dr. Nur Farhanah
-Kisah satu dari segelintir relawan perempuan Indonesia di Gaza-
Tidak pernah terbayang sebelumnya akan menginjakkan kaki di Gaza, Palestina. Angan-angan yang selama ini hanya ada dimimpi menjadi kenyataan. Bersama tim relawan Mer-C, menjalankan misi kemanusiaan menjadi relawan medis di negara konflik itu. Dr. Nur Farhanah, membagi pengalamannya kepada KARTINI
Tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina telah menyentakkan hati dr. Nur Farhanah. Terlebih lagi setelah ia tahu kekejaman Israel dari televisi dan buku-buku soal konflik yang terjadi di tanah yang dijanjikan itu.
Siapa sangka perempuan kalem berusia 38 tahun ini punya tekad sangat kuat. Bahkan tekadnya telah tersimpan dalam angan-angan dan mimpi bisa menginjakkan kaki di bumi syuhada Palestina. Dengan satu tujuan. Jihad Fii sabilillah.
Jalan menuju Palestina itu terbuka ketika suatu hari di bulan Januari 2009, suaminya dr. Abdul Mughni mendapat kesempatan bergabung menjadi relawan medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis. Suaminya akan diberangkatkan ke Palestina.
Bak gayung bersambut, tanpa pikir panjang, Nur Farhanah menyatakan keinginannya. Ikut menjadi relawan. Padahal Ia tahu bahwa perempuan sangat tidak memungkinkan untuk diberangkatkan. Alasannya, karena faktor keselamatan dan sebelumnya belum punya pengalaman.
Akhirnya keinginannya disampaikan Ketua Presidium Mer-C dr. Jose Rizal Jurnalis yang saat itu masih berada di Mesir.
Setengah jam yang menegangkan menunggu persetujuan dr. Jose Rizal berakhir dengan cucuran air mata bahagia. Ia bisa bergabung dengan tim lanjutan menggantikan tim 1 yang sudah bertugas 2 bulan di Palestina. ”Memang sudah jalannya, semua seperti dipermudah,” akunya.
Meski sebelumnya tidak mudah meyakinkan suami dan keluarga besar. Nur Farhanah merasa menjadi salah satu orang yang beruntung bisa pergi ke Palestina, karena tidak semua orang bisa kesana.
Ia bahkan merasa kepergiannya menjadi relawan medis seperti sudah dipersiapkan Allah. Pasalnya kepengurusan administrasi paspor dan visa yang biasanya sangat lama, bisa diselesaikan dalam waktu beberapa hari saja. Ia dan suami hanya butuh persiapan selama 5 hari menuju Palestina
”Urus pasport cuman 6 jam bisa selesai, bahkan dapat rekomendasi dari pihak imigrasi,”
Tanggal 24 januari 2009 Nur Farhanah bersama suami berangkat ke Palestina. Dan empat orang lainnya yang tergabung dalam tim medis Mer-C, yakni dr. Arief Rachman, dr. Dany Kurniadi Ramdhan, Abdillah Onim dan Bambang.
Tenang dan pasti. Kepergiannya di iringi seluruh keluarga besar. ”Mereka ikhlas mengantar saya, seperti seolah-olah mengantar kematian yang terencana,” kenangnya.
Bahkan Ia sempat membuat surat wasiat jika tidak kembali ke tanah air.
Meski semua dokumen lengkap, ternyata tidak semudah membalikkan tangan menjangkau Palestina. Berbagai pemeriksaaan ketat sejak di bandara pun dilalui.
Ia bersama tim harus bersabar agar bisa melewati perbatasan yang menghubungkan antara Mesir dan Palestina. Menunggu tiap siang hingga sore di perbatasan yang ditutup rapat dengan pintu besi dan dijaga ketat sampai diijinkan untuk masuk.
Musim dingin yang menusuk tulang dan suara dentuman bom serta pesawat tempur seperti menyambut kedatangan dan ingin mengingatkan untuk tetap waspada. Akhirnya setelah 3 hari menanti, tim berhasil melewati perbatasan. Tentunya dengan prosedur yang sangat ribet.
Semua yang memasuki perbatasan harus menandatangani beberapa lembar surat pernyataan yang berisi ”Tidak akan menuntut pihak manapun jika terjadi sesuatu”.
Barang bawaan berupa tas ransel seberat 80 liter berisi pakaian, kebutuhan pribadi dan alat medis dipanggul sendiri.
”Kami sudah tidak memikirkan hal itu, karena tekad sudah bulat.” lanjutnya.
Memasuki kawasan Palestina harus ekstra hati-hati karena tidak tahu mana kawan dan mana lawan. Tim juga dilarang keras untuk bepergian sendirian, karena dikhawatirkan menjadi sasaran tembak pasukan Israel. ”Kalau salah omong bisa fatal.” ungkapnya.
Banyak hal yang mengharukan dan memilukan selama perjalanan lebih kurang 45 menit dengan bus menuju Gaza.
Sisa-sisa kekejaman Israel tergambar jelas didepan matanya. Daerah subur dimana sepanjang jalan penuh dengan kebun buah jeruk dan apel rusak. Tidak hanya itu, jejak-jejak kekerasan nyata terlihat dipanjang perjalanan. Gedung-gedung, rumah , masjid dan sekolah hancur akibat di bom.
”Tapi kami disambut hangat warga Palestina. Mereka lebih ramah dibandingkan orang Mesir yang bertampang sangar. Itu cukup melegakan,” ujar perempuan kalem ini.
Mereka menganggap sebagai saudara dan senang dengan orang-orang dari segala penjuru dunia yang datang untuk membantu.
Selama di Gaza, tim medis berada di Rumah Sakit Asy-Syfa, rumah sakit terbesar di Gaza yang juga menampung seluruh relawan dari penjuru dunia. Ini menjadi rumah sakit pusat bagi korban perang maupun sakit lainnya.
Menjadi relawan tenaga medis di bidang internist atau penyakit dalam sedikit menguntungkan, karena pasien yang ditangani tidak berkaitan langsung dengan korban perang. Pasiennya sebagian besar adalah pasien gagal ginjal atau jantung
Meskpun begitu, ia tetap saja harus waspada karena seluruh gerak geriknya selalu diawasi dan dipantau.
”Tengah malam kamar kami digedor orang tak dikenal yang mencari dan mencurigai sesuatu,” cerita Farhanah.
Sambil menyorongkan senjata mereka seperti tengah mencari sesuatu di kamar. Waktu itu ia sekamar dengan dua orang relawan perempuan lain asal Indonesia, namun mereka hanya beberapa hari di Palestina dan kembali ke Indonesia lagi.
”Jantung rasanya mo copot mendengar suara sepatu boot mereka. Dua malam berturut-turut mereka menggedor pintu kamar,”
Entah apa yang mereka cari. Nur farhanah juga tidak pernah tahu.
Desingan peluru, bom dan getaran di seluruh bangunan rumah sakit karena bom, menjadi pemandangan sehari-hari.
Menurutnya, ini pengalaman yang paling menakutkan, selama berada di Gaza. Meski ia melihat warga Palestina dan anak-anak nampak biasa saya menyaksikan hal itu. Bahkan anak-anak masih sempat terlihat bergerombol menuju sekolah untuk belajar.
”Ironis sekali,” kata farhanah.
Satu minggu kemudian tim mendapat kabar bahwa perbatasan akan ditutup dan relawan harus segera keluar. Akhirnya diputuskan Ia dan suami keluar, sementara empat orang lainnya memilih bertahan. Prosedur kepulangan-pun tak kalah sulit seperti ketika masuk Palestina.
Buat Nur Farhanah ini adalah perjalanan spiritual yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, bahkan kadang masih tidak percaya bisa sampai di Palestina. ” Kok bisa sampai disana, bener ga ya...kayak mimpi,” akunya sambil menerawang.
Niat Jihad
Sebelum berangkat ke Palestina, Nur Farhanah dan suami mempunyai karir dan penghidupan yang mapan di kota Sukabumi. Keduanya bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit swasta di kota itu. Suami spesialis bedah sedangkan ia spesialis penyakit dalam.
Namun , semua itu ditinggalkan ketika tekad menuju Palestina di depan mata. ”Pihak rumah sakit tidak mengijikan kami pergi. Jadi kami memilih keluar”.
Keduanya juga tidak memikirkan akan menjadi pengangguran sepulang dari Palestina, yang direncanakan selama 2 bulan.
Pertaruhan masa depan demi misi kemanusiaan pun mereka jalankan. Terlebih lagi sejak dulu Nur Farhanah memendam keinginan untuk pergi ke Palestina. Selain Mekkah dan Madinah.
”Mungkin aneh ya..cita-cita kok ke Palestina, bukan ke Perancis atau Inggris”
Tapi keyakinan kuat selalu melekat pada dirinya. Pasti ada kesempatan ke Palestina jika punya keinginan.
Nur Farhanah selalu menganggap tanah Palestina punya keistimewaan.
”Secara nalar ga mungkin saya bisa kesana,”
Ketika Mimpi Menjadi Nyata
Alangkah indahnya ketika mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Mungkin ini yang dirasakan Nur Farhanah.
Keberangkatan ke Palestina sudah diimpikan sejak lama. Motivasinya hanya satu. Ingin berjihad di jalan Allah. Terlebih lagi ketika tahu tragedi perang Palestina akibat kekejaman tentara Israel.
Impian itu seperti melekat terus dalam benaknya. Bahkan seminggu sebelum keberangkatannya ke Palestina, ia sempat bermimpi.
”Saya mimpi berangkat ke Palestina dan merasa mencium tanah Palestina.” Namun mimpi itu tidak pernah ia sampaikan kepada siapapun, termasuk kepada suami. Hingga seminggu kemudian ia benar-benar pergi ke Palestina.
”Ketika sampai di Palestina, saya mencium bau tanah seperti apa yang ada dalam mimpiku waktu itu,”
Bagi Nur farhanah perjalanan ke Parlestina dianggapnya sebagai ujian ke ilmuan dan ujian pribadi
Solidaritas mereka juga sangat tinggi. Meski mereka berada dalam kekurangan, mereka selalu berbagi dan bersedekah.
”Saya masih ingat, ada anak Palestina yang tiap sore selalu membeli teh untuk saya. Padahal ia tidak punya uang,”
Kepulangan dari Palestina membawa hikmah yang luar biasa bagi Nur Farhanah dan suami. Tidak sempat menjadi pengangguran, keduanya diterima menjadi pegawai negeri sipil di Universitas Diponegoro Semarang sebagai staf pengajar. Selain mengasuh putra pertama yang baru berusia satu tahun, kesehariannya dihabiskan bersama mahasiswa dan menangani pasein di rumah sakit umum dr. Kariadi Semarang.
”Saya berhasil menjalani ujian dari Allah, banyak sekali hikmah yang saya ambil dari Palestina”
-Majalah Mingguan Kartini-
BIODATA
Nama : Nur Farhanah
Lahir : Jerman, 7 April 1972
Suami : Abdul Mughni
Anak : Dafa M Farhan (1 tahun)
Pendidikan : Spesialis Penyakit dalam FK Undip Semarang
Kerja : Staf Sub bagian Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian Ilmu Penyakit
Dalam FK Undip / RSUP Dr. Kariadi Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar