Rosa Darwanti,SH.MSi
-Ketua Tim Penggerak PKK Kota Salatiga-
Melelahkan tapi menyenangkan. Itulah kesan yang dirasakan Rosa Darwanti (54), sebagai ketua tim penggerak PKK Kota Salatiga.
”Sangat melelahkan untuk memotivasi dan mengajak orang melakukan pekerjaan sosial,” ujar istri orang nomor satu di Kota Salatiga ini mengaku, ketika seringkali kesulitan melakukan pengkaderan pengurus dan anggota Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang dipimpinnya.
Menurutnya, saat ini PKK masih dikonotasikan bahwa organisasi ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang tua, ajang ”kumpul-kumpul” dan arisan saja. Padahal anggapan itu salah besar. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan keluarga bahagia, sejahtera, maju dan mandiri seperti yang tertuang dalam 10 Program Pokok PKK.
Karena itu untuk menghilangkan banyak anggapan miring, perempuan yang aktif di banyak organisasi ini rela terjun langsung hingga ke tingkat paling bawah seperti PKK di RT.
”Terkadang punya pemikiran lebih jauh kedepan, tapi repotnya jika tidak diimbangi dengan kader lain,”
Terlebih lagi ada kecenderungan, organisasi dapat berjalan jika didukung sarana dan prasarana. Sebelum era reformasi sangat mudah untuk menjalankan program karena di sokong kalangan birokrasi.
”Sekarang semua tergantung ketua, jadi kadang ”tombok”, tapi menyenangkan. Karena itu yang bertahan dan aktif ya hanya orang-orang yang senang,” kata ibu tiga anak ini.
Di tangan perempuan yang terjun di dunia politik sebagai Ketua Badan Legeslatif DPRD Kota Salatiga 2009-2014 dan Wakil ketua DPD Partai Golkar ini, PKK Kota Salatiga sendiri mempunyai 4 program unggulan yang dilaksanakan bersinergi dengan program yang sudah dicanangkan PKK pusat. Diantaranya Penyediaan Posyandu Lansia di tingkat RW dan senam tera yang kini telah memiliki 45 sasana yang tersebar di 4 kecamatan.
Program kedua, mendirikan Taman Bacaan Mini (TBM). Sebagai tindak lanjut dari program gemar membaca yang dicanangkan PKK pusat. Ia mentargetkan di tiap kelurahan sudah tersedia layanan ini.
Ketiga, program Lingkungan Bersih Sehat (LBS). Program ini dilaksanakan sebagai komitmen untuk menjadikan Kota Salatiga menjadi kota yang bersih dan nyaman. Untuk mendukung program tersebut juga dibentuk Forum Kota Salatiga Sehat (FKSS). Ia juga sebagai ketua. Dan yang terakhir adalah Pengentasan Gizi Buruk.
Kerja keras mewujudkan program unggulan ini dapat dilihat dari sejumlah prestasi dan penghargaan yang digondol Kota Salatiga baik di tingkat kota, propinsi hingga nasional. Diantaranya juara 2 lomba Bayi Sehat, juara 2 lomba Cipta Menu dan juara harapan 1 lomba Cipta Batik di tingkat propinsi.
Penghargaan yang paling membanggakan ditahun 2009 saat Kota Salatiga diganjar ”Swasti Saba ”. Predikat sebagai kota sehat di Indonesia oleh Depertemen Kesehatan RI.
Menurutnya, Kota Salatiga satu-satunya kota di Jateng yang mendapat penghargaan itu. ”Prestasi ini juga tidak lepas dari peran masyarakat,”,” kata Rosa yang juga menjadi pengajar di Kampus Biru STIE ”AMA” Salatiga.
Ia menambahkan, sebenarnya, tujannya tidak berlebihan untuk mencari penghargaan di tingkat nasional misalnya, tapi lebih termotivasi ingin menumbuhkan kesadaran warga untuk bersih.
Kini semangat Rosa pun menular di tubuh kader PKK dibawahnya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya inisiatif warga di 4 kecamatan yakni kecamatan Argomulyo, Tingkir, Sidorejo dan Sidomukti untuk mengembangkan potensi yang ada di desanya. Seperti
pengembangan diversifikasi pangan dengan mengolah makanan non-beras. Seperti mengolah pelepah pisang, daun nangka untuk dijadikan aneka masakan.
Juga menggelar berbagai kegiatan dan perlombaan yang disesuaikan dengan momen, seperti hari kartini, lomba senam tera masal, lomba masak.
Setiap program butuh dukungan sarana dan prasarana. Karena itu selain partisipasi masyarakat, perempuan kelahiran Solo ini juga punya kiat jitu agar program-program unggulan dapat terealisasi.
” Selain tokoh-tokoh masyarakat, istri kepala dinas juga dilibatkan . Karena kalo tergantung saya ya repot, saya kan tidak bisa bekerja sendiri. Jadi harus saling dukung untuk kepentingan bersama,”
Banyaknya pengangguran di Kota Salatiga juga menjadi keprihatinan tersendiri bagi perempuan yang mengaku tidak bisa diam ini.
”Notabenenya saya juga istri walikota. Jadi apa yang saya lakukan tidak ada ”gong” nya kan malu dengan masyarakat. Jadi harus selalu ada gebrakan,”
Terobosan terbaru yang baru dilakukan tahun lalu adalah pembinaan terhadap para pengangguran dikotanya dengan melibatkan Dinas Tenaga Kerja Kota Salatiga.
”Pengangguran didata kemudian dikumpulkan dan diberi pelatihan ketrampilan singkat seperti pelatihan bengkel, rias, teknisi, atau boga,”
Mereka di kursuskan di Lembaga Pendidikan Ketrampilan LPK secara gratis yang nantinya disalurkan ke bidang pekerjaan yang sesuai. Mereka juga diharapkan
dapat menciptakan lapangan kerja sendiri.
Selain itu juga sejalan dengan dengan seruan presiden untuk menggali potensi budaya lokal. Meski tidak memiliki sejarah batik, Salatiga mulai mengembangkan batik Plumpungan. Watu rumpuk di Plumpungan selama ini menjadi ikon kota Salatiga dijadikan ciri khas batik asal Salatiga.
”Kita mulai perkenalkan batik Plumpungan lewat pameran dan promosi di tingkat propinsi maupun nasional, atau kita kenalkan pada tamu dari luar kota maupun luar daerah yang datang,”
Meski mempunyai kesibukan yang luar biasa padat sebagai Ketua di beberapa organisasi kemasyarakatan, terjun ke dunia politik dan mendampingi John W. Manoppo sebagai istri walikota, perempuan yang masih nampak segar dan cantik tetap mempriorioritaskan perannya sebagai ibu dari Retsi Imagodei Manoppo (26), Gloria Bernadine Manoppo(23) dan Riliasari Geraldine Manoppo (15).
”Tidak ada kata mama sibuk, biasanya saya jam 2-3 sore pasti sudah ada di rumah, kecuali ada agenda tertentu seperti mendampingi suami sebagai orang nomor satu di kota salatiga.
Besar dari lingkungan ABRI membiasakan perempuan yang punya hobi makan sebagai sosok yang mandiri apalagi ia anak tunggal. Dan kemandirian itu diterapkan kepada 3 anaknya. Bahkan ia mengaku tidak begitu menyukai protokoler kecuali acara resmi. Ia juga lebih suka bepergian sendiri tanpa pengawal. ”Saya biasa pergi kemana-mana sendiri dan nyetir sendiri”
Ia juga menjaga komunikasi yang intens dengan ketiga buah hatinya. Lantas bagaimana jika kebetulan kegiatan yang harus dihadiri bersamaan.
”Mana yang prioritas pasti saya dahulukan. Memang berat, jangan dibayangkan tapi dijalani saja,”tandasnya
Satu tahun terakhir menjelang habis masa kepengurusan sebagai ketua, ia berharap semua program tercapai. ”Target LBS dan Taman baca harus tercapai.Jadi kalau pensiun harus ada kenang-kenangan,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebelum mengakhiri obrolannya dengan Cempaka sore itu di rumah dinas walikota di Jalan Diponegoro Salatiga, Rosa berbagi resep rahasia keberhasilannya melakukan berbagai aktifitasnya saat ini.
”Semua ini berkah, jadi enjoy melakukan semuanya meskipun ada masalah, dan syukuri apapun yang diberikan pada Tuhan,” tandas perempuan berkacamata ini. (Non)
-Tabloid Cempaka-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar