Suara canda tawa anak-anak terdengar dari rumah bercat putih di kawasan Kumudasmoro Bongsari Semarang, minggu (21/2) siang. Di rumah orang tuanya inilah Fitri biasa menghabiskan waktu libur bersama keluarga besar.
Tak ada yang mengenal Fitri Cahyaningsih (33) sebelumnya, hingga pekan lalu keberaniannya membuat ia menjadi bahan pembicaraan dibanyak media. Fitri mengadu ke gedung berlian karena merasa mendapat diskriminasi ditempatnya bekerja.
”Ga kepikiran bakalan kerja di rumah sakit,” kenang Fitri mulai menceritakan awal meniti karir di rumah sakit yang mendapat sertifikat ISO 9001:2008 dari badan sertifikasi ISO 9001 yang dikeluarkan VNZ New Zealand itu.
Pun tidak ada prestasi yang menonjol dari perempuan yang hidup di lingkungan yang cukup religius ini. Perjalanan hidup ibu dari Aylia Mahrensha (11) dan Alvina Mahaswara (7) sebenarnya terbilang lurus-lurus saja.
Setelah lulus dari sekolah kejuruan di kawasan Semarang Timur, Fitri memilih bekerja ketimbang melanjutkan studi yang lebih tinggi. Keinginan mandiri dan tidak bergantung dengan orang tua maupun saudaranya membuat Fitri mengambil keputusan itu.
”Tidak mau merepotkan, apalagi kami ini kan orang kecil. Jadi saya milih kerja saja, padahal waktu itu diterima tes PMDK di IKIP” katanya.
Sekolah kejuruan ternyata memberinya bekal dan peluang untuk mendapatkan kerja lebih cepat. Ia pun menyebar surat lamaran ke beberapa perusahaan dan tempat yang membutuhkan.
Toko roti, menjadi tempat Fitri mengawali hidup mandirinya. Ia juga sempat berpindah ke beberapa toko roti di Semarang. ”Kirim lamaran kemana-mana. Waktu itu sering berpindah kerjaan..ya buat pengalaman, mumpung masih muda,” ujar Fitri.
Hingga akhirnya surat panggilan tes dari rumah sakit Telogorejo Semarang datang 13 tahun yang lalu. Satu dari sekian banyak surat lamaran yang disebar Fitri waktu itu.
”Lamaran itu udah lama, dulu ngelamarnya ya dibagian gizi. Ternyata dipanggil dan dites lolos. Tiga bulan training langsung jadi karyawan,”
Fitri tidak perlu melewati masa kontrak.Waktu itu, rumah sakit tempatnya bekerja belum sebesar sekarang, jadi proses menjadi karyawan jauh lebih mudah.
Tidak ada yang istimewa menjalani pekerjaan di bagian gizi yang kesehariannya berkutat dengan makanan pasien. Bahkan tak banyak yang tahu seperti apa pekerjaan di bagian gizi disebuah rumah sakit.
Fitri menggambarkan kesehariannya yang dilakoni sejak pukul 7 pagi hingga pukul 2 siang. Setiap hari kesibukannya diawali dengan membuka buku besar untuk mengecek jadwal dan daftar makanan seluruh pasien di ruang Cempaka rumah sakit Telogorejo, sebelum mengambilnya dari dapur besar. Daftar pasien dan menu makanan yang kadang selalu berbeda setiap harinya.
”Sepertinya sepele tapi agak njelimet jadi butuh ketelitian. Bahkan yang sudah bekerja beberapa tahunpun kadang masih sering mengalami kesulitan. Harus menyiapkan makanan 30 sampai 40 pasien dengan menu berbeda setiap hari.”
Ketelitian dan kesabarannya ia peroleh sewaktu ia bekerja di bakery. ”Dulu kan kerjanya dibagian hias kue tart, jadi musti sabar n telaten,”ujar Fitri.
Pekerjaannya itupun membuat ia selalu berinteraksi dengan pasien. Menghadapi pasien dengan berbagai macam karakter pun sudah biasa. ”Biasa, ada yang curhat atau komplain soal makanan, tapi itu standar yang harus diberikan jadi kita harus memberikan pengertian,” tambahnya.
*****
Sekitar 4 tahun yang lalu Fitri mulai mengenakan kerudung. ”Alhamdulillah mendapat hidayah,” ingat Fitri.
Tapi meskipun telah merubah penampilan menjadi lebih islami, Fitri terpaksa harus melepas kerudungnya saat bekerja.
“ Bongkar pasang jilbab karena di tempat tugas saya harus lepas jilbab. Banyak kok teman-teman yang seperti itu, bahkan jauh sebelum saya pakai,” akunya.
Awalnya menurut Fitri biasa saja, terlebih banyak juga teman-teman melakukan hal yang sama. ”Enggak apa-apa, kerja kan juga ibadah,”
Seiring dengan semakin kuatnya keimanan dan teguran beberapa orang yang mengenalnya melihat ia melepas kerudung saat bekerja membuatnya jengah. Hingga akhirnya, awal tahu lalu ia membulatkan tekad dan meminta izin menggenakan jilbab ketika bertugas.
Ini awal Fitri berpolemik dengan manajemen tempatnya bekerja.”Pakai jilbab kok di bongkar pasang, seperti main-main, makanya saya ijin tapi ditolak,” kata Fitri.
Fitri berkali kali dipanggil manajemen rumah sakit dan dilarang bertugas. ”Selama 3 minggu itu enggak ngapa-ngapain. Setiap datang, saya hanya duduk di teras house keeping. Sampe saya cari kesibukan, baca buku-buku agama. Bacaan itu yang menguatkan dan anggap ini cobaan, pakai jilbab juga tidak mengurangi kualitas kerjaan saya,”
Sampai akhirnya pihak keluarga memberi jalan untuk mengadukan nasibnya kepada wakil rakyat di DPRD. ”Waktu itu saya ga tahu musti ngadu kemana, namanya juga orang kecil,” alasan Fitri, hanya ingin kejelasan dengan segala resiko yang akan ditanggungnya nanti.
Kini Fitri sudah kembali dengan rutinitas semula, plus dengan mengenakan jilbab. Namun begitu ia masih menunggu kejelasan aturan boleh atau tidaknya memakai jilbab di lingkungan kerja dari pihak RS Telogorejo.
”Saya pasrah saja nanti keputusannya seperti apa, yang terpenting saya sudah membulatkan tekad dengan keyakinan saya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk saya dan teman lainnya yang juga berjilbab ”harap Fitri mengakhiri pembicaraan.(Non)
******
Dirut RS Telogorejo, Imelda Tandiyo :
Sebagai institusi layanan kesehatan, tujuan yang utama meningkatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Sehingga semua kebijakan yang diterapkan dirumah sakit selalu berkaitan dengan kepentingan pasien, ungkap direktur utama RS. Telogorejo Semarang Imelda Tandiyo.
”Ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antar manajemen dengan serikat pekerja, diantaranya keharusan berpenampilan sesuai standar penampilan RS Telogorejo, seperti larangan penggunaan tutup kepala,”
Kesepakatan itu biasanya ditandatangani saat kali pertama masuk bekerja, baik oleh perusahaan maupun karyawan. ”Jadi ini sudah menjadi kesepakatan bersama maka harus dihormati,’’ katanya.
Menurutnya, karyawan yang tidak mematuhi aturan itu dianggap sebagai bentuk pelanggaran yang diterapkan secara internal. Seperti halnya dengan Fitri Cahyaningsih.
”Menurut PKB, yang melanggar harus ditindak tegas. Kalau tidak, akan muncul protes yang lainnya. Dalam kasus Fitri kami masih memberikan kelonggaran, tidak menon-jobkan. Hanya dipindah ke bagian administrasi,’’ tutur Imelda Tandiyo, saat dengar pendapat dengan komisi E DPRD Jateng, Jumat (19/2).
Pemindahan sementara itu katanya dilakukan hingga permasalahan selesai ditindaklanjuti pihak yayasan. Namun imbuhnya, Fitri justru mengadu ke DPRD Jateng sebelum masalahnya tuntas.
”Per-tanggal 17 Februari, masalah ini diambil alih yayasan. Fitri juga dikembalikan pada pekerjaannya semula”
Untuk mencari solusi terbaik, pihaknya akan konsultasi ke Departemen Kesehatan mengenai standarisasi atribut tenaga kesehatan pada saat bertugas.
‘’Perawat, tenaga medis maupun dokter aturannya banyak sekali. Seperti pakaian tidak boleh panjang selengan, tak boleh mengenakan jam tangan,”
Pelarangan itu menurutnya, supaya tidak membawa kuman penyakit yang bisa berakibat fatal pada pasien. ”Banyak pertimbangan kesehatan dalam melayani pasien.’’ tandasnya.(Non)
******
KH. Syamsul Maarif
Koordinator Forkagama
Masalah yang menyangkut SARA menjadi hal yang sensitif dalam kehidupan masyarakat, sehingga polemik yang terkait hal itu harus secepatnya di redam dan tidak berbuntut panjang.
Hal ini diungkapkan Koordinator Forkagama (Forum Komunikasi Antarumat Beragama) Semarang, KH. Syamsul Maarif menangapi permasalahan yang terjadi antara pihak manajemen rumah sakit Telogorejo dengan salah satu karyawannya, terkait aturan pelarangan penggunaan penutup kepala seperti jilbab.
Menurutnya, penyelesaian masalah tersebut harus dilihat dari beberapa perspektif, baik secara hukum, keimanan, maupun psikologis.
”Jadi ada keseimbangan, karena pada dasarnya sebagai pelayan publik tidak membedakan. Hubungan manajemen dengan karyawan sama seperti halnya ketika rumahsakit menerima pasien. Tidak ada diskriminasi,” katanya.
Jika mengacu UU Ketenagakerjaan, secara hukum memang tidak ada yang bisa dijadikan landasan untuk melarang menggunakan jilbab. Ketika dikonfirmasi, katanya pihak manajemenpun secara eksplisit tidak melarang hal itu.
”Harus ada kejelasan, sehingga tidak muncul Fitri-Fitri yang lain,” tambahnya.(Non)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar