jemaahnya untuk berbuat baik. t “Saya hanya tekankan, jika kita mau mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita. Jika kita l berbuat baik kepada makhluk yang hidup di bumi, yang ada di langit akan menyayangi kita.“
Filosofi itulah yang ia terapkan pada dirinya sendiri, istri tercinta dan ketiga anaknya dalam kehidupan sehari-hari. “Awalnya justru dari diri sendiri dan keluarga. Itu yang terpenting, baru kemudian ditularkan kepada mereka.“
Kini, suasana religius ini dapat kita jumpai tiap malam usai pengajian dan shalat berjamaah ( di Pondok Pesantren Istigfar. Nama “istighfar“ itu diambil karena tempat itu menjadi sarana untuk bertobat.
Di pesantren yang sekaligus tempat tinggal Gus Tanto ini, sekitar 200-an mantan preman belajar mendekatkan diri kepada Tuhan. Semuanya adalah santri kalong. Santri yang datang ke pondok jika ada acara atau membutuhkan konsultasi. “Tapi kalau yang keluar masuk sudah tak terhitung lagi,“ tambah suami dari Daryanti (43) itu.
Gus Tanto beranggapan bahwa setiap manusia memiliki sisi positif dan negatif. Apalagi pada dasarnya mereka tidak ingin menjadi preman. Namun, situasi menjerumuskan mereka ke jalur preman. “Kebetulan saja, orang yang kita sebut sebagai preman sisi positifnya belum tersentuh. Dalam menilai seseorang, kadang kita tidak fair, hanya melihat sisi negatif seseorang tanpa melihat sisi positifnya. Kalau kita tahu perilaku preman itu salah, mengapa tidak kita ingatkan? Untuk mengingatkan, kita harus dekat dengan mereka.“
Kini pondok pesantren ini terus berkembang. Pendirian pesantren tidak hanya sebagai bentuk ikhtiar Gus Tanto membantu pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Pesantren ini tidak hanya untuk tempat ngaji para preman, tapi juga tempat anak-anak belajar membaca Alquran dan pengajian ibu-ibu rumah tangga. Bahkan juga mengentaskan pengangguran melalui usaha jasa travel yang dikelola para santri.
Dan seiring dengan waktu, jemaah Gus Tanto yang juga akrab disapa Kiai Tombo Ati ini merebak. Tidak lagi hanya dipenuhi preman, tapi masyarakat dari berbagai stratum sosial seperti pejabat, artis, pegawai, polisi, dan lainlain. “Sekarang preman maknanya luas. Preman menurut saya ada tiga macam, yakni preman berdasi, preman rumah tangga, dan preman berlari. Mereka itu orang-orang yang dusta pada diri sendiri,“ ujarnya tersenyum.
Kini teriakan para pemabuk tiap malam di kampung preman pun tak berbekas. Yang ada hanya lantunan merdu ayat-ayat Alquran yang berasal dari sebuah gang di kampung tersebut.(62)
NONI ARNEE
Suara Merdeka
Bebrayan_150810
Mereka Yang Sendirian Berpuasa
Puasa tahun ini bakal menjadi tahun kedua buat Dewi (23) tanpa ibu tercinta. ”Sekarang Mami sudah tak bisa mene- mani saat puasa lagi karena sudah meninggalkan kami semua,” kata Dewi.
Pengalaman tahun lalu membuktikan padanya bahwa tanpa ibundanya berpuasa menjadi lebih sulit. Jika dulu bangun tidur, dia bisa langsung makan sahur, sekarang sebagai anak tertua, ia harus bertanggung jawab menyiapkan makan sahur untuk ayah dan kedua adiknya. Tiap hari Dewi harus bangun jam 02.30 untuk memasak terlebih dulu, meski ia kadang merasa kerepotan bangun sepagi itu.
Sementara urusan buka puasa diserahkan pada Dea, adiknya. ”Dia baru lulus kuliah dan belum kerja jadi sekarang kerjaannya jadi koki.
Kami gantian. Yang penting, buka puasa beres saja.” Walau semua pekerjaan rumah bisa dihandel dengan baik, tapi Dewi tetap saja merasa tetap ada yang sangat berbeda dengan ketika sang ibu masih hidup. ”Rasa masakan nggak seenak yang Mami buat, apalagi pas makan, terasa banget nggak ada beliau. Sepi, tapi mau bagaimana lagi? Jalani saja, kan?” ujar cewek manis ini dengan nada sendu.
Itu agak berbeda dengan Mira (21), mahasiswi Jurusan Sastra Inggris di salah satu perguruan tinggi di Semarang ini. Sebagai orang yang tinggal jauh dari orang tua, ia harus melakukan persiapan benar-benar menghadapi bulan Puasa. Menyiapkan buka dan sahur sendirian. Meski Mira adalah anak kos, ia lebih suka memasak sendiri ketimbang membeli makanan warungan di sekitar tempat kosnya.
”Awalnya berat, karena di kos kan apa-apa sendiri. Menyiapkan makanan berbuka dan sahur sendiri. Tapi selalu siap roti atau mi dan susu. Jadi lebih praktis kalau bangunnya telat,“ ujar gadis itu.
Mira juga enggan mengandalkan kebaikan teman kos untuk membangunkannya. Karena ia sering kesulitan bangun makan sahur, ia meminta ibundanya yang tinggal di Pontianak untuk membangunkan. “Ditelepon kalau pas sahur, tapi kadang tidak mempan. Jadi tidak sahur. Makanya kalau buka puasa suka makan banyak,“ tambahnya.
Kalau boleh memilih, tentu saja Mira lebih menginginkan menjalani ibadah puasa bersama keluarga tercinta. Tapi tuntutan citacita membuatnya terpisah jarak dari mereka.“Tapi ada hikmahnya. Aku jadi lebih mandiri.“
***
SELAIN Dewi dan Mira, ada banyak orang yang berpuasa lebih berat ketimbang orang lainnya.
Andi, misalnya, “terpaksa“ harus menjalani puasa sendirian karena istrinya menderita maag kronis yang sehingga disarankan dokter untuk tidak berpuasa.
“Ini bakal jadi tahun kedua aku puasa sendiri. Kalau buka puasa relatif lebih mudah. Tapi kalau sahur ya makan sendir karena tidak setiap sahur ditemani istri,“ cerita Andi Memang tidak mengenakkan bagi Andi, tapi ia tetap berusaha menikmati makan sahur sendiri. “Yang terpenting kan niat ibadahnya.“
Lain halnya dengan Ira, selama bertahun-tahun dia menjalankan ibadah puasa sendirian. Dia dan sang suami berbeda agama.Meski begitu, tak ada persoalan di antara keduanya yang mengganggu Ira menunaikan kewajibannya.“Mas Doni sangat mendukung, dan kami sedari awal memang sudah punya komitmen untuk hal itu.“
Hal itu bisa dilihat dari perhatian Doni yang selalu mengingatkan dan memberi vitamin ketika Ira akan menjalankan puasa keesokan harinya. kurang rajin minum vitamin. Suami sayalah yang selalu mengingatkan sekaligus menyiapkannya,“ ibu dua anak ini.
Doni juga menemani Ira sahur. Bahkan, kadang-kadang jika Ira terlalu lelap dalam tidurnya, sang suamilah yang membangunkannya. “Dia tak puasa tapi rajin mene mani sahur.“
Saling pengertian pasangan suami-istri ini juga diperli hatkan kepada ua buah kepada dua buah hatinya. Ira tidak memaksakan anak-anaknya turut berpuasa seperti dirinya. Ia membebaskan mereka menentukan pilihan.
Ya, dalam kenyataan, ada sebagian orang Islam yang menjalankan ibadah puasa tidak dalam situasi dan kondisi yang menyenangkan. Apa yang dialami mereka yang disebut di atas hanyalah contoh kecil saja. Tapi, justru dari situlah sebenarnya, mereka mendapatkan makna puasa yang bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tapi juga godaan lainnya yang bersifat psikologis.
Yang jelas, mereka punya cara sendiri sendiri dalam memaknai puasa. Dewi yang harus menggantikan peran mendiang ibunya, kepasrahan Ira harus berpuasa sendiri kare na suaminya tidak seagama, atau Andi yang harus ser ing merasa “seorang diri“ di rumah saat puasa karena sakit yang diderita istrinya, atau pun Mira yang jauh dari keluarganya, pasti beroleh hikmah yang mahal. Paling tidak, dalam diri mereka terben tuk karakter yang mandiri, sabar, atau tahan banting.
Namun, apa pun yang dilakukan seseorang di bulan Puasa ini, semuanya kembali kepada kesadaran diri masing-masing dalam memahami makna puasa, serta makna-makna lain yang akan menentukan sikap dan periku diri ke depan. laku diri ke depan.
Maka, yang terpenting dari semua itu adalah niat, hati, dan pikiran kita untuk menjalankan ibadah puasa, bukan penampilan lahiriah atau materi peribadatan yang dilakukan. Menurut ahli agama, puasa merupakan suatu proses bagi orang untuk lebih bertakwa. Selamat berpuasa, semoga mendapat berkah ilahi. (62) NONI ARNEE
Suara Merdeka
Bebrayan_080810
Pengalaman tahun lalu membuktikan padanya bahwa tanpa ibundanya berpuasa menjadi lebih sulit. Jika dulu bangun tidur, dia bisa langsung makan sahur, sekarang sebagai anak tertua, ia harus bertanggung jawab menyiapkan makan sahur untuk ayah dan kedua adiknya. Tiap hari Dewi harus bangun jam 02.30 untuk memasak terlebih dulu, meski ia kadang merasa kerepotan bangun sepagi itu.
Sementara urusan buka puasa diserahkan pada Dea, adiknya. ”Dia baru lulus kuliah dan belum kerja jadi sekarang kerjaannya jadi koki.
Kami gantian. Yang penting, buka puasa beres saja.” Walau semua pekerjaan rumah bisa dihandel dengan baik, tapi Dewi tetap saja merasa tetap ada yang sangat berbeda dengan ketika sang ibu masih hidup. ”Rasa masakan nggak seenak yang Mami buat, apalagi pas makan, terasa banget nggak ada beliau. Sepi, tapi mau bagaimana lagi? Jalani saja, kan?” ujar cewek manis ini dengan nada sendu.
Itu agak berbeda dengan Mira (21), mahasiswi Jurusan Sastra Inggris di salah satu perguruan tinggi di Semarang ini. Sebagai orang yang tinggal jauh dari orang tua, ia harus melakukan persiapan benar-benar menghadapi bulan Puasa. Menyiapkan buka dan sahur sendirian. Meski Mira adalah anak kos, ia lebih suka memasak sendiri ketimbang membeli makanan warungan di sekitar tempat kosnya.
”Awalnya berat, karena di kos kan apa-apa sendiri. Menyiapkan makanan berbuka dan sahur sendiri. Tapi selalu siap roti atau mi dan susu. Jadi lebih praktis kalau bangunnya telat,“ ujar gadis itu.
Mira juga enggan mengandalkan kebaikan teman kos untuk membangunkannya. Karena ia sering kesulitan bangun makan sahur, ia meminta ibundanya yang tinggal di Pontianak untuk membangunkan. “Ditelepon kalau pas sahur, tapi kadang tidak mempan. Jadi tidak sahur. Makanya kalau buka puasa suka makan banyak,“ tambahnya.
Kalau boleh memilih, tentu saja Mira lebih menginginkan menjalani ibadah puasa bersama keluarga tercinta. Tapi tuntutan citacita membuatnya terpisah jarak dari mereka.“Tapi ada hikmahnya. Aku jadi lebih mandiri.“
***
SELAIN Dewi dan Mira, ada banyak orang yang berpuasa lebih berat ketimbang orang lainnya.
Andi, misalnya, “terpaksa“ harus menjalani puasa sendirian karena istrinya menderita maag kronis yang sehingga disarankan dokter untuk tidak berpuasa.
“Ini bakal jadi tahun kedua aku puasa sendiri. Kalau buka puasa relatif lebih mudah. Tapi kalau sahur ya makan sendir karena tidak setiap sahur ditemani istri,“ cerita Andi Memang tidak mengenakkan bagi Andi, tapi ia tetap berusaha menikmati makan sahur sendiri. “Yang terpenting kan niat ibadahnya.“
Lain halnya dengan Ira, selama bertahun-tahun dia menjalankan ibadah puasa sendirian. Dia dan sang suami berbeda agama.Meski begitu, tak ada persoalan di antara keduanya yang mengganggu Ira menunaikan kewajibannya.“Mas Doni sangat mendukung, dan kami sedari awal memang sudah punya komitmen untuk hal itu.“
Hal itu bisa dilihat dari perhatian Doni yang selalu mengingatkan dan memberi vitamin ketika Ira akan menjalankan puasa keesokan harinya. kurang rajin minum vitamin. Suami sayalah yang selalu mengingatkan sekaligus menyiapkannya,“ ibu dua anak ini.
Doni juga menemani Ira sahur. Bahkan, kadang-kadang jika Ira terlalu lelap dalam tidurnya, sang suamilah yang membangunkannya. “Dia tak puasa tapi rajin mene mani sahur.“
Saling pengertian pasangan suami-istri ini juga diperli hatkan kepada ua buah kepada dua buah hatinya. Ira tidak memaksakan anak-anaknya turut berpuasa seperti dirinya. Ia membebaskan mereka menentukan pilihan.
Ya, dalam kenyataan, ada sebagian orang Islam yang menjalankan ibadah puasa tidak dalam situasi dan kondisi yang menyenangkan. Apa yang dialami mereka yang disebut di atas hanyalah contoh kecil saja. Tapi, justru dari situlah sebenarnya, mereka mendapatkan makna puasa yang bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tapi juga godaan lainnya yang bersifat psikologis.
Yang jelas, mereka punya cara sendiri sendiri dalam memaknai puasa. Dewi yang harus menggantikan peran mendiang ibunya, kepasrahan Ira harus berpuasa sendiri kare na suaminya tidak seagama, atau Andi yang harus ser ing merasa “seorang diri“ di rumah saat puasa karena sakit yang diderita istrinya, atau pun Mira yang jauh dari keluarganya, pasti beroleh hikmah yang mahal. Paling tidak, dalam diri mereka terben tuk karakter yang mandiri, sabar, atau tahan banting.
Namun, apa pun yang dilakukan seseorang di bulan Puasa ini, semuanya kembali kepada kesadaran diri masing-masing dalam memahami makna puasa, serta makna-makna lain yang akan menentukan sikap dan periku diri ke depan. laku diri ke depan.
Maka, yang terpenting dari semua itu adalah niat, hati, dan pikiran kita untuk menjalankan ibadah puasa, bukan penampilan lahiriah atau materi peribadatan yang dilakukan. Menurut ahli agama, puasa merupakan suatu proses bagi orang untuk lebih bertakwa. Selamat berpuasa, semoga mendapat berkah ilahi. (62) NONI ARNEE
Suara Merdeka
Bebrayan_080810
Semarang Dalam Selembar Kain Batik
Joko Sunarto
Ingin tahu lebih banyak tentang kota Semarang? Anda bisa mencarinya hanya dalam selembar kain batik ”Jagat Semawis”. Di kain itu tertoreh hampir semua ikon kota Semarang.
Ada delapan ikon yaitu buah asam, blekok, naga simbol pecinan, Lawangsewu, warak, Gereja Blendoek, pagoda, dan perahu nelayan. Semua itu menyatu dalam desain indah.
Desain itu memenangkan anugerah ”Canting Mas Award” dalam Lomba Desain Batik Semarang 2010 yang diselenggarakan dalam rangka Reuni Akbar SMA1 Semarang, belum lama ini. Siapa orang di balik desain jawara itu?
Sosok itu bernama Joko Sunarto (46). Dari tangan dinginnyalah desain kain batik itu tercipta. Ia bukan seorang pengrajin batik mumpuni yang sudah puluhan tahun menekuni batik. Dia adalah karyawan pada Desk Artistik Harian Suara Merdeka. Sudah 20 tahun dia bekerja di koran terbesar di Jawa Tengah ini.
”Tidak menyangka kalau menang karena saya menganggap diri saya belum pantas meraih penghargaan tertinggi untuk pengrajin batik,” ujar Joko merendah.
Ide dan kreativitasnya itulah yang membuat sebagian pengrajin batik ”iri” pada keberhasilan lelaki jebolan Jurusan Seni Rupa IKIP Semarang (sekarang Unnes). Padahal bisa dibilang, ilmu membatiknya hanya dia pelajari dalam kurun waktu satu bulan. Itu pun merupakan tenggat waktu yang diberikan panitia lomba untuk mengirimkan karya.
Kemenangan itu tak diraih dengan mudah. Ada perjuangan dahsyat di balik tropi Canting Emas dan uang yang ia dapatkan sebagai hasil kerja kerasnya. Sedari awal, dia memang sangat antusias untuk mengikuti lomba tersebut. Dia adalah orang pertama yang mengambil formulir lomba.
Saat itu, dia agak terkejut karena yang dilombakan adalah desain batik yang harus diaplikasikan ke selembar kain. Sebagai pendesain, tak sekali pun Joko membatik. Tentu saja, menuangkan desain dalam kain bukan perkara gampang. ”Saya menelepon panitia untuk tanya apakah desain boleh ‘didandakke’ke pengrajin. Ternyata boleh,” ungkap suami Wiwik Widiarsih (41) ini.
Joko sedikit lega. Ia punya waktu satu bulan untuk menyelesaikannya dua desain batik yang akan diikutkan lomba, yaitu ”Jagat Semawis” dan ”Parang Warak”. Joko lantas menghubungi pengrajin batik untuk membantunya. ”Tapi pengrajin butuh waktu 1,5 bulan untuk satu desain.
Itu artinya dalam kondiri normal butuh waktu tiga bulan. Jelas tak cukup untuk memenuhi tenggat waktu lomba.” *** TAK kurang akal, Joko tak mau membuang waktu. Ia pergi ke sentra pengrajin batik di Kampung Laweyan, Solo. Ia sengaja datang dengan tekad untuk belajar membatik pada ahlinya. Ia bertekad mengerjakannya sendiri. Dia sana, dia belajar dengan seseorang yang bernama Hadi, salah seorang pengrajin yang sudah berpengalaman.
Dia belajar ”gerak cepat”. Jika kursus batik umumnya butuh waktu 3-4 minggu untuk mendalami proses membatik, Joko hanya butuh waktu satu hari saja. Kemampuan menggambar desain selama ini ternyata memberi keuntungan. Ia lebih cepat menguasai proses membuat pola. ”Kursus kilat cuma satu hari. Harus bisa dan satu hari itu juga selesai.” Di Laweyan, Joko sadar, membatik tidak semudah yang ia bayangkan. Apalagi saat mempelajari proses pewarnaan, dengan jujur dia mengalami kesulitan. Tapi tantangan itulah yang justru memacunya untuk menyelesaikan karya dengan tangannya sendiri.
”Saya menggabungkan warna alam dan warna yang pakai bahan kimia. Sampai puluhan kali mencoba baru berhasil”.
Hingga akhirnya rumah sederhana di kompleks perumahan Pondok Raden Patah Sayung, Demak yang dia tinggali bersama keluarganya itu pun menjadi saksi kegigihannya. Ia menyulap ruang tamunya menjadi workshop dadakan. Segala macam alat untuk membatik pun dipindah ke ruang tamunya.
Semua itu ia kerjakan sendiri di sela-sela rutinitas pekerjaannya. ”Mestinya dalam satu bulan saya mengerjakan satu desain, tapi saya bikin empat, dua gagal dua berhasil Yang dibikin dulu yang sulit, baru yang lebih mudah.” Desain ”Jagat Semawis” dituangkan ke atas kain berwarna hijau. Warna yang dianggapnya teduh bagi si pemakai batik karyanya ini dia hasilkan setelah melakukan uji coba warna. ”Yang sulit melakukan pewarnaan di kain. Mencoba-coba semua warna hasilnya kurang bagus. Hingga ketemu warna hijau, hasilnya lebih oke,” ujar ayah dari Noel Lanang (13) dan Alberta Putri (10) itu.
***
INSPIRASI ”Jagat Semawis” tidak datang begitu saja. Sudah sekian lama diamdiam Lelaki kelahiran Boyolali 17 Februari 1964 ini sering memperhatikan berbagai motif kain batik termasuk batik semarangan.
Ia mengakui, desain-desain dari batik semarangan sangat bagus. Tapi ada hal yang disoroti Joko. Dia melihat hanya ikon asam, atau tugu muda saja yang sering muncul. Maka, kata Joko, memasukkan hampir semua ikon akan lebih bisa menggambarkan kota Semarang secara utuh.
Pemberian nama desain batiknya juga punya cerita tersendiri. Ide kreatifnya ini ia temukan dalam batik ”Sekar jagat” , salah satu jenis kain batik yang desain motifnya menggabungkan beberapa motif menjadi satu. Dari situlah kemudian ia memberi nama desainnya dengan nama ”Jagat Semawis”, yang artinya ”jagat Semarang”.
Selain itu, ia juga membuat desain ”Parang Warak”, desain kepala warak ngendok dengan hiasan tumpal Tugumuda di bawahnya. Dua desain miliknya masuk nominasi, dan ”Jagat Semawis” menyabet juara satu.
Ya, dalam keseharian, Joko memang dikenal kreatif. Saat punya waktu kosong, tangannya tak pernah berhenti membuat sesuatu.
”Dari dulu saya suka kerajinan. Karena siang hari saya santai dan banyak waktu luang, maka saya manfaatkan untuk berkreasi, khususnya kerajinan daur ulang.” Pantas saja jika di rumahnya banyak barang ”sampah” yang ia kumpulkan dari pemulung. Ia juga memberdayakan warga sekitar untuk membantunya.
Hasilnya, ia sempat mempunyai gerai kerajinan khusus produk daur ulang di sebuah supermarket. Berbagai produk dengan label ”Samben” dia buat, antara lain tas, sandal, tempat tisu, tempat pensil, dan undangan.
Ia juga menyuplai produk untuk mengikuti pameran kerajinan di berbagai tempat dan toko buku besar di Semarang .
Yang jelas, setelah kemenangan itu, tawaran berdatangan, mulai dari tawaran mendesain hingga mengajar batik. Tapi ada satu hal yang kini berada dalam benak Joko.
Menjadi pengrajin batik. Dan ia punya kemampuan untuk itu. ”Saya yakin, saya bisa,” ujarnya mantap. (62)
Suara Merdeka
Bebrayan_010810
Ingin tahu lebih banyak tentang kota Semarang? Anda bisa mencarinya hanya dalam selembar kain batik ”Jagat Semawis”. Di kain itu tertoreh hampir semua ikon kota Semarang.
Ada delapan ikon yaitu buah asam, blekok, naga simbol pecinan, Lawangsewu, warak, Gereja Blendoek, pagoda, dan perahu nelayan. Semua itu menyatu dalam desain indah.
Desain itu memenangkan anugerah ”Canting Mas Award” dalam Lomba Desain Batik Semarang 2010 yang diselenggarakan dalam rangka Reuni Akbar SMA1 Semarang, belum lama ini. Siapa orang di balik desain jawara itu?
Sosok itu bernama Joko Sunarto (46). Dari tangan dinginnyalah desain kain batik itu tercipta. Ia bukan seorang pengrajin batik mumpuni yang sudah puluhan tahun menekuni batik. Dia adalah karyawan pada Desk Artistik Harian Suara Merdeka. Sudah 20 tahun dia bekerja di koran terbesar di Jawa Tengah ini.
”Tidak menyangka kalau menang karena saya menganggap diri saya belum pantas meraih penghargaan tertinggi untuk pengrajin batik,” ujar Joko merendah.
Ide dan kreativitasnya itulah yang membuat sebagian pengrajin batik ”iri” pada keberhasilan lelaki jebolan Jurusan Seni Rupa IKIP Semarang (sekarang Unnes). Padahal bisa dibilang, ilmu membatiknya hanya dia pelajari dalam kurun waktu satu bulan. Itu pun merupakan tenggat waktu yang diberikan panitia lomba untuk mengirimkan karya.
Kemenangan itu tak diraih dengan mudah. Ada perjuangan dahsyat di balik tropi Canting Emas dan uang yang ia dapatkan sebagai hasil kerja kerasnya. Sedari awal, dia memang sangat antusias untuk mengikuti lomba tersebut. Dia adalah orang pertama yang mengambil formulir lomba.
Saat itu, dia agak terkejut karena yang dilombakan adalah desain batik yang harus diaplikasikan ke selembar kain. Sebagai pendesain, tak sekali pun Joko membatik. Tentu saja, menuangkan desain dalam kain bukan perkara gampang. ”Saya menelepon panitia untuk tanya apakah desain boleh ‘didandakke’ke pengrajin. Ternyata boleh,” ungkap suami Wiwik Widiarsih (41) ini.
Joko sedikit lega. Ia punya waktu satu bulan untuk menyelesaikannya dua desain batik yang akan diikutkan lomba, yaitu ”Jagat Semawis” dan ”Parang Warak”. Joko lantas menghubungi pengrajin batik untuk membantunya. ”Tapi pengrajin butuh waktu 1,5 bulan untuk satu desain.
Itu artinya dalam kondiri normal butuh waktu tiga bulan. Jelas tak cukup untuk memenuhi tenggat waktu lomba.” *** TAK kurang akal, Joko tak mau membuang waktu. Ia pergi ke sentra pengrajin batik di Kampung Laweyan, Solo. Ia sengaja datang dengan tekad untuk belajar membatik pada ahlinya. Ia bertekad mengerjakannya sendiri. Dia sana, dia belajar dengan seseorang yang bernama Hadi, salah seorang pengrajin yang sudah berpengalaman.
Dia belajar ”gerak cepat”. Jika kursus batik umumnya butuh waktu 3-4 minggu untuk mendalami proses membatik, Joko hanya butuh waktu satu hari saja. Kemampuan menggambar desain selama ini ternyata memberi keuntungan. Ia lebih cepat menguasai proses membuat pola. ”Kursus kilat cuma satu hari. Harus bisa dan satu hari itu juga selesai.” Di Laweyan, Joko sadar, membatik tidak semudah yang ia bayangkan. Apalagi saat mempelajari proses pewarnaan, dengan jujur dia mengalami kesulitan. Tapi tantangan itulah yang justru memacunya untuk menyelesaikan karya dengan tangannya sendiri.
”Saya menggabungkan warna alam dan warna yang pakai bahan kimia. Sampai puluhan kali mencoba baru berhasil”.
Hingga akhirnya rumah sederhana di kompleks perumahan Pondok Raden Patah Sayung, Demak yang dia tinggali bersama keluarganya itu pun menjadi saksi kegigihannya. Ia menyulap ruang tamunya menjadi workshop dadakan. Segala macam alat untuk membatik pun dipindah ke ruang tamunya.
Semua itu ia kerjakan sendiri di sela-sela rutinitas pekerjaannya. ”Mestinya dalam satu bulan saya mengerjakan satu desain, tapi saya bikin empat, dua gagal dua berhasil Yang dibikin dulu yang sulit, baru yang lebih mudah.” Desain ”Jagat Semawis” dituangkan ke atas kain berwarna hijau. Warna yang dianggapnya teduh bagi si pemakai batik karyanya ini dia hasilkan setelah melakukan uji coba warna. ”Yang sulit melakukan pewarnaan di kain. Mencoba-coba semua warna hasilnya kurang bagus. Hingga ketemu warna hijau, hasilnya lebih oke,” ujar ayah dari Noel Lanang (13) dan Alberta Putri (10) itu.
***
INSPIRASI ”Jagat Semawis” tidak datang begitu saja. Sudah sekian lama diamdiam Lelaki kelahiran Boyolali 17 Februari 1964 ini sering memperhatikan berbagai motif kain batik termasuk batik semarangan.
Ia mengakui, desain-desain dari batik semarangan sangat bagus. Tapi ada hal yang disoroti Joko. Dia melihat hanya ikon asam, atau tugu muda saja yang sering muncul. Maka, kata Joko, memasukkan hampir semua ikon akan lebih bisa menggambarkan kota Semarang secara utuh.
Pemberian nama desain batiknya juga punya cerita tersendiri. Ide kreatifnya ini ia temukan dalam batik ”Sekar jagat” , salah satu jenis kain batik yang desain motifnya menggabungkan beberapa motif menjadi satu. Dari situlah kemudian ia memberi nama desainnya dengan nama ”Jagat Semawis”, yang artinya ”jagat Semarang”.
Selain itu, ia juga membuat desain ”Parang Warak”, desain kepala warak ngendok dengan hiasan tumpal Tugumuda di bawahnya. Dua desain miliknya masuk nominasi, dan ”Jagat Semawis” menyabet juara satu.
Ya, dalam keseharian, Joko memang dikenal kreatif. Saat punya waktu kosong, tangannya tak pernah berhenti membuat sesuatu.
”Dari dulu saya suka kerajinan. Karena siang hari saya santai dan banyak waktu luang, maka saya manfaatkan untuk berkreasi, khususnya kerajinan daur ulang.” Pantas saja jika di rumahnya banyak barang ”sampah” yang ia kumpulkan dari pemulung. Ia juga memberdayakan warga sekitar untuk membantunya.
Hasilnya, ia sempat mempunyai gerai kerajinan khusus produk daur ulang di sebuah supermarket. Berbagai produk dengan label ”Samben” dia buat, antara lain tas, sandal, tempat tisu, tempat pensil, dan undangan.
Ia juga menyuplai produk untuk mengikuti pameran kerajinan di berbagai tempat dan toko buku besar di Semarang .
Yang jelas, setelah kemenangan itu, tawaran berdatangan, mulai dari tawaran mendesain hingga mengajar batik. Tapi ada satu hal yang kini berada dalam benak Joko.
Menjadi pengrajin batik. Dan ia punya kemampuan untuk itu. ”Saya yakin, saya bisa,” ujarnya mantap. (62)
Suara Merdeka
Bebrayan_010810
9.13.2010
Eksis Dengan "Kue" Kecil
Sri Hartanti Yulianingsih
Bisnis Event Organiser (EO) di Semarang beberapa tahun terakhir ini seperti jamur di musim hujan. Keuntungan dari bisnis ini terbilang sangat menggiurkan meskipun persaingan "kejam" melingkupinya.
Tapi justru bisnis jasa inilah yang dipilih Sri Hartanti Yulianingsih (33) empat tahun terakhir ini. Dia muda, enerjetik dan bisa dibilang orangnya tidak bisa tinggal diam.
Perempuan yang akrab di sapa Tantie ini adalah Direktur CVAqsha Multi Talenta atau lebih dikenal dengan Aqsha Organizer. EO itu memfokuskan pada bidang jasa penyelenggaraan kegiatan pameran atau ekshibisi di mal, outdoor, atau kegiatan yang diselenggarakan instansi pemerintahan di beberapa daerah di Jateng.
Fokus pada kegiatan pameran memang tidak dibanyak dibidik EO-EO besar di Semarang. EO yang secara berkala menyelenggarakan event reguler dianggap lebih merepotkan dan keuntungannya yang kecil dengan ritme kerja lebih berat.
Tapi tidak demikian bagi Tantie. Ia justru menangkap peluang ini karena dia anggap lebih menguntungkan. Dalam satu bulan dia bisa menyelenggarakan di beberapa tempat. Tantie pun merasa “feeling“-nya lebih bagus jika fokus pada kegiatan pameran dibanding menyelenggarakan acara dengan skala besar. Kemantapan ini sebenarnya tidak ia dapatkan begitu saja.
Ilmu yang diperolehnya selama bekerja sebagai koordinator marketing di PRPPdia aplikasikan. Aqsha lebih memilih event reguler atau bulanan dibandingkan menggelar yang besar seperti yang dilakukan EO-EO besar lain. Menurut Tantie, dari sisi bisnis lebih menguntungkan dengan spekulasi yang relatif lebih kecil.
Persaingan ketat bisnis EO inipun mengharuskan Tantie jeli mencari peluang. Tanti menggarap pangsa pasar yang tidak banyak dilakukan para pebisnis EO. “Jumlah EO di Semarang mencapai ratusan, tapi kalau kita lihat lagi sebenarnya tidak banyak yang mampu eksis.“
Menggarap event reguler ini menjadi salah satu trik Tantie agar tetap bertahan dari ketatnya persaingan bisnis. Menurutnya jalur itu ditempuh karena selama ini modalnya masih kecil. Ibaratnya, dia hanya bermain-main dengan “kue“ yang kecil saja. “Biar kecil tapi terus, jangan sampai untung kegedean habis itu drop.“
***
TANTIE mengatakan, persaingan EO pada Foto: Noni Arnee umumnya “kejam“. Maksudnya, sebagian besar orang yang berkecimpung di bidang ini cenderung individualistis dan lebih mementingkan nama sebagai bentuk branding. Dan kondisi inilah yang sebenarnya sangat dihindari Tantie. “Biasanya tak mau bekerja sama, tak mau nge-sub. Banyak yang gengsi. Padahal, sebenarnya tidak perlu idealis begitu.“
Kondisi seperti itu kemudian dibaliknya. Tantie justru sering menawarkan kerja sama sesama EO biar lebih kuat. “Tapi mereka sering khawatir namanya akan tenggelam dibalik nama OE yang mengajaknya bergabung. Padahal kalau tak dapat eventsendiri, ya kan bisa ikut eventorang.“
EO juga sering “banting harga“ atau justru block di suatu tempat misalnya di mal. Mereka menjual stan ke EO lain dengan memasang tarif harga yang membumbung sehingga EO yang bermodal kecil tidak bisa masuk. “Stan di mal besar yang strategis biasanya sudah diambil EO besar, baru kemudian mereka jual lagi kalau ada event. Itu yang merepotkan,“ Tapi menurutnya, hal itu bukan masalah besar.
“Bisnis EO itu bisnis kepercayaan. Jadi komitmen harus dijunjung tinggi. Itu yang bikin kerja sama dengan klien jadi langgeng dan bertahan.“
Kepercayaan klien sebagai salah satu modal utama mengharuskan ia terus menjaga hubungan baik dengan relasi yang pernah bekerja sama. “Ini sangat penting. Makanya klien dan relasinya kita anggap seperti sahabat sendiri.“
Aqsha Organizer pun banyak dipercaya untuk menyelenggarakan berbagai event. Di antaranya, Pameran Lawangsewu, Festival Pandanaran, dan beberapa event hari jadi sejumlah kota.
***
PEREMPUAN kelahiran Purwokerto, 24 Juli 1977 itu mengenal dunia per EO-an dimulai ketika lulus kuliah pada 2000. Tantie bekerja sebagai marketing di Indofilm yang aktif menggelar pameran di PRPP. Hingga akhirnya ia keluar dan memilih menjadi pegawai di BUMD milik Pemprov Jateng ini sebagai marketing.
Tapi seiring berjalannya waktu, Tantie merasa ritme pekerjaan yang dia lakoni tidak dinamis. Ini karena PRPPhanya menyelenggarakan event tahunan. Walhasil, banyak waktu efektif yang terbuang sia-sia.
Dengan dukungan para pengusaha besar di Semarang dan Muhammad Nopran (40), laki-laki yang dinikahinya tahun 2002 silam. Ia memutuskan berhenti dari tempat yang membesarkan namanya dan memberinya ilmu itu. “Justru mereka yang ngompori untuk bisa maju, akhirnya saya putuskan untuk keluar dari pekerjaan dan mulai merintis usaha ini.“
Tentu saja usaha yang dirintis ini juga tidak jauh dari apa yang sudah dilakukan keseharian.Bisnis EO dipilihnya. Aqsha Organizer diawali sekitar tahun 2006, selepas ia “keluar“ dari tempat yang mengenalkannya pada banyak relasi. “Meski berat tapi harus mengambil sikap. Saya ingin maju dan salah satunya dengan keluar dari pekerjaan.“
Merintis dari nol dengan modal yang dibilang kecil untuk ukuran membuat sebuah bisnis EO tak membuatnya berkecil hati. Meski tidak dimungkiri bahwa kedekatannya dengan pebisnis di Semarang sedikit banyak menguntungkan dirinya dalam merintis bisnis EO-nya. “Saya paling tidak bisa utang budi sama orang. Modal kecil, jadi pintarpintarnya mengatur strategi. Biasanya kalau tidak mampu bayar di muka, ya di dikasih persekot dulu,“ ujar perempuan berkacamata ini.
Kedekatan emosial dengan PRPPmembuatnya hingga kini masih sering diminta PRPPuntuk membantu jika ada event besar seperti pameran pembangunan yang digelar setahun sekali.
Aqsha Organizer terus eksis karena kepiawaian Tantie mengatur stategi dalam setiap konsep pameran yang digelarnya. Membangun intuisi harus memperhatikan beberapa hal, di antaranya waktu dan tempat penyelenggaraan event.
“Tempat strategis, tanggal muda itu pasti akan laris. Tapi kalau konsep event jelek, ya peserta pasti sambat,“ Klien banyak puas ikut pameran yang digawangi Aqsha Organizer. Bahkan juga merasa hoki dan mendapat keuntungan luar biasa.
“Katanya aku bawa keberuntungan buat mereka karena kalau ikut pameranku mereka selalu untung,“ ujarnya terkekeh.
Tapi Tantie membantah. Menurutnya, semua event yang dijalankan akan berhasil jka mempunyai persiapan matang dan selektif agar peserta bisa menikmati keuntungan.
Di luar itu, tentu saja Tantie adalh perempuan yang sibuk. Tapi Kesibukan seabreknya tak membuat dirinya melupakan suami dan kedua buah hatinya, Keisha Dewi Aqshana (8) dan Muhammad Fadli Arfah (4). “Kami lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas.
Sesibuk apa pun, malam hari juga tetap sama anak,“ ujar perempuan yang membiayai kuliahnya dari menyanyi lagu country di kafe-kafe ini.
Karena kesibukan, ia juga tidak mengkhususkan hari libur sebagai hari bersama keluarga. Pasalnya event-event-nya justru sebagian besar justru diselenggarakan pada hari libur.
“Jadi bekerja sambil bermain dengan mengajak anak-anak ke pameran.“
Tapi karena anak-anak sering ditinggal, mereka jadi lebih mandiri. “Kebetulan sekeluarga suka jalan. Jadi kalau ada waktu luang, kami pasti ke luar kota.“ (62) NONI ARNEE
Bebrayan-25.07.2010
Bisnis Event Organiser (EO) di Semarang beberapa tahun terakhir ini seperti jamur di musim hujan. Keuntungan dari bisnis ini terbilang sangat menggiurkan meskipun persaingan "kejam" melingkupinya.
Tapi justru bisnis jasa inilah yang dipilih Sri Hartanti Yulianingsih (33) empat tahun terakhir ini. Dia muda, enerjetik dan bisa dibilang orangnya tidak bisa tinggal diam.
Perempuan yang akrab di sapa Tantie ini adalah Direktur CVAqsha Multi Talenta atau lebih dikenal dengan Aqsha Organizer. EO itu memfokuskan pada bidang jasa penyelenggaraan kegiatan pameran atau ekshibisi di mal, outdoor, atau kegiatan yang diselenggarakan instansi pemerintahan di beberapa daerah di Jateng.
Fokus pada kegiatan pameran memang tidak dibanyak dibidik EO-EO besar di Semarang. EO yang secara berkala menyelenggarakan event reguler dianggap lebih merepotkan dan keuntungannya yang kecil dengan ritme kerja lebih berat.
Tapi tidak demikian bagi Tantie. Ia justru menangkap peluang ini karena dia anggap lebih menguntungkan. Dalam satu bulan dia bisa menyelenggarakan di beberapa tempat. Tantie pun merasa “feeling“-nya lebih bagus jika fokus pada kegiatan pameran dibanding menyelenggarakan acara dengan skala besar. Kemantapan ini sebenarnya tidak ia dapatkan begitu saja.
Ilmu yang diperolehnya selama bekerja sebagai koordinator marketing di PRPPdia aplikasikan. Aqsha lebih memilih event reguler atau bulanan dibandingkan menggelar yang besar seperti yang dilakukan EO-EO besar lain. Menurut Tantie, dari sisi bisnis lebih menguntungkan dengan spekulasi yang relatif lebih kecil.
Persaingan ketat bisnis EO inipun mengharuskan Tantie jeli mencari peluang. Tanti menggarap pangsa pasar yang tidak banyak dilakukan para pebisnis EO. “Jumlah EO di Semarang mencapai ratusan, tapi kalau kita lihat lagi sebenarnya tidak banyak yang mampu eksis.“
Menggarap event reguler ini menjadi salah satu trik Tantie agar tetap bertahan dari ketatnya persaingan bisnis. Menurutnya jalur itu ditempuh karena selama ini modalnya masih kecil. Ibaratnya, dia hanya bermain-main dengan “kue“ yang kecil saja. “Biar kecil tapi terus, jangan sampai untung kegedean habis itu drop.“
***
TANTIE mengatakan, persaingan EO pada Foto: Noni Arnee umumnya “kejam“. Maksudnya, sebagian besar orang yang berkecimpung di bidang ini cenderung individualistis dan lebih mementingkan nama sebagai bentuk branding. Dan kondisi inilah yang sebenarnya sangat dihindari Tantie. “Biasanya tak mau bekerja sama, tak mau nge-sub. Banyak yang gengsi. Padahal, sebenarnya tidak perlu idealis begitu.“
Kondisi seperti itu kemudian dibaliknya. Tantie justru sering menawarkan kerja sama sesama EO biar lebih kuat. “Tapi mereka sering khawatir namanya akan tenggelam dibalik nama OE yang mengajaknya bergabung. Padahal kalau tak dapat eventsendiri, ya kan bisa ikut eventorang.“
EO juga sering “banting harga“ atau justru block di suatu tempat misalnya di mal. Mereka menjual stan ke EO lain dengan memasang tarif harga yang membumbung sehingga EO yang bermodal kecil tidak bisa masuk. “Stan di mal besar yang strategis biasanya sudah diambil EO besar, baru kemudian mereka jual lagi kalau ada event. Itu yang merepotkan,“ Tapi menurutnya, hal itu bukan masalah besar.
“Bisnis EO itu bisnis kepercayaan. Jadi komitmen harus dijunjung tinggi. Itu yang bikin kerja sama dengan klien jadi langgeng dan bertahan.“
Kepercayaan klien sebagai salah satu modal utama mengharuskan ia terus menjaga hubungan baik dengan relasi yang pernah bekerja sama. “Ini sangat penting. Makanya klien dan relasinya kita anggap seperti sahabat sendiri.“
Aqsha Organizer pun banyak dipercaya untuk menyelenggarakan berbagai event. Di antaranya, Pameran Lawangsewu, Festival Pandanaran, dan beberapa event hari jadi sejumlah kota.
***
PEREMPUAN kelahiran Purwokerto, 24 Juli 1977 itu mengenal dunia per EO-an dimulai ketika lulus kuliah pada 2000. Tantie bekerja sebagai marketing di Indofilm yang aktif menggelar pameran di PRPP. Hingga akhirnya ia keluar dan memilih menjadi pegawai di BUMD milik Pemprov Jateng ini sebagai marketing.
Tapi seiring berjalannya waktu, Tantie merasa ritme pekerjaan yang dia lakoni tidak dinamis. Ini karena PRPPhanya menyelenggarakan event tahunan. Walhasil, banyak waktu efektif yang terbuang sia-sia.
Dengan dukungan para pengusaha besar di Semarang dan Muhammad Nopran (40), laki-laki yang dinikahinya tahun 2002 silam. Ia memutuskan berhenti dari tempat yang membesarkan namanya dan memberinya ilmu itu. “Justru mereka yang ngompori untuk bisa maju, akhirnya saya putuskan untuk keluar dari pekerjaan dan mulai merintis usaha ini.“
Tentu saja usaha yang dirintis ini juga tidak jauh dari apa yang sudah dilakukan keseharian.Bisnis EO dipilihnya. Aqsha Organizer diawali sekitar tahun 2006, selepas ia “keluar“ dari tempat yang mengenalkannya pada banyak relasi. “Meski berat tapi harus mengambil sikap. Saya ingin maju dan salah satunya dengan keluar dari pekerjaan.“
Merintis dari nol dengan modal yang dibilang kecil untuk ukuran membuat sebuah bisnis EO tak membuatnya berkecil hati. Meski tidak dimungkiri bahwa kedekatannya dengan pebisnis di Semarang sedikit banyak menguntungkan dirinya dalam merintis bisnis EO-nya. “Saya paling tidak bisa utang budi sama orang. Modal kecil, jadi pintarpintarnya mengatur strategi. Biasanya kalau tidak mampu bayar di muka, ya di dikasih persekot dulu,“ ujar perempuan berkacamata ini.
Kedekatan emosial dengan PRPPmembuatnya hingga kini masih sering diminta PRPPuntuk membantu jika ada event besar seperti pameran pembangunan yang digelar setahun sekali.
Aqsha Organizer terus eksis karena kepiawaian Tantie mengatur stategi dalam setiap konsep pameran yang digelarnya. Membangun intuisi harus memperhatikan beberapa hal, di antaranya waktu dan tempat penyelenggaraan event.
“Tempat strategis, tanggal muda itu pasti akan laris. Tapi kalau konsep event jelek, ya peserta pasti sambat,“ Klien banyak puas ikut pameran yang digawangi Aqsha Organizer. Bahkan juga merasa hoki dan mendapat keuntungan luar biasa.
“Katanya aku bawa keberuntungan buat mereka karena kalau ikut pameranku mereka selalu untung,“ ujarnya terkekeh.
Tapi Tantie membantah. Menurutnya, semua event yang dijalankan akan berhasil jka mempunyai persiapan matang dan selektif agar peserta bisa menikmati keuntungan.
Di luar itu, tentu saja Tantie adalh perempuan yang sibuk. Tapi Kesibukan seabreknya tak membuat dirinya melupakan suami dan kedua buah hatinya, Keisha Dewi Aqshana (8) dan Muhammad Fadli Arfah (4). “Kami lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas.
Sesibuk apa pun, malam hari juga tetap sama anak,“ ujar perempuan yang membiayai kuliahnya dari menyanyi lagu country di kafe-kafe ini.
Karena kesibukan, ia juga tidak mengkhususkan hari libur sebagai hari bersama keluarga. Pasalnya event-event-nya justru sebagian besar justru diselenggarakan pada hari libur.
“Jadi bekerja sambil bermain dengan mengajak anak-anak ke pameran.“
Tapi karena anak-anak sering ditinggal, mereka jadi lebih mandiri. “Kebetulan sekeluarga suka jalan. Jadi kalau ada waktu luang, kami pasti ke luar kota.“ (62) NONI ARNEE
Bebrayan-25.07.2010
Kukuh Pada Komitmen
Mata Lea memerah. Bulir air mata mendadak menetes dari pipi perempuan berparas cantik itu. Dengan sedikit terisak, ia bercerita kepada Dinda, teman baiknya.
“Aku sudah tiga hari ini ga omongan sama Dio. Kesel banget kalau diajak bicara selalu tidak nyambung. Kayaknya yang diurusin cuman dirinya sendiri dan mobilnya,” keluh Lea.
Sudah tak terhitung lagi Lea menumpahkan curahan hatinya kepada Dinda. ”Dio sepertinya juga tidak perduli dengan aku dan anaknya. Pisah mungkin jalan terbaik,” lanjut Lea. Rumah tangga Lea (36) memang tidak sesukses karir nya sebagai supervisor di sebuah perusahaan ternama. Ia seringkali bertengkar dengan suaminya. Kesibukan keduanya ternyata tak mampu menyatukan keharmonisan rumahtangga yang sudah dibinanya 12 tahun.
Lea mengaku ingin berpisah karena merasa tak mampu lagi memendam ”sakit hati” dan memaklumi perilaku Dio suaminya yang lebih sering berada di ”luar” daripada menghabiskan waktu bersama keluarga.
”Sabar.. kalian berdua kan sangat sibuk, mungkin kurang komunikasi. Sebaiknya dibicarakan bagaimana komitmen kalian dalam membina rumah tangga. Jangan sampai berlarut-larut.” saran Dinda mengingatkan sahabatnya yang seringkali ”meledak” itu.
Sementara, sudah tiga tahun terakhir ini, setiap pukul enam pagi, Murni (64) selalu menyusuri taman kota tak jauh dari rumahnya. Kedua tangan rentanya mendorong kursi roda Darto (67), laki-laki yang sudah menikahinya selama 44 tahun itu. ”Menemani bapak menghirup udara segar, biar pikiran fresh terus,” ujar Murni.
Kebiasaan itu ia lakukan sejak Darto menderita lumpuh akibat stroke. Dengan sabar ia setia menemani dan merawat suaminya yang terkenal flamboyan dan memiliki banyak pacar saat ia masih bugar.
”Siapa lagi yang akan merawat kalau bukan istrinya. Siapa tahu kondisi bapak akan membaik,” kata perempuan yang selalu ”mengalah” ini beralasan. Kesetiaan Murni sebagai seorang perempuan dalam kultur jawa rupanya telah meluruhkan perilaku ”Don Juan” Darto yang sering membuat setiap perempuan dimanapun sakit hati.
***
Perkawinan merupakan wujud menyatunya dua sejoli ke dalam satu tujuan yang sama bernama kebahagiaan. Namun, jalan menuju kebahagiaan tentu saja tak selamanya mulus. Banyak hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah-tangga.
Sebuah survei menyebutkan sebanyak 72 persen wanita pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan pasangan mereka pada titik tertentu. Walaupun demikian, seperti dilansir Reuters, sebanyak 71 persen berharap dapat bersama suami mereka sepanjang sisa hidup mereka.
Terlepas apapun alasannya, dua hal yang sangat bertentangan ini juga dialami Lea dan Murni dalam membina bahtera rumahtangga.
Dra. Sri Mariati Deliana M.si, psikolog dari Unnes membenarkan bahwa pasangan paling bahagia sekalipun bukan berarti tidak memiliki saat-saat menyebalkan dalam pernikahan.
Namun menurutnya, semua hal itu bisa teratasi jika masing-masing pasangan bersedia kembali pada jalur pengikatan janji untuk hidup bersama sesuai norma-norma yang berlaku dengan satu tujuan, yakni untuk mencapai kebahagiaan. ” Pernikahan langgeng tidak akan terjadi begitu saja tanpa usaha dari kedua belah pihak.”
Deliana mencoba memberikan gambaran bagi setiap pasangan bagaimana mengantisipasi supaya mahligai rumah-tangga tidak goyang dan menjaga keutuhan rumah tangga hingga ke garis finis.
”Komitmen adalah kunci utama,” kata dosen psikologi Unnes ini. Artinya setiap pasangan harus menghargai komitmen atau kesepakatan yang telah dibuat bersama. Bahkan sebenarnya jika dilihat kebelakang, komitmen untuk membina rumahtangga semua tertuang dalam semua agama.
” Misalnya, kalau kita perhatikan dibuku nikah saja itu ada ketentuan yang mengatur soal bagaimana pasangan menjalani rumahtangganya tanpa ada keduabelah pihak yang merasa dirugikan.”
Maksud Deliana adalah, salah satu pihak baik perempuan maupun laki-laki tidak ada yang memaksakan keinginan yang membuat pasangan merasa tidak nyaman. Dalam perkawinan harus ada kesamaan, meski keduanya mempunyai posisi dan tanggungjawab yang berbeda.
Kondisi itu hanya bisa tercapai jika keduanya mempunyai cinta. Karena Cinta merupakan energi yang dahsyat untuk mengembangkan dan menyempurnakan kepribadian pasangan. Cinta akan membantu membuang semua rintangan yang muncul di tengah perjalanan rumah tangga. ”Perkawinan yang dibangun tanpa landasan cinta sebetulnya adalah omong-kosong belaka. Meski bukan satu-satunya syarat, cinta sangat berperan dalam membangun perkawinan yang langgeng.” Maka, cinta dalam perkawinan adalah sesuatu yang mutlak dan harus.
Dengan begitu kata Deliana maka akan muncul tanggungjawab dari kedua belah pihak untuk tetap menyatukan mereka. ”Orang yang bertanggungjawab tidak akan mengingkari hal yang sudah disepakati dengan cara apapun. Dan itu hanya dimiliki oleh orang yang sudah ”matang” dari sisi pemikiran.”
***
Namun menurutnya apa yang terjadi dalam sebuah perkawinan adalah sesuatu yang sangat komplek dengan berbagai persoalan yang dialami masing-masing pasangan.
Seperti yang terjadi pada Lea dan Dio, mungkin saja keputusan untuk mengakhiri biduk rumahtangganya itu ia anggap sebagai keputusan terbaik. Tapi bisa juga keputusan itu diambil karena dia belum menunjukkan kedewasaannya dalam berpikir. Meski usia perkawinan menginjak 12 tahun.
Pasangan yang belum matang akan cenderung menuju ke egosentris dan semaunya sendiri. ” Tidak mau sharing dan tidak menerima kritik dari pasangan itu akan berakibat fatal.”
Deliana menjelaskan, pernikahan yang dibangun dalam budaya akan lebih bertahan. Seperti yang dialami Murni. Dimana sebagian besar laki-laki akan lebih dominan karena pengaruh budaya patriarki. Perempuan berada dipihak yang mengalah terus, meski sebetulnya tidak nyaman. ”Ya sudah diterima saja, perempuan selalu seperti itu.”
Itu keputusan yang diambil Murni. Ia masih tetap setia bertahun-tahun mendampingi Darto meskipun ia mungkin sakit hati mengetahui suaminya yang sering bergonta-ganti pacar.
Meski pernikahan semacam itu menurut Deliana adalah pernikahan tidak sehat. Tapi kesetiaan Murni hingga usia mereka menginjak senja. adalah bukti dari sebuah komitmen yang bertanggungjawab terhadap pilihannya.”Perempuan yang selalu mengalah tidak akan merasa nyaman, meskipun dari luar terlihat baik-baik saja.”
Karena itu, jangan terlalu banyak menuntut pasangan yang hanya akan berujung pada kepentingan pribadi, sehingga tidak akan mampu menambahkan kedewasaan hubungan. Tetap bersyukurlah dalam setiap menghadapi kekalutan hidup. Sikap untuk belajar memberi yang terbaik untuk pasangan, akan semakin memperbesar kesetiaan cinta kepada pasangan.
Kesetiaan bukan merupakan suatu pilihan, tapi merupakan suatu keputusan. Jadi ketika menyatakan untuk setia, berarti harus menjaga keputusan yang telah dinyatakan itu. Tentu saja selain cinta, butuh lebih dari sekedar komitmen untuk menjalani sebuah pernikahan di saat cinta kita mulai luntur terhadap pasangan kita, disaat godaan dan masalah datang, dibutuhkan kedewasaan dan kebijakan untuk berpikir dan bertindak.
Karena mencintai adalah memberi cinta dengan ketulusan, tidak ada terselip di dalamnya, imbalan ataupun pamrih demi keuntungan pribadi. Timbal balik dari pasangan akan datang dengan sendirinya bila Anda tulus mencintainya. Dari rasa ikhlas dan tanpa pamrih, akan mampu menjaga hati untuk tetap setia. (NONI ARNEE)
Bebrayan-18.07.2010
“Aku sudah tiga hari ini ga omongan sama Dio. Kesel banget kalau diajak bicara selalu tidak nyambung. Kayaknya yang diurusin cuman dirinya sendiri dan mobilnya,” keluh Lea.
Sudah tak terhitung lagi Lea menumpahkan curahan hatinya kepada Dinda. ”Dio sepertinya juga tidak perduli dengan aku dan anaknya. Pisah mungkin jalan terbaik,” lanjut Lea. Rumah tangga Lea (36) memang tidak sesukses karir nya sebagai supervisor di sebuah perusahaan ternama. Ia seringkali bertengkar dengan suaminya. Kesibukan keduanya ternyata tak mampu menyatukan keharmonisan rumahtangga yang sudah dibinanya 12 tahun.
Lea mengaku ingin berpisah karena merasa tak mampu lagi memendam ”sakit hati” dan memaklumi perilaku Dio suaminya yang lebih sering berada di ”luar” daripada menghabiskan waktu bersama keluarga.
”Sabar.. kalian berdua kan sangat sibuk, mungkin kurang komunikasi. Sebaiknya dibicarakan bagaimana komitmen kalian dalam membina rumah tangga. Jangan sampai berlarut-larut.” saran Dinda mengingatkan sahabatnya yang seringkali ”meledak” itu.
Sementara, sudah tiga tahun terakhir ini, setiap pukul enam pagi, Murni (64) selalu menyusuri taman kota tak jauh dari rumahnya. Kedua tangan rentanya mendorong kursi roda Darto (67), laki-laki yang sudah menikahinya selama 44 tahun itu. ”Menemani bapak menghirup udara segar, biar pikiran fresh terus,” ujar Murni.
Kebiasaan itu ia lakukan sejak Darto menderita lumpuh akibat stroke. Dengan sabar ia setia menemani dan merawat suaminya yang terkenal flamboyan dan memiliki banyak pacar saat ia masih bugar.
”Siapa lagi yang akan merawat kalau bukan istrinya. Siapa tahu kondisi bapak akan membaik,” kata perempuan yang selalu ”mengalah” ini beralasan. Kesetiaan Murni sebagai seorang perempuan dalam kultur jawa rupanya telah meluruhkan perilaku ”Don Juan” Darto yang sering membuat setiap perempuan dimanapun sakit hati.
***
Perkawinan merupakan wujud menyatunya dua sejoli ke dalam satu tujuan yang sama bernama kebahagiaan. Namun, jalan menuju kebahagiaan tentu saja tak selamanya mulus. Banyak hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah-tangga.
Sebuah survei menyebutkan sebanyak 72 persen wanita pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan pasangan mereka pada titik tertentu. Walaupun demikian, seperti dilansir Reuters, sebanyak 71 persen berharap dapat bersama suami mereka sepanjang sisa hidup mereka.
Terlepas apapun alasannya, dua hal yang sangat bertentangan ini juga dialami Lea dan Murni dalam membina bahtera rumahtangga.
Dra. Sri Mariati Deliana M.si, psikolog dari Unnes membenarkan bahwa pasangan paling bahagia sekalipun bukan berarti tidak memiliki saat-saat menyebalkan dalam pernikahan.
Namun menurutnya, semua hal itu bisa teratasi jika masing-masing pasangan bersedia kembali pada jalur pengikatan janji untuk hidup bersama sesuai norma-norma yang berlaku dengan satu tujuan, yakni untuk mencapai kebahagiaan. ” Pernikahan langgeng tidak akan terjadi begitu saja tanpa usaha dari kedua belah pihak.”
Deliana mencoba memberikan gambaran bagi setiap pasangan bagaimana mengantisipasi supaya mahligai rumah-tangga tidak goyang dan menjaga keutuhan rumah tangga hingga ke garis finis.
”Komitmen adalah kunci utama,” kata dosen psikologi Unnes ini. Artinya setiap pasangan harus menghargai komitmen atau kesepakatan yang telah dibuat bersama. Bahkan sebenarnya jika dilihat kebelakang, komitmen untuk membina rumahtangga semua tertuang dalam semua agama.
” Misalnya, kalau kita perhatikan dibuku nikah saja itu ada ketentuan yang mengatur soal bagaimana pasangan menjalani rumahtangganya tanpa ada keduabelah pihak yang merasa dirugikan.”
Maksud Deliana adalah, salah satu pihak baik perempuan maupun laki-laki tidak ada yang memaksakan keinginan yang membuat pasangan merasa tidak nyaman. Dalam perkawinan harus ada kesamaan, meski keduanya mempunyai posisi dan tanggungjawab yang berbeda.
Kondisi itu hanya bisa tercapai jika keduanya mempunyai cinta. Karena Cinta merupakan energi yang dahsyat untuk mengembangkan dan menyempurnakan kepribadian pasangan. Cinta akan membantu membuang semua rintangan yang muncul di tengah perjalanan rumah tangga. ”Perkawinan yang dibangun tanpa landasan cinta sebetulnya adalah omong-kosong belaka. Meski bukan satu-satunya syarat, cinta sangat berperan dalam membangun perkawinan yang langgeng.” Maka, cinta dalam perkawinan adalah sesuatu yang mutlak dan harus.
Dengan begitu kata Deliana maka akan muncul tanggungjawab dari kedua belah pihak untuk tetap menyatukan mereka. ”Orang yang bertanggungjawab tidak akan mengingkari hal yang sudah disepakati dengan cara apapun. Dan itu hanya dimiliki oleh orang yang sudah ”matang” dari sisi pemikiran.”
***
Namun menurutnya apa yang terjadi dalam sebuah perkawinan adalah sesuatu yang sangat komplek dengan berbagai persoalan yang dialami masing-masing pasangan.
Seperti yang terjadi pada Lea dan Dio, mungkin saja keputusan untuk mengakhiri biduk rumahtangganya itu ia anggap sebagai keputusan terbaik. Tapi bisa juga keputusan itu diambil karena dia belum menunjukkan kedewasaannya dalam berpikir. Meski usia perkawinan menginjak 12 tahun.
Pasangan yang belum matang akan cenderung menuju ke egosentris dan semaunya sendiri. ” Tidak mau sharing dan tidak menerima kritik dari pasangan itu akan berakibat fatal.”
Deliana menjelaskan, pernikahan yang dibangun dalam budaya akan lebih bertahan. Seperti yang dialami Murni. Dimana sebagian besar laki-laki akan lebih dominan karena pengaruh budaya patriarki. Perempuan berada dipihak yang mengalah terus, meski sebetulnya tidak nyaman. ”Ya sudah diterima saja, perempuan selalu seperti itu.”
Itu keputusan yang diambil Murni. Ia masih tetap setia bertahun-tahun mendampingi Darto meskipun ia mungkin sakit hati mengetahui suaminya yang sering bergonta-ganti pacar.
Meski pernikahan semacam itu menurut Deliana adalah pernikahan tidak sehat. Tapi kesetiaan Murni hingga usia mereka menginjak senja. adalah bukti dari sebuah komitmen yang bertanggungjawab terhadap pilihannya.”Perempuan yang selalu mengalah tidak akan merasa nyaman, meskipun dari luar terlihat baik-baik saja.”
Karena itu, jangan terlalu banyak menuntut pasangan yang hanya akan berujung pada kepentingan pribadi, sehingga tidak akan mampu menambahkan kedewasaan hubungan. Tetap bersyukurlah dalam setiap menghadapi kekalutan hidup. Sikap untuk belajar memberi yang terbaik untuk pasangan, akan semakin memperbesar kesetiaan cinta kepada pasangan.
Kesetiaan bukan merupakan suatu pilihan, tapi merupakan suatu keputusan. Jadi ketika menyatakan untuk setia, berarti harus menjaga keputusan yang telah dinyatakan itu. Tentu saja selain cinta, butuh lebih dari sekedar komitmen untuk menjalani sebuah pernikahan di saat cinta kita mulai luntur terhadap pasangan kita, disaat godaan dan masalah datang, dibutuhkan kedewasaan dan kebijakan untuk berpikir dan bertindak.
Karena mencintai adalah memberi cinta dengan ketulusan, tidak ada terselip di dalamnya, imbalan ataupun pamrih demi keuntungan pribadi. Timbal balik dari pasangan akan datang dengan sendirinya bila Anda tulus mencintainya. Dari rasa ikhlas dan tanpa pamrih, akan mampu menjaga hati untuk tetap setia. (NONI ARNEE)
Bebrayan-18.07.2010
Langganan:
Postingan (Atom)