Eko Budiyanto(34) tak menyangka jika pertemuannya dengan rekan sesama wartawan televisi Yudhi Sutomo (43) di sebuah warung internet langganan minggu (31/1) pagi di kawasan Banyumanik akan berakhir tragis.
****
”Hari ini ada Konfercap PDIP, bisa jalan ga?”, isi pesan pendek dari Yudhi yang mampir ke telepon genggam Eko mengajak liputan. Beberapa kali telepon dari Yudhi tak sempat dijawabnya. Meski semalam mengeluh kelelahan, pagi itu Eko tetap bekerja, setelah mendapat pesan singkat dari koresponden SCTV itu.
Selain karena wilayah tugas mereka sama, di kabupaten Semarang dan sekitarnya, sebagai sesama wartawan televisi, keduanya memang sering bersama dan berbagi informasi agenda liputan. Terlebih lagi Eko masih terbilang baru terjun menjadi wartawan TV. Baru 4 bulan bekerja di Semarang TV.
Keduanyapun bertemu ditempat biasa di warung internet langganan di kawasan Banyumanik, membicarakan agenda liputan hari itu. Undangan dari narasumber untuk meliput launching Koran "Ibu" milik Taman Bacaan Warung Pasinaon, Bergas Lor, Kabupaten Semarang, membuat mereka pergi lebih cepat. ”Mo liputan acara launching koran ”ibu”, kenang Eko lirih.
Mereka akhirnya memutuskan segera pergi. Yudhi membonceng sepeda motor Grand milik Eko seperti biasanya. Kemudian keduanyapun meluncur dari arah Ungaran menuju Karangjati.
Ternyata kondisi jalur di Ungaran minggu (31/1) pagi itu yang padat merayap sedikit memperlambat perjalanan mereka. Sementara panitia penyelenggara terus saja menelepon dan meminta mereka segera datang ke acara membuat Eko harus sesekali mendahului kendaraan yang ada di depannya agar cepat sampai tujuan.
Namun tepat saat melintas di depan dealer Suzuki Langensari Jl Jenderal Sudirman, tiba-tiba dari arah belakang kendaraan Eko di tabrak truk tronton.
’’Saya akan mendahului kendaraan beriringan, tiba-tiba motor ditabrak dari belakang oleh truk tronton. Saya terjatuh dan terseret sekitar 100 meter,’’ jelas Eko.
Akibat kecelakaan itu, Eko mengalami luka serius pada kaki kanannya, luka sobek pada bagian paha, pelipis, dan wajah. Ia sempat pingsan saat terseret truk. Sementara Yudhi meninggal dunia di lokasi dalam kondisi yang cukup mengenaskan.
Supir truk tronton enggan bertanggungjawab. Setelah mengetahui truknya menabrak motor mereka, ia langsung melarikan diri. Dan hingga kini supir masih dalam pengejaran pihak kepolisian.
Nasib eko lebih baik dibandingkan rekannya, meski kini Eko harus kehilangan kaki kanan.
Firasat
Dua hari pasca kecelakaan, Eko masih terbaring lemah. Ia juga masih kesulitan menggerakkan tubuhnya. Meski operasi untuk memperbaiki syaraf kaki kanan yang rusak sudah dilakukan. Ditemani sang istri, eko menjalani proses penyembuhan dan pemulihan. Eko belum bisa diajak banyak bicara.
”Harus banyak istirahat, karena suhu badannya belum stabil. masih sering panas,” ucap Sri Haryanti istri Eko saat di temui Cempaka di ruang Anyelir 101 Rumah Sakit Tlogorejo Semarang.
Minggu siang paska kecelakaan, Eko langsung dirujuk ke rumahsakit tersebut, agar cepat mendapat penanganan.
”Takutnya kalau mengalami gegar otak juga, tapi alhamdulillah tidak ada keluhan, jadi paling seminggu lagi bisa pulang dan rawat jalan.” imbuh Sri.
Sri haryanti kemudian menuturkan jika dua hari sebelum kejadian, ia sebenarnya sudah merasakan akan terjadi sesuatu. Selama 2 hari berturut-turut ada kejadian yang mengganggu pikirannya. Seperti firasat.
”Saya megang gelas pecah terus sampai dua kali. Trus waktu bikin minuman untuk mas Eko , gelasnya bentet (retak). Sebelumnya saya juga mimpi kalau saya tiba-tiba nggandeng monyet. Entah itu artinya apa saya juga tidak begitu ngerti,” cerita Sri.
Kejadian itu tidak pernah disampaikan kepada suaminya. Hingga ia akhirnya mendapat khabar dari saudaranya bahwa suaminya mengalami kecelakaan saat bertugas.
Keresahan juga dirasakan Eko pernah diutarakan kepada rekannya beberapa waktu lalu.
”Motorku wis ga enak rasanya, harus di servis,” kata Rita Wahyu Wijayanti, Redaktur berita Semarang TV menirukan kata-kata Eko beberapa waktu lalu
Menjadi wartawan
Eko adalah tulang punggung keluarga. Ia dikaruniai dua anak perempuan berumur 10 tahun dan 4 tahun. Sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga. Sepuluh tahun lebih menjalankan usaha bengkel sepeda motor di desa Kedungdowo Campurejo Boja, Gunungpati tak membuatnya berpuas hati.
Bahkan ia mengaku kepada istrinya jika ia bosan dengan usaha yang dirintis dari nol itu dan ingin beralih profesi agar kehidupannya lebih baik.
Hingga suatu ketika datang seorang teman menawarkan pekerjaan sebagai wartawan di sebuah majalah.
”Bosen, kalau jadi wartawan banyak temennya, bisa ketemu banyak orang,”ucap Sri menirukan perkataan suaminya.
Mungkin saja menjadi seorang wartawan menjadi keinginan terpendam. Eko mencoba terjun di dunia wartawan yang penuh dengan tantangan. Bekerja di majalah ditekuni sekitar 8 bulan, hingga suatu ketika Sari menyaksikan ’running text’ lowongan reporter disebuah stasiun televisi lokal di semarang.
”Akhirnya coba-coba masukin dan lolos. Tapi pertama magang dulu selama 3 bulan,” kata Sri
Meski berat, Sri mendukung pekerjaan baru Eko. Menjadi wartawan televisi yang wilayah liputannya di daerah kabupaten Semarang dan sekitarnya
Eko mulain masuk di Kabupaten Semarang saat liputan arus mudik di wilayah hukum Polres Semarang. Sebagai orang ’baru’, bisa dibilang Eko cukup gesit.
"Agenda apa Bos," itulah SMS yang sering ia kirim kepada saya. Ia bergerak cepat jika ada berita menarik,” Ucap syukron, wartawan elshinta.
Pekerjaan sebagai wartawan memang tidak menjanjikan. Namun pekerjaan itu ia tekuni.Ada kebanggaan tersendiri. ” Seneng kalau liat berita dari kabupaten, itu pasti beritanya mas Eko,” kata Sri.
Kini dengan keterbatasannya, ia mengaku belum memiliki rencana kedepan. Keinginannya untuk terus menjadi seorang ’kuli tinta’ akan terhambat. ”Belum tahu, liat kondisi nanti gimana,” ucap Eko lirih.
Senior
Berbeda dengan Eko, Koresponden SCTV, Yudhi Sutomo bisa dibilang wartawan senior yang sudah cukup lama malang melintang di dunia kewartawanan di Jawa tengah. Hampir semua wilayah telah dijelajahi. Sebelum bertugas di kabupaten Semarang dan sekitarnya pertengahan tahun lalu, selama 12 bulan terakhir, ia bertugas di wilayah pantura timur Demak, Kudus, Pati, Jepara, Grobogan, Blora, Rembang.
Pengagum Freddy Mercury dan Michael Jakson ini dikenal sebagai sosok yang religius, pendiam dan cerdas. ”Yudhi saya kenal sebagai sosok yang dewasa, bicara hanya hal yang penting saja. Ia juga kreatif dan cerdas, dengan hasil gambar yang ia ambil meski kadang sederhana, ia mampu membuat narasi yang bagus, hingga beritanya tak pernah ditolak oleh redaksi,” kenang M.Syukron yang tiap hari selalu mendapat pesan singkat dari Yudhi menanyakan agenda liputan.
Jauh dari keluarga dan anak-anak menjadi resiko yang harus di jalani.
Kerinduan dan ekspresi kecintaan terhadap buah hatinya seringkali terucap lewat situs jejaring sosial Facebook miliknya. Berkali-kali tertulis keinginannya untuk membahagiakan anak-anaknya.
”Saya sedang memikirkan kerjaan saya,dan saya ingin membahagiakan anak-anak saya. saya juga punya gaya hidup yang unik llllloooooo...... saya kerja banting tulang dan sukanya nangiiiisss melulu.Namanya Syadilla,Icha Andro,” begitu yang tertulis di facebook miliknya.
Khabar kecelakaan yang merenggut nyawa Yudhi sangat mengejutkan rekan-rekan wartawan yang mengenalnya. Semua kenangan baik dengan almarhum tergambar di situs facebook Yudhi.
Kini Yudhi telah berpulang. Ia meninggalkan istri dan dua anak yang masih kecil-kecil. Anak pertamanya kini masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.
Ini menulis pesan terakhir yang tertulis di Facebooknya pada pukul 23.11 WIB kepada buah hatinya ”jangan tidur dulu tunggu papa......(Non)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar